TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ribuan liter minyak nilam dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan, gagal ekspor ke luar negeri akibat kebakaran gudang di Komplek Pergudangan Parangloe, Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Pasalnya, minyak yang merupakan bahan baku parfum dan kosmetik yang tersimpan dalam gudang itu ludes terbakar, Jumat (19/6/2026) siang.
Hal itu diungkapkan Penanggung Jawab Gudang PT Citra Aroma Indo, M Agus Sulistiyono Zainal (26) saat dihampiri di sela proses pemadaman berlangsung.
"Untuk taksiran kerugiannya saya belum tahu pasti, tapi kalau untuk stok yang kita mau kirim itu kurang lebih Rp7 milliar, belum yang lain," kata Agus Sulistiyono.
Rp7 milliar itu, lanjut Agus merupakan nilai rupiah untuk enam ton atau 6000 liter minyak nilam yang tersimpan dalam gudang.
Rencana minyak nilam tersebut kata dia, akan diekspor ke luar negeri.
"Rp7 milliar itu sekitar 6 ton lebih. Itu ekspornya biasanya ke Srilanka, Prancis, Spanyol dan negara-negara timur," ungkapnya
Dijelaskan Agus, gudang minyak nilam yang terbakar masih terhitung belum lama beroperasi.
Sebab, November mendatang, operasional gudang itu baru terhitung genap dua tahun.
"Tapi untuk bisnis minyak nilam ini kita sudah bergerak 14 tahun," bebernya.
Baca juga: Kronologi Kebakaran Gudang Minyak Nilam di Parangloe Makassar
Selain membakar ribuan liter minyak nilam, peristiwa di siang hari itu, juga menghanguskan tiga motor karyawan dan membakar bodi depan mobil SUV Hilux putih.
Tidak hanya itu, mesin pengolahan minyak nilam dan semua ponsel milik karyawan yang berjumlah sembilan orang saat kebakaran terjadi, ikut hangus dilahap si jago merah.
"Handphonenya semua karyawan, laptopnya habis semua dari pimpinan sama saya sampai karyawan semua habis," sebutnya.
Selain menimbulkan kerugian materil, dua karyawati gudang juga mengalami luka.
Keduanya kata Agus, terkena percikan api saat berupaya memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (Apar)
"Korban ada dua orang karyawan terpercik api, luka bakar, perempuan," bebernya.
28 Unit Kendaraan Pemadam Dikerahkan
Pantauan tribun di lokasi, fase pendinginan setelah pemadaman, berlangsung pada pukul 15.48 Wita.
Informasi peristiwa kebakaran ini diterima Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Makassar, pada pukul 12.45 Wita.
Artinya, butuh waktu tiga jam lebih bagi 100 petugas Damkar untuk menjinakkan api di gudang tersebut.
"Dari Mako (markas komando) Damkarmat Makassar, 15 unit, dari posko-posko luar 13 unit. Jadi total 28 unit," ujarnya.
Dari puluhan unit damkar yang dikerahkan, beberapa diantaranya sudah bolak-balik melakukan pengisian ulang.
"Salah satu kendalanya itu, karena armada kita harus melakukan pengisian ulang di Patte'ne," kata Fadli.
Kondisi itu diperparah dengan material isi gudang yang mudah terbakar.
Fadli mengungkapkan, beberapa material gedung terdapat berbahan plastik.
"Selain minyak, di sebelahnya ada juga alat-alat material listrik seperti kabel, plastik. Kemudian hembusan angin juga cukup kencang," ungkapnya usai melihat langsung isi dalam gudang.
Pantauan tribun, pukul 16.04 WITA, asap putih sudah mulai keluar dari dalam gedung yang sebelumnya diselimuti asap hitam pekat.
Pada peristiwa kebakaran, asap putih menjadi pertanda api sudah mulai padam.
Kronologi awal dan dugaan penyebab kebakaran
Penanggung jawab gudang, M Agus Sulistiyono Zainal (26), menuturkan, awal mula kemunculan api terlihat dari ruang resepsionis.
Kobaran api itu kata dia, diduga akibat arus pendek listrik.
"Kronologi yang saya tahu awalnya itu dari saksi mata bermula dari ruang resepsionis disebabkan oleh kosleting listrik karena api semakin membesar," ujarnya.
Kobaran api itu, lanjut Agus merembet ke ruang utama tempat puluhan drum minyak nilam tersimpan.
Akibatnya, kobaran api pun dengan cepat membesar dan merambah ke seisi gudang.
"Karena kita bergerak di bidang minyak di ruang utama itu ada puluhan drum minyak, makanya itu api cepat merembes ke ruang utama," ungkapnya.
Ada total sembilan pegawai yang bekerja sesaat sebelum kejadian.
Tiga diantaranya adalah karyawan pria dan enam lainnya karyawan wanita.
"Pada saat itu posisi kan kita yang pria kita kan posisi sholat jumat, jumatan jadi gak ada yang pria, wanita semua jadi ada enam," terang Agus.
Enam karyawan lanjut Agus sudah berupaya memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan.
Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil signifikan hingga berakibat kebakaran besar.
"Disitu dia sempat untuk memadamkan api memakai apar, alat pemadam api tapi api semakin membesar dan merembes ke ruang utama tempat penyimpanan minyak nilam dalam drum," terangnya.(*)