TRIBUNPADANG.COM, PARIAMAN- Pelataran Rumah Tabuik Pasa sore itu mendadak menjelma menjadi panggung yang padat dan magis.
Beberapa batang pohon pisang dan tebu berdiri kukuh di belakang rumah Tabuik Pasa, dikepung rapat oleh pagar kain putih yang kontras dengan warna-warni kibaran bendera marawa.
Deru mesin sepeda motor tua sayup-sayup tenggelam oleh gemuruh ritmis yang datang dari arah pusat kota.
Baca juga: Rundown Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026, Catat Jadwal Ritual Adat hingga Acara Puncak
Di bawah langit Pariaman yang mulai melarutkan warna jingga menjadi pekatnya malam, ratusan pemuda berkumpul dengan tatapan mata yang tak lepas dari sebatang pohon pisang.
Sabtu (20/6/2026) malam, ritual "Manabang Batang Pisang" kembali digelar, menandai babak awal dari epik kolosal Perayaan Tabuik yang telah mengakar dalam memori kolektif masyarakat pesisir Sumatera Barat.
Bau tanah pesisir yang kering berbaur dengan harum pelepah pisang, sementara ratusan pasang mata tak berkedip menatap sudut halaman, menanti jalannya ritual yang akan segera membelah keheningan.
Untuk mencapai titik episentrum budaya ini, perjalanan yang ditempuh tidaklah singkat. Para pelancong atau yang bergerak dari pusat Kota Padang harus berkendara menuju kota Pariaman dengan durasi perjalanan hampir 1 jam 30 menit.
Jalur aspal yang membelah rimbunnya pepohonan kelapa khas pesisir Pariaman seolah menjadi lorong waktu, mengantar setiap pelancong meninggalkan modernitas menuju pusaran ritus kuno yang dirawat melintasi zaman.
Baca juga: Pedagang Kecil Sumringah, CFN Simpang Tabuik Diharapkan Jadi Agenda Unggulan Pemko Pariaman
Lelahnya perjalanan darat tersebut seketika menguap begitu kaki menginjak pekarangan rumah tabuik.
Atmosfer kultural terasa begitu pekat memeluk ruang publik. Rumah Tabuik Pasa yang biasanya bersahaja, hari itu bersolek rupa, menampilkan ornamen-ornamen sakral yang menegaskan bahwa sebuah helatan besar nagari sedang dipertaruhkan kehormatannya di sana.
Sebagai sebuah kesatuan struktur adat, ritual Manabang Batang Pisang tidak berdiri sendiri.
Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari kronologi panjang perayaan Tabuik Pariaman yang berlangsung selama sepuluh hari berturut-turut pada bulan Muharram.
Setiap tahapan adalah mata rantai sakral, yang dimulai dari ritual Maambil Tanah, dilanjutkan dengan Manabang Batang Pisang, lalu Maatam, Maarak Jari-jari, Maarak Saroban, hingga puncaknya ritual Tabuik Naik Pangkat dan pelarungan ke laut lepas.
Keheningan tempat itu pecah seketika saat suara gendang tasa mulai bertalu-talu dengan ritme marak yang menghentak.
Tabuhan yang konstan dan cepat ini seakan memompa adrenalin, mengubah ketenangan sore menjadi sebuah ketegangan yang ritmis.
Di dalam lingkaran massa yang kian merapat, muncul sosok dubalang atau algojo adat dengan langkah kaki yang kokoh dan tatapan mata yang menghunjam lurus ke depan.
Sang dubalang menggenggam sebilah pedang panjang yang telah disiapkan secara khusus untuk ritual ini. Kilatan logam dari mata pedang yang terpapar sisa cahaya matahari sore seolah mengirimkan pesan kepatuhan terhadap aturan adat.
Kehadirannya di tengah pekarangan mempertegas batas antara penonton dan pelaku ritus yang sakral.
Di tengah kepungan hawa panas dan himpitan tubuh orang dewasa, sudut-sudut halaman juga diwarnai oleh tawa renyah anak-anak nagari. Wajah-wajah mungil mereka bersih dari beban, memancarkan kegembiraan dan suka cita yang tulus tanpa kepura-puraan.
Bagi generasi muda ini, riuhnya tetabuhan dan keramaian di Rumah Tabuik adalah ruang bermain kultural yang selalu mereka rindukan setiap tahunnya.
Masyarakat setempat beserta wisatawan dari luar daerah kian menyemut, memadati setiap jengkal tanah. Kehadiran massa yang masif ini didorong oleh rasa penasaran yang sama: mereka ingin menyaksikan momen krusial berupa satu kali tebasan pedang.
Dalam pakem tradisi, ketepatan dan kekuatan sang dubalang harus menyatu sempurna agar batang pisang tumbang dalam satu ayunan tunggal.
Saat tangan kekar sang dubalang mengangkat pedangnya ke udara, seluruh desas-desus di pelataran mendadak senyap.
Ketegangan memuncak dalam hitungan detik bersamaan dengan raungan gendang yang kian cepat. Hanya dalam satu gerakan kilat yang presisi, pedang tersebut menebas putus batang pisang hingga rebah ke tanah.
Seketika itu juga, suara sorak-sorai penonton pecah menggema, membelah langit sore Kota Pariaman. Pekik kepuasan dan tepuk tangan riuh terdengar jelas dari segala penjuru halaman Rumah Tabuik Pasa.
Begitu batang pisang itu tumbang, anak-anak yang semula berjaga di barisan depan langsung berlari kencang menuju bekas tebasan, berebut menyentuh sisa-sisa pohon dengan penuh riang tawa.
Bagi mata awam, menebang sebatang pisang di parak (pekarangan) yang remang mungkin tampak sederhana. Namun, di kota semenanjung ini, ia adalah pertautan rumit antara ritus keagamaan, memori duka historis atas gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain, di Padang Karbala, serta keteguhan merawat identitas komunal.
Ketua Pelaksana Tabuik Pasa, Yuliusman, di sela-sela riuhnya perayaan menjelaskan bahwa peristiwa yang baru saja disaksikan merupakan prosesi Manabang Batang Pisang.
Kegiatan ini menempati posisi krusial sebagai prosesi kedua dalam seluruh rangkaian panjang perayaan festival Tabuik di Pariaman. Tanpa tahapan ini, bagian organ fisik dan kelengkapan ritual bangunan Tabuik tidak dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.
"Ritus ini berjalan secara paralel dan cermin. Anak nagari Tabuik Pasa melaksanakannya di wilayah Rumah Tabuik Pasa, sementara saudara kami dari kelompok Subarang juga menggelar prosesi serupa di Rumah Tabuik Subarang secara bersamaan," ujar Yuliusman.
Lebih lanjut, Yuliusman membocorkan bahwa ketegangan teatrikal ini tidak berhenti di pekarangan rumah adat saja.
Usai menebang batang pisang di wilayah masing-masing, massa dari kedua belah pihak akan bergerak menuju satu titik temu di jantung kota untuk melanjutkan tradisi berikutnya yang tak kalah mendebarkan.
"Nanti setelah ini, kedua kelompok anak nagari akan bertemu dan terlibat dalam prosesi basalisiah (berselisih) di sekitar kawasan Tugu Tabuik. Pertemuan tersebut merupakan puncak ketegangan emosional yang diatur dalam koridor seni tradisi," tambah Yuliusman.
Tuo Tabuik Pasa, Zulbahri, menguraikan dimensi filosofis yang tersimpan di balik tajamnya pedang dan robohnya tanaman tersebut.
Menurutnya, Manabang Batang Pisang merupakan simbolisasi dari pencarian jasad atau bagian dari heroisme tokoh historis yang gugur di medan laga sebuah metafora teatrikal atas patahnya kekuatan musuh sekaligus pengingat akan keberanian mempertahankan prinsip nagari.
Sementara itu, prosesi basalisiah yang menyusul kemudian digambarkan Zulbahri sebagai cerminan dinamika konflik, salah paham, dan benturan ego manusia di masa lalu.
Tradisi ini merupakan simbolisasi dan reka ulang dari Perang Karbala, yaitu pertempuran bersejarah yang merenggut nyawa Husein bin Ali (cucu Nabi Muhammad SAW). Suasana tegang dan benturan antar kelompok ini mencerminkan dahsyatnya pertempuran tersebut.
Meskipun secara visual terlihat seperti perkelahian atau konflik, tradisi ini adalah sebuah seni pertunjukan budaya kolosal yang telah disepakati. Ini berfungsi sebagai katarsis atau wadah penyaluran emosi dan ketegangan antar-nagari yang aman, serta dilakukan murni untuk memeriahkan rangkaian festival
“Ini bukan permusuhan yang sejati, melainkan sebuah ikhtiar merawat ingatan sejarah agar anak cucu kita paham bahwa setelah adanya gesekan dan perselisihan, jalan kedamaian dan persatuan harus kembali dijemput," pungkas Zulbahri. (*)