Isu Puncak Manggar Tutup Bikin Sedih Warga, Ferdi Berharap Swalayan Legendaris Tetap Bertahan
Asmadi Pandapotan Siregar June 19, 2026 06:36 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Mengenakan kaos oblong dan celana pendek, Ferdi (30) tampak berjalan santai bersama istri dan anaknya di sela-sela rak Toserba Puncak Manggar, Kabupaten Belitung Timur ( Beltim ), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ( Babel ), Jumat (19/6/2026). Sesekali tangannya memilih sandal dan mainan anak yang sedang mendapat potongan harga besar-besaran.

Warga Desa Sukamandi, Kecamatan Damar itu sengaja datang ke Puncak Manggar setelah mendengar kabar yang ramai beredar di media sosial mengenai isu penutupan swalayan tersebut.

Bagi Ferdi, kedatangan kali ini membawa kesan emosional yang berbeda dibandingkan kunjungan-kunjungan pada hari biasa.

"Awalnya saya tahu dari konten di Facebook, katanya Puncak Manggar ini mau tutup dalam waktu dekat. Karena penasaran, saya langsung datang ke sini," ujar Ferdi kepada Posbelitung.co, Jumat (19/6/2026). 

Ferdi mengaku kabar tersebut sempat membuat dirinya terkejut sekaligus tidak percaya. Bagaimana tidak, Puncak memiliki memori yang membekas dalam ingatan Ferdi. 

Oleh karena itu, Ferditidak ingin melewatkan kesempatan hari ini. Apalagi fakta bahwa Puncak sedang melakukan potongan harga besar-besaran di momen ini.

Ferdi pun memasukkan beberapa pasang sandal jepit dan mainan mobil-mobilan untuk sang anaknya ke dalam keranjang.

Baca juga: Isu Swalayan Pertama di Beltim Berhenti Beroperasi, Toro: Kami Masih Menunggu Instruksi Pusat

"Ya, lumayanlah mumpung harganya diskon sampai 50 persen. Tertarik lihat-lihat, kalau ada yang cocok dan sesuai selera, ya dibeli untuk anak," katanya.

Namun, Ferdi tetap saja sedih apabila ritel modern pertama di Beltim ini benar-benar harus berhenti beroperasi.

"Tentu rasanya sedih sekali kalau sampai tempat ini tutup. Puncak ini kan bisa dikatakan sebagai supermarket pertama yang ada di Belitung Timur. Sebelum ada Asoka atau Babel Mart, Puncak ini yang pertama berdiri," ungkapnya.

Ferdi menceritakan bahwa dirinya sangat sering berkunjung ke Puncak Manggar sejak dulu.

Meskipun tidak selalu belanja dalam jumlah banyak, keberadaan Puncak sudah menjadi bagian penting dari gaya hidup masyarakat daerah.

"Kalau dari kecil banget sih enggak, tapi memang tergolong seringlah main ke sini. Sering datang cuma untuk lihat-lihat baju atau sekadar cuci mata," katanya.

Ferdi tentunya sangat menginginkan swalayan ini tetap bertahan dan tidak gulung tikar.

Akan tetapi, Ferdi memberikan catatan penting bagi manajemen toko. Menurutnya, pihak pengelola sudah saatnya melakukan pembaruan atau peningkatan agar tidak ditinggalkan oleh pelanggan setia.

"Harapan saya jangan sampai tutup, sayang sekali. Tapi memang barang-barangnya harus di-upgrade lagi. Barang-barang lama diganti dengan model-model baru yang lebih modern," sarannya. 

Ferdi mengatakan penurunan minat belanja masyarakat ke toko terjadi karena derasnya gempuran pasar digital seperti e-commerce. 

Pasar digital dinilai menawarkan variasi pilihan yang jauh lebih banyak dan kekinian. Hal itulah yang membuat toko offline mulai sepi peminat.

"Sekarang orang lebih banyak membeli lewat online karena pilihan model bajunya lebih banyak. Toko konvensional seperti ini akhirnya kurang peminatnya, karena masyarakat sudah lari ke online semua," paparnya. 

Meskipun status operasional Puncak Manggar saat ini masih mengambang dan menunggu keputusan dari manajemen pusat, Ferdi tetap menaruh harapan.

Jika masih bertahan, Ferdi berharap tempat ini dapat dikembangkan jauh lebih menarik agar mampu bersaing. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.