TRIBUNBANYUMAS.COM, Purwokerto – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto menggelar audiensi dengan perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto guna membahas kondisi nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan.
Dalam pertemuan tersebut, HMI menyampaikan kekecewaannya terhadap kinerja BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dalam beberapa periode terakhir menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan paling signifikan di kawasan Asia. Tekanan global, arus keluar modal, serta ketidakpastian ekonomi internasional telah mendorong rupiah mencapai level terlemah sepanjang sejarah pada tahun 2026.
Dalam audiensi tersebut, pihak Bank Indonesia menjelaskan berbagai upaya yang telah ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sedikitnya terdapat tujuh langkah strategis yang saat ini dijalankan BI, yaitu: (1) intervensi pasar valuta asing melalui pasar spot, DNDF, dan NDF; (2) penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing; (3) pembelian Surat Berharga Negara (SBN/SBSN) di pasar sekunder; (4) menjaga kecukupan likuiditas perbankan; (5) pengetatan pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying; (6) perluasan implementasi Local Currency Settlement (LCS); dan (7) penguatan pengawasan transaksi valuta asing bersama otoritas terkait.
Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari strategi BI dalam meredam volatilitas nilai tukar dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Meski demikian, HMI Cabang Purwokerto menilai berbagai kebijakan tersebut belum memberikan dampak yang signifikan terhadap penguatan rupiah. HMI menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan langkah yang lebih konkret, terukur, dan mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Menurut HMI, stabilitas nilai tukar tidak cukup hanya dijaga melalui instrumen moneter, tetapi juga memerlukan koordinasi yang kuat antara BI dan pemerintah dalam mengelola arus modal, menjaga fundamental ekonomi, serta meningkatkan daya tarik investasi domestik.
Baca juga: Serangan Akademik dan Intelektual terhadap Indonesia
Menanggapi aspirasi tersebut, pihak Bank Indonesia menyampaikan komitmennya untuk terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar. Dalam diskusi yang berlangsung, BI menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah dapat kembali bergerak menuju level fundamentalnya pada kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS, seiring dengan penguatan bauran kebijakan moneter dan stabilitas sektor keuangan. Komitmen ini sejalan dengan berbagai langkah yang telah ditempuh BI untuk mendorong masuknya aliran modal dan menjaga kestabilan pasar keuangan.
Sebagai penutup audiensi, HMI Cabang Purwokerto menegaskan akan terus mengawal perkembangan nilai tukar rupiah. HMI menyatakan bahwa apabila hingga akhir bulan tidak terdapat perubahan yang signifikan terhadap penguatan rupiah, maka organisasi akan mengambil langkah lanjutan berupa gerakan moral dan aksi yang dipusatkan di kantor perwakilan Bank Indonesia Purwokerto sebagai bentuk kontrol sosial terhadap kebijakan moneter yang dijalankan.
Ketua Umum HMI Cabang Purwokerto menegaskan bahwa gerakan tersebut bukan semata-mata bentuk kritik kepada Bank Indonesia, melainkan wujud kepedulian mahasiswa terhadap kondisi ekonomi nasional yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat, biaya produksi usaha, serta stabilitas perekonomian Indonesia secara keseluruhan.