TRIBUNNEWS.COM - Tercatat sejak awal Mei, sedikitnya 30 orang dilaporkan meninggal di kamp pengungsi Kigonze dekat Bunia, timur Republik Demokratik Kongo akibat wabah Ebola.
Situasi ini memicu kekhawatiran kuat bahwa wabah Ebola telah menyebar tanpa terdeteksi di tengah krisis konflik dan kondisi kemanusiaan yang memburuk.
Dilansir Al Mayadeen English, angka kematian ini dianggap tidak normal oleh pengelola kamp karena sebelumnya hanya terjadi beberapa kematian dalam satu bulan.
Hingga saat ini, otoritas kesehatan belum memastikan penyebab pasti kematian tersebut secara medis.
Sejumlah pejabat kamp dan pekerja kemanusiaan menyebut para korban menunjukkan gejala yang konsisten dengan Ebola, termasuk demam tinggi mendadak, sakit kepala berat, dan muntah.
Baca juga: Kasus Ebola Tembus 915 dan Tewaskan 234 Orang, WHO Belum Larang Perjalanan ke Kongo dan Uganda
Namun upaya investigasi medis di lapangan terhambat setelah sebagian keluarga korban menolak pemeriksaan jenazah maupun autopsi.
“Tim kami berupaya membujuk masyarakat untuk pemeriksaan, namun ditolak,” kata seorang pekerja bantuan yang dikutip Al Mayadeen.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan situasi di lapangan masih berada dalam kondisi mengkhawatirkan akibat lemahnya sistem kesehatan dan terbatasnya pelacakan kontak.
Dalam laporan yang dikutip dari UN News, WHO menilai kapasitas respons hanya berada di level “3 hingga 4 dari 10” dibanding kebutuhan ideal pengendalian wabah.
WHO juga menyoroti pergeseran pola dampak, dengan perempuan kini menjadi kelompok paling rentan dalam sejumlah wabah Ebola di Afrika.
Kondisi kamp yang padat, minim fasilitas sanitasi, dan keterbatasan toilet mempercepat potensi penyebaran penyakit menular di wilayah pengungsian.
Baca juga: Pasien Ebola Berisiko Alami Syok hingga Gagal Organ, WHO Soroti Pentingnya Cairan Tubuh
Sejumlah organisasi kemanusiaan seperti Mercy Corps dan Oxfam dilaporkan mengalami pengurangan pendanaan, yang berdampak pada layanan air bersih dan sanitasi.
Kondisi ini meningkatkan risiko munculnya wabah tambahan seperti kolera dan infeksi lain yang mudah menyebar di lingkungan padat.
Kongo bagian timur saat ini menjadi salah satu episentrum krisis pengungsian terbesar di Afrika, dengan jutaan warga mengungsi akibat konflik bersenjata berkepanjangan.
Di tengah kondisi tersebut, akses layanan kesehatan sangat terbatas, membuat banyak kasus penyakit tidak terdeteksi pada tahap awal.
Al Mayadeen menyebut situasi ini menciptakan “lingkaran berbahaya” yang memungkinkan virus menyebar sebelum dapat diidentifikasi.
Dalam laporan lanjutan, WHO menegaskan bahwa perempuan menjadi kelompok paling rentan terdampak Ebola karena peran mereka sebagai pengasuh utama dalam keluarga.
Selain itu, sejumlah laporan lapangan juga mencatat peningkatan kasus pada anak-anak di wilayah terdampak.
Baca juga: CDC Afrika Peringatkan Wabah Ebola di Kongo Bisa Jadi yang Paling Mematikan dalam Sejarah
Gejala Ebola umumnya muncul dalam 2–21 hari setelah terpapar virus, dimulai dari gejala ringan yang menyerupai flu hingga berkembang menjadi kondisi berat yang mengancam jiwa.
Baca juga: Bagaimana Disinformasi Perparah Wabah Ebola di Kongo
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)