Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nurika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Kebijakan pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Surabaya mulai berdampak luas.
Mulai dari kawasan permukiman warga, fasilitas olahraga di kawasan Surabaya Timur, hingga matinya fasilitas publik seperti lampu lalu lintas (traffic light) di Jalan Ngagel yang terpantau padam total pada Sabtu (20/6/2026) pagi sekitar pukul 10.02 WIB.
Tak hanya mengganggu arus lalu lintas, pemadaman listrik ini juga menyasar fasilitas kesehatan di pusat kota hingga memicu insiden menegangkan.
Tiga warga Surabaya bernama Lely, Dona, dan Ermina dilaporkan sempat terjebak di dalam lift sebuah rumah sakit saat hendak turun lantai.
Baca juga: Daftar Gaji ASN dan PPPK Pemkot Surabaya Berdasarkan Golongan, Lengkap Tunjangannya
Ermina menceritakan, aliran listrik ke fasilitas lift tersebut sempat mengalami kegagalan fungsi atau anjlok sebanyak dua kali, yakni sekitar pukul 11.00 WIB dan pukul 13.00 WIB.
“Lift mati dua kali dan langsung terasa anjlok di dalam. Untungnya kondisi tersebut tidak berlangsung lama, hanya beberapa menit saja karena petugas rumah sakit langsung sigap berkoordinasi,” ungkap Ermina cemas saat ditemui media, Sabtu (20/6/2026).
Kendati sektor fasilitas publik sempat tersendat, para pelaku industri Event Organizer (EO) dan pengelola gedung pertemuan di Surabaya mengaku telah menyiapkan langkah mitigasi berlapis jauh-jauh hari sehingga operasional bisnis tetap berjalan normal.
General Manager Dyandra Convention Center Surabaya, Wahyuni Wara Astuti, menegaskan jalannya agenda pameran pernikahan tradisional berskala besar, Surabaya Wedding Festival (SWF 2026), sama sekali tidak terganggu oleh fluktuasi daya PLN.
"Kami sudah menyiapkan genset cadangan dengan matang. Jika aliran listrik dari PLN mati total, sistem genset kami akan otomatis menyala dan menggantikan daya dalam waktu singkat, sekitar 10 detik saja," ujar perempuan yang akrab disapa Yuyun tersebut, Jumat (19/6/2026).
Meski demikian, Yuyun memaparkan tantangan tersendiri ketika tegangan listrik PLN hanya mengalami penurunan (drop) dan tidak padam sepenuhnya. Kondisi tersebut membuat genset otomatis tidak membaca adanya pemutusan arus, sehingga tim engineering internal harus dengan sigap mengaktifkannya secara manual.
Yuyun optimistis bisnis MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) serta industri wedding di Surabaya akan tetap bergeliat positif karena menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang esensial.
Langkah antisipasi serupa juga diperlihatkan oleh raksasa properti Pakuwon Group. General Manager Pakuwon Mall, Hendie Santoso, memastikan seluruh pusat perbelanjaan di bawah naungan Pakuwon Group seperti Tunjungan Plaza (TP), Pakuwon Mall, Grand Pakuwon Mall, Pakuwon City Mall, hingga Royal Plaza sudah menyiagakan mesin genset, ketersediaan bahan bakar solar, hingga personel teknis dalam kondisi siap tempur.
Hendie memaparkan, pemadaman listrik yang sempat terjadi sekitar tiga jam pada waktu sore hari kemarin nyaris tidak dirasakan oleh jutaan pengunjung mal karena proses transisi daya ke genset berjalan sangat cepat dan smooth.
“Kalau lampu mal sampai mati hingga tiga menit itu hitungannya sudah lama sekali. Kemarin pemindahan arusnya berjalan dalam hitungan detik, jadi pengunjung hampir tidak menyadari kalau PLN sedang padam,” urai Hendie.
Meski operasional mal berjalan lancar tanpa kendala kenyamanan, Hendie tidak menampik bahwa penggunaan genset berbahan bakar solar secara langsung mengerek pembengkakan biaya operasional perusahaan (operational expenditure). Faktor harga solar yang lebih tinggi dibanding tarif dasar listrik PLN serta biaya maintenance berkala mesin menjadi konsekuensi logis yang harus ditanggung pengusaha.
"Peningkatan biaya operasional pasti ada, tapi masih dalam batas yang bisa diantisipasi oleh manajemen. Kami berharap gangguan pasokan listrik ini tidak berlangsung berkepanjangan. Kami meminta pemerintah peka dan segera mengambil langkah taktis jangka panjang agar iklim dunia usaha kembali stabil," pungkas Hendie.