Sisi Lain Kampung Susu Kebon Pedes Bogor, Masih Teruskan Sejarah, Tokoh 'Tuan Asik' Jadi Pelopor
Naufal Fauzy June 21, 2026 06:07 PM

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, TANAH SAREAL - Di tengah pesatnya perkembangan kota, masih berdiri sebuah kawasan atau Kampung Mandiri Susu Sapi Perah (KAMPUSS) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kampung Susu Kebon Pedes.

Kampung ini dekat sekali dengan TPU Blender.

Jika masuk ke kampung ini, kita bisa melihat banyaknya peternak sapi yang kemudian mengolah susu sapi perah.

Susu murni dari sapi ini kemudian diperjual belikan di depan peternakan.

Berdasarkan catatan dari Pegiat Sejarah, Abdullah Abubakar Batarfie, kampung ini memang sudah terkenal sebagai kampung susu sejak tahun 1960.

Memang, jika dilihat periodisasi, kampung ini lahir jauh setelah era kolonial berakhir.

Sebagian besar peternak yang kini berusaha di sana mulai merintis usaha sapi perah pada dekade 1960-an.

Namun sesungguhnya mereka tengah melanjutkan mata rantai sejarah yang telah dirintis oleh para peternak dan penjual susu di Buitenzorg sejak lebih dari satu abad silam.

"Kehadiran Kampung Susu Kebon Pedes menjadi bukti bahwa tradisi beternak sapi perah di Kota Bogor tidak pernah benar-benar putus," kata Batarfie kepada TribunnewsBogor.com, Minggu (21/6/2026).

Kampung Susu Kebon Pedes ini erat sekali kaitannya dengan perkembangan susu sapi di Kota Bogor.

Sebelum adanya Kampung Susu Kebon Pedes, penjualan susu sapi di Kota Bogor sudah sejak jaman Hindia Belanda.

Tradisi ekonomi yang menarik: usaha peternakan sapi perah dan konsumsi susu yang telah mengakar sejak masa Hindia Belanda.

Salah satu jejaknya muncul dalam sebuah iklan kecil yang terbit di surat kabar kolonial.

Iklan itu menawarkan penjualan sebuah Melkerij atau peternakan sapi perah di Tjilendek (saat ini dibaca Cilendek).

Di tengah pesatnya perkembangan kota, masih berdiri sebuah kawasan atau Kampung Mandiri Susu Sapi Perah (KAMPUSS) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kampung Susu Kebon Pedes.
Di tengah pesatnya perkembangan kota, masih berdiri sebuah kawasan atau Kampung Mandiri Susu Sapi Perah (KAMPUSS) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kampung Susu Kebon Pedes. (istimewa/Dok. Batarfie)

Peternakan tersebut memilimi sekitar 40 ekor sapi, pelanggan yang sydah mapan, serta beberapa sapi bunting.

"Iklan itu bisa menjadi petunjuk bahwa pada awal abad ke-20, usaha susu sapi di Kota Bogor telah berkembang sebagai sektor ekonomi yang menjanjikan," ujar Batarfie.

Batarfie melanjutkan, sejak abad ke-19, pemerintah kolobial serta pengusaha swasta mendatangkan sapi unggulan dari Belanda dan Inggris.

Sapi ini berbeda dengan sapi lokal yang ada saat itu.

Sapi impor ini dipelihara untuk menghasilkan susu kualitas bagus.

Sejak saat itu, penjualan susu di Kota Bogor terus meningkat dan berkembang.

Susu segar setiap pagi diantar ke rumah penduduk, hotel, rumah sakit, sekolah, hingga kediaman pejabat kolonial.

Batarfie membeberkan, dalam peta Buitenzorg (Bogor) sekitar tahun 1900 tercatat ada perkembangan menarik dari usaha susu sapi perah ini.

Dalam peta tersebut tercantum nama-nama pengusaha susu sapi perah milik penduduk lokal.

Di Kampung Bodjong Enjot, misalnya, tercatat seorang pribumi bernama Salihin sebagai pengusaha susu sapi perah.

Sementara di kawasan Lawang Saketeng terdapat nama Tian Hoat, seorang pengusaha Tionghoa yang bergerak dalam usaha serupa.

Dari banyaknya nama, sambung Batarfie, ada nama yang memang paling menarik untuk dikenang dalam sejarah Susu Bogor yakni Muhammad Asik, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Tuan Asik.

Dalam foto lama yang dimilikinya, Tuan Asik merupakan seorang pria India Muslim.

Ia terekam sedang berada di sepeda sambil membawa wadah-wadah susu untuk dijajakan kepada pelanggan.

Kata Batarfie, foto itu direkam di kawasan Kedung Halang dekat Jembatan Talang.

"Sekilas tampak sederhana. Namun gambar tersebut sesungguhnya merekam satu fragmen penting sejarah sosial Kota Bogor," ujarnya.

Jalan itu dulunya selalu dilintasi oleh Tuan Asik.

Jalan itu merupakan bagian jalur bersejarah Postweg atau Jalan Raya Pos yang menghubungkan Bogor dengan Jakarta.

Di sepanjang jalur itulah Tuan Asik mengayuh sepedanya. Setiap pagi ia mengantar susu segar.

Sebagian besar pembelinya adalah keluarga-keluarga Belanda, pegawai pemerintahan, dan orang-orang asing yang tinggal di Buitenzorg.

Usaha yang dirintisnya termasuk salah satu pelopor peternakan sapi perah rakyat di kawasan Kedung Halang, Cibuluh, hingga Kebon Pedes.

Daerah-daerah yang kini dipenuhi permukiman dan lalu lintas kendaraan itu dahulu dikenal sebagai wilayah peternakan yang memasok kebutuhan susu Kota Bogor.

Masyarakat mengenalnya bukan hanya sebagai pedagang, melainkan sebagai sosok yang tekun dan dipercaya.

Karena itu panggilan “Tuan Asik” melekat erat pada dirinya.

Sebuah gelar kehormatan sederhana yang lahir dari penghargaan masyarakat kepada seorang pekerja keras.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.