Jangan Asal Ikut Maraton, Pemegang Rekor Nasional Ingatkan Bahaya Mengintai Pelari Pemula
Acos Abdul Qodir June 20, 2026 06:34 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Maraton (marathon) 42 kilometer kini semakin populer di Indonesia, namun banyak pelari pemula belum memiliki kesiapan fisik yang memadai dan berisiko mengalami cedera serius jika memaksakan diri.

Peringatan ini disampaikan pemegang rekor maraton nasional 1987, Gatot Sudarsono, di tengah meningkatnya tren event lari di berbagai kota.

 
Tren Maraton Meningkat, Kesiapan Sering Terabaikan

Gatot Sudarsono, CEO Indonesia Muda Road Runner sekaligus pemegang rekor maraton nasional 1987, menilai terjadi perubahan besar dalam budaya lari saat ini.

Maraton kini tidak lagi sekadar olahraga, tetapi juga menjadi target pencapaian yang dikejar banyak pelari pemula.

Ia mencatat, dalam satu tahun terdapat lebih dari 600 event lari di berbagai daerah di Indonesia.

Kondisi ini membuat banyak pelari cepat naik tingkat dari 10 kilometer ke half marathon, hingga maraton penuh, tanpa proses adaptasi yang cukup.

“Sekarang banyak yang berpikir semakin jauh jaraknya, semakin hebat pelarinya. Padahal tubuh tiap orang berbeda,” kata Gatot di Senayan Park, Jakarta, Jumat (19/6/2026).

 
Risiko Serius di Balik Ambisi Finisher

Menurut Gatot, kesalahan umum pelari pemula adalah mengejar status finisher tanpa memahami batas kemampuan tubuh. Ia menegaskan maraton bukan hanya soal keberanian, tetapi kesiapan fisik yang dibangun melalui latihan bertahap dan terukur.

“Itu sebetulnya apa? Risiko tinggi. Nyawa loh itu di situ. Pertaruhannya,” ujarnya.

Ia membandingkan pola latihan atlet yang dapat mencapai sekitar 300 kilometer per minggu, sementara pelari rekreasional sering hanya berlatih sekitar 50 kilometer tetapi sudah mengikuti maraton.

Baca juga: Ikut Lomba Lari 5K tapi Belum Pernah Olahraga? Ini 6 Tips dari Dokter Agar Tak Tumbang di Jalan

 
Cedera Atlet Jadi Peringatan Nyata

Kekhawatiran tersebut juga muncul dari pengalaman Gatot saat mendampingi atlet maraton di Jepang. Saat itu, atlet tetap memaksakan diri berlomba meski kondisi fisik tidak optimal.

Setelah perlombaan, atlet tersebut mengalami gangguan serius pada tubuh hingga hampir satu bulan, dengan kondisi tubuh membungkuk akibat kerusakan otot.

 
Pentingnya Membaca Kondisi Tubuh

Gatot menekankan pentingnya kemampuan membaca kondisi tubuh sebelum latihan maupun lomba. Ia menyarankan metode sederhana menggunakan skala kesiapan fisik 1–10.

Jika berada di level 5–6, latihan cukup dilakukan ringan tanpa tekanan berlebihan. Latihan intensif baru dilakukan saat kondisi tubuh berada di level 8–9, karena kondisi fisik tidak selalu stabil setiap hari.

 
Berhenti Bukan Kegagalan

Ia juga menyoroti anggapan bahwa berhenti di tengah lomba merupakan kegagalan. Menurutnya, keputusan berhenti justru bisa menjadi langkah paling tepat untuk menjaga keselamatan tubuh.

Ia mencontohkan pelari nasional Heru Prayogo yang memilih berhenti di kilometer 30 karena kondisi fisik sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan lomba.

“Listen your body. Begitu badannya sudah tidak kuat, jangan dipaksakan untuk harus finis,” ujarnya.

Baca juga: DBD Bukan Lagi Penyakit Anak, Usia 15–44 Tahun Kini Paling Banyak Terpapar

 
Medali Bukan Tujuan Utama

Gatot mengingatkan bahwa tujuan utama olahraga lari bukanlah mengumpulkan medali, melainkan menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.

Ia menilai tidak ada artinya menyelesaikan maraton jika berujung cedera.

 
Finis Sebenarnya: Selamat Sampai Rumah

Bagi Gatot, garis finis bukan akhir sebenarnya dari sebuah perlombaan. Keberhasilan sejati pelari adalah ketika tubuh tetap sehat dan aman setelah lomba selesai.

“Yang paling penting tadi saya bilang, finis yang sebenarnya adalah sampai rumah, dan sehat serta selamat,” tegasnya.

 
Tren maraton yang terus meningkat menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap olahraga lari. Namun tanpa kesiapan fisik yang memadai, risiko cedera dan gangguan kesehatan tetap mengintai pelari pemula.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.