Pengamat: Pembangunan Industri Lampung Bertumpu Hilirisasi Komoditas Pertanian    
soni yuntavia June 19, 2026 08:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Arah pembangunan industri di Provinsi Lampung ke depan diproyeksikan akan bertumpu pada penguatan hilirisasi komoditas pertanian dan pangan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Baca juga: Ekspor Tapioka ke Cina, Gubernur Sebut Hilirisasi Pertanian di Lampung Berbuah Positif 

Peneliti Pusat Studi Mekatronika dan Otomatisasi (PSMO) sekaligus Sekretaris Program Studi Teknik Mesin Universitas Bandar Lampung (UBL), Muhammad Riza, mengatakan strategi hilirisasi yang dikembangkan di Lampung berbeda dengan sejumlah daerah lain di Indonesia yang berfokus pada sektor pertambangan.

Menurutnya, Lampung lebih diarahkan menjadi pusat hilirisasi berbasis agroindustri karena sebagian besar komoditas unggulan daerah masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diperoleh daerah masih relatif rendah.

"Jika melihat dokumen perencanaan kawasan industri, arah kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung, posisi geografis Lampung sebagai gerbang Sumatera, serta tren nasional hilirisasi yang menjadi prioritas pemerintah pusat, maka fokus utama Lampung adalah hilirisasi agroindustri dan pangan," kata Muhammad Riza, Jumat (19/6/2026).

Ia menjelaskan sejumlah komoditas strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi antara lain singkong, jagung, kopi, kakao, karet, kelapa sawit, peternakan ayam, hingga sektor perikanan.

Untuk komoditas singkong, misalnya, dapat dikembangkan menjadi produk turunan seperti tapioka, modified starch, bioetanol, hingga bioplastik.

Sementara jagung berpotensi diolah menjadi bahan baku pakan ternak, industri pangan, maupun bioenergi.

Komoditas kopi juga dinilai memiliki peluang besar untuk menghasilkan nilai tambah melalui produk roasted coffee, ekstrak kopi, dan berbagai produk premium lainnya.

Begitu pula kakao yang dapat diolah menjadi cocoa powder, cocoa butter, hingga produk cokelat siap konsumsi.

Selain agroindustri, Muhammad Riza menegaskan pembangunan industri Lampung tidak hanya diarahkan pada sektor energi terbarukan.

Menurutnya, terdapat tiga pilar utama yang akan menjadi penggerak pembangunan industri Lampung, yakni hilirisasi agroindustri, pengembangan energi dan energi terbarukan, serta industri logistik dan manufaktur.

"Hilirisasi agroindustri tetap menjadi prioritas utama karena kontribusi sektor pertanian terhadap ekonomi Lampung masih sangat dominan," ujarnya.

Di sektor energi, Lampung memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari panas bumi di kawasan Rajabasa, Suoh, dan Gunung Tiga, biomassa dari limbah pertanian, bioetanol berbasis singkong, biodiesel berbasis kelapa sawit, pembangkit listrik tenaga surya terapung, hingga pengembangan waste-to-energy di kawasan industri.

Sementara itu, posisi strategis Lampung sebagai gerbang Pulau Sumatera juga dinilai menjadi keunggulan tersendiri dalam pengembangan industri logistik dan manufaktur.

Kedekatan dengan Jakarta, keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera, serta dukungan Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni membuka peluang besar bagi Lampung untuk berkembang sebagai pusat pergudangan modern, logistik nasional, industri kemasan, manufaktur ringan, hingga industri pendukung sektor pangan dan pertanian.

"Dengan kondisi tersebut, arah pembangunan industri Lampung adalah kolaborasi antara hilirisasi agroindustri dan pengembangan energi yang diperkuat oleh jaringan logistik yang strategis. Jadi bukan hanya energi terbarukan semata," pungkasnya.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.