TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kejutan besar mewarnai matchday kedua Grup E Piala Dunia 2026. Di luar dugaan, tim nasional Curacao sukses menahan imbang raksasa Amerika Selatan, Ekuador, dengan skor kacamata 0-0.
Pertandingan sengit antara Ekuador vs Curacao tersebut digelar di Stadion Kansas City, Missouri, Amerika Serikat, pada Minggu pagi WIB.
Hasil imbang tanpa gol ini secara tidak langsung membawa berkah bagi Jerman, yang di saat bersamaan dipastikan melaju mulus ke babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Bagi Curacao, raihan satu poin ini menjadi catatan emas tak terlupakan.
Ini merupakan poin perdana sepanjang sejarah bagi Curacao di putaran final Piala Dunia, setelah pada laga pertama tim asuhan Dick Advocaat itu sempat menjadi bulan-bulanan usai menelan kekalahan telak 7-1 dari Jerman.
Jalannya laga yang dramatis dan penuh gempuran dari Ekuador ini turut memicu perhatian luas dari para pecinta sepak bola di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
• Comeback Epik Jerman vs Pantai Gading 2-1, Fans di Pontianak Jantungan!
Syarif, seorang warga Pontianak yang memantau jalannya laga sejak menit awal, mengaku sama sekali tidak menyangka dengan hasil akhir pertandingan ini.
"Asli, ini kejutan besar di Piala Dunia! Saya tidak menyangka sama sekali kalau Curacao bisa mencuri poin dan berhasil menahan imbang Ekuador. Di atas kertas, setelah dihajar Jerman 7-1, mereka diprediksi bakal kalah lagi. Tapi perjuangan para pemain Curacao di lapangan, terutama kipernya, benar-benar luar biasa. Ekuador dibuat frustrasi sepanjang pertandingan," ungkap Syarif kepada Tribun Pontianak, Minggu 21 Juni 2026.
Dilansir dari goal.com, penjaga gawang Curacao, Eloy Room, layak dinobatkan sebagai pahlawan utama.
Ia tampil luar biasa di bawah mistar gawang dengan melakukan belasan penyelamatan gemilang untuk mementahkan gempuran bergelombang dari lini depan Ekuador.
Ekuador benar-benar mendominasi jalannya pertandingan.
Mereka mendapatkan sejumlah peluang emas melalui sang kapten, Enner Valencia, serta gelandang andalan Chelsea, Moises Caicedo.
Namun, disiplinnya lini belakang Curacao dan ketangguhan Room membuat semua upaya tersebut berhasil dipatahkan.
Curacao sendiri bukan tanpa perlawanan. Sesekali mereka memberikan ancaman balik yang cukup merepotkan melalui pergerakan cepat Leandro Bacuna, Juninho Bacuna, dan Jurgen Locadia.
Kendati demikian, skor imbang 0-0 tetap bertahan hingga wasit kawakan asal China, Ma Ning, meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.
Mengutip dari Republika.co.id, hasil imbang tanpa gol antara wakil Amerika Selatan (Conmebol) dan wakil Amerika Utara & Tengah (Concacaf) ini menjadi catatan unik yang ketiga kalinya dalam sejarah turnamen, mengikuti jejak laga Uruguay kontra Meksiko pada Piala Dunia 1966 dan Brasil melawan Meksiko pada edisi 2014 silam.
Sementara itu, pada pertandingan lain di Grup E yang digelar di Toronto, Jerman berhasil mengalahkan Pantai Gading dengan skor 2-1 melalui dua gol dramatis yang dicetak oleh pemain pengganti Deniz Undav, setelah sempat tertinggal terlebih dahulu oleh gol Franck Kessie.
Menurut laporan sport.detik.com, hasil dari kedua pertandingan tersebut membuat Jerman kokoh di puncak klasemen Grup E dengan enam poin dan mengunci status kelolosan.
Posisi kedua ditempati oleh Pantai Gading dengan koleksi tiga poin.
Ekuador berada di peringkat ketiga dengan mengemas satu poin karena unggul poin fairplay dari Curacao yang menempati posisi juru kunci dengan koleksi poin yang sama.
Dengan demikian, persaingan memperebutkan satu tiket tersisa ke babak 32 besar akan ditentukan secara dramatis pada laga pamungkas Grup E yang mempertemukan Ekuador melawan Jerman serta Pantai Gading menghadapi Curacao.
Jika menilik data statistik resmi, laga ini mencerminkan dominasi mutlak Ekuador yang berbenturan langsung dengan 'tembok kokoh' pertahanan Curacao.
Ekuador memegang kendali penuh dengan penguasaan bola (ball possession) hingga 75 persen, sementara Curacao hanya diberikan sisa 25 persen.
Dominasi ini juga terlihat dari jumlah distribusi bola, di mana Ekuador mencatatkan 593 operan dengan akurasi operan luar biasa mencapai 92 persen.
Sebaliknya, Curacao hanya mampu melepaskan 221 operan dengan akurasi 68 persen.
Lini serang Ekuador membombardir pertahanan Curacao dengan melesakkan total 26 tembakan, di mana 15 di antaranya tepat sasaran (on target).
Berdasarkan statistik tersebut, kiper Eloy Room tercatat melakukan 15 kali penyelamatan bersih di garis gawang.
Sementara itu, Curacao bermain sangat oportunis dengan melepaskan 10 tembakan dan hanya 4 yang mengarah ke gawang.
Tembakan: Ekuador 26 - 10 Curacao
Tembakan ke Arah Gawang: Ekuador 15 - 4 Curacao
Penguasaan Bola: Ekuador 75 persen - 25 % Curacao
Total Operan: Ekuador 593 - 221 Curacao
Akurasi Operan: Ekuador 92 % - 68 % Curacao
Pelanggaran: Ekuador 7 - 10 Curacao
Kartu Kuning: Ekuador 1 - 5 Curacao
Kartu Merah: Ekuador 0 - 0 Curacao
Offside: Ekuador 1 - 2 Curacao
Tendangan Sudut: Ekuador 9 - 0 Curacao
Ketatnya pertahanan memaksa para pemain Curacao bermain lebih lugas dan keras guna memutus aliran serangan Ekuador.
Curacao melakukan 10 kali pelanggaran yang berujung pada 5 kartu kuning dari wasit Ma Ning. Skuad Ekuador sendiri hanya melakukan 7 kali pelanggaran dan menerima 1 kartu kuning.
Tekanan bertubi-tubi dari Ekuador juga menghasilkan keuntungan berupa 9 kali tendangan sudut, sementara Curacao sama sekali tidak mendapatkan kesempatan tendangan sudut (0) sepanjang laga bergulir.
No Tim Main Menang Imbang Kalah Gol Kebobolan Selisih Gol Poin
1 Jerman 2 2 0 0 9 2 +7 6
2 Pantai Gading 2 1 0 1 2 2 0 3
3 Ekuador 2 0 1 1 0 1 -1 1
4 Curacao 2 0 1 1 1 7 -6 1
Dengan peta persaingan yang ada, laga terakhir fase grup dipastikan bakal berjalan panas dan penuh determinasi tinggi bagi tiga tim di bawah Jerman. (*)