Cegah Muktamar Overload, Munas-Konbes 2026 di Kediri Juga Bedah Isu Tambang hingga Keagamaan
Alga W June 21, 2026 12:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 pada Sabtu (20/6/2026) malam.

Beberapa isu strategis akan dibahas, mulai isu tambang hingga masalah keagamaan.

Baca juga: Warga Nganjuk Minta Tolong Damkar Gegara Jarinya Bengkak, Proses Evakuasi Butuh 10 Menit

Agenda besar ini sengaja dirancang untuk mematangkan berbagai keputusan strategis agar pelaksanaan Muktamar NU mendatang tidak mengalami kelebihan muatan (overload).

Sekretaris Steering Committee (SC) Munas-Konbes NU 2026, Prof Muhammad Nuh menjelaskan, Munas dan Konbes merupakan forum tertinggi satu tingkat di bawah Muktamar.

Oleh sebab itu, menurut beliau, segala diskursus yang berkembang di masyarakat akan dirangkum dan dibahas terlebih dahulu dalam forum ini.

"Karena Munas dan Konbes ini satu level di bawah Muktamar. Maka, kalau bisa disiapkan, segala keputusan ini dibahas sebelum Muktamar itu terjadi, akan lebih bagus. Supaya Muktamarnya tidak overload. Dari situlah kami merangkum diskursus yang berkembang," ujar Mohammad Nuh saat memberikan keterangan kepada awak media, Sabtu (20/6/2026) sore.

Salah satu isu sensitif yang dipastikan masuk dalam meja pembahasan adalah mengenai pengelolaan tambang.

PBNU menegaskan telah memiliki panduan dasar agar pemanfaatan sumber daya alam tersebut tidak merusak lingkungan.

Mantan Menteri Pendidikan Nasional tersebut menekankan prinsip utama yang dipegang NU adalah eksplorasi, bukan eksploitasi yang berlebihan.

"Tambang itu akan kita bahas. Tapi kita juga sudah punya panduan. Panduannya tidak boleh bersifat eksploiter yang berlebihan. Nah, yang diperbolehkan adalah eksplorasi, bukan eksploitasi. Itu kaidahnya," ulasnya.

Pria yang juga sebagai Rais Syuriyah PBNU ini mengaku belum bisa membeberkan secara detail bentuk keputusan yang akan diambil.

Menurutnya, segala hal terkait aspek tata kelola, kepemilikan, hingga asas kemanfaatan tambang baru akan digodok pada saat sidang komisi berlangsung.

Selain isu tambang, panitia juga membuka diri terhadap berbagai ide dan aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat maupun dari Pengurus Wilayah (PW) NU, termasuk isu-isu terkait penentuan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

"Kami panitia tidak akan menutup mata dan telinga terhadap usulan-usulan tersebut," ulasnya.

Prof Nuh menambahkan tiga poin utama yang menjadi tema besar dalam Munas dan Konbes NU kali ini, yaitu menjaga marwah, memperkaya khidmah (pengabdian), dan untuk pemasyarakatan bangsa.

"Tiga item ini menjaga marwah, memperkaya khidmah semuanya dalam rangka ingin memberikan kemaslahatan, khususnya bagi bangsa," jelasnya.

Secara teknis, pembahasan akan dibagi ke dalam dua klaster besar.

Masalah-masalah yang berkaitan dengan keagamaan (masail diniyah) akan diselesaikan di forum Munas. 

Sementara itu, isu-isu terkait keorganisasian akan dibahas di Konbes yang membawahi Komisi Organisasi, Komisi Program, dan Komisi Rekomendasi.

Menariknya, bahan-bahan diskusi tidak hanya datang dari internal pengurus pusat.

Melainkan juga menyerap usulan dari PWNU, lembaga NU di luar negeri (PCINU), serta diskursus publik yang tengah berkembang.

Mengingat pelaksanaan Muktamar tinggal menyisakan waktu satu bulan lagi, pihak steering committee memprediksi jalannya sidang di sejumlah komisi akan berlangsung hangat dan dinamis.

Baca juga: Dari Santri ke Profesional EO, Sosok Muhammad Akbaryadi Ambil Peran di FORBIS 100 Tahun Gontor

Meski memperkirakan bakal terjadi adu argumen yang tajam dari para peserta, Prof Nuh optimistis, forum ini justru akan melahirkan keputusan yang solid demi kemajuan organisasi.

"Kami dari SC memprediksi ada komisi-komisi yang hot dalam arti diskursus publiknya itu menarik sekali. Saling adu hujah, tetapi kita akan menggeser. Tidak hanya adu hujah, tetapi saling menyempurnakan hujah," tambahnya.

Beliau mempersilakan para peserta untuk saling bertukar pandangan yang berbeda. 

Namun, ia menekankan bahwa tujuan akhirnya adalah menyatukan dan menyempurnakan ragam pendapat tersebut.

Terkait detail materi keagamaan, ia enggan membocorkannya sekarang agar tidak kehilangan momentum peliputan saat acara berlangsung. 

Pihak panitia berjanji akan menyediakan rilis resmi secara berkala melalui situs web maupun konferensi pers dari setiap koordinator komisi selama acara berlangsung.

"Intinya, menjelang Muktamar ini, kita ingin menyiapkan Muktamar yang gembira. Suasananya kita berdua (bersama) dan insyaallah bisa kita siapkan secepat mungkin. Dan tentu berkualitas, dan tentu semuanya muaranya adalah bermanfaat," tandasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.