TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Seorang warga Kecamatan Kulim, Pekanbaru, Akmal, mengaku bingung setelah anaknya tersisih dari perangkingan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 untuk masuk ke sekolah negeri yang diincar.
Akmal mengatakan, anaknya mendaftar ke SMA Negeri 10 Pekanbaru melalui jalur domisili atau zonasi. Namun setelah proses seleksi berlangsung, posisi anaknya tidak lagi masuk dalam daftar perangkingan calon siswa yang diterima.
"Kami berharap bisa masuk ke SMA 10, tapi sekarang sudah tidak masuk lagi dalam perangkingan. Jadi kami harus memikirkan langkah berikutnya," ujar Akmal, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat keluarga harus mencari alternatif lain agar anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA pada tahun ajaran baru ini.
Akmal menilai peluang untuk mendaftar melalui jalur lain sudah tidak memungkinkan karena tahapan pendaftaran SPMB telah ditutup. Karena itu, pilihan yang tersisa adalah mencoba mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta.
Ia berharap program Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) untuk sekolah swasta dapat membantu meringankan biaya pendidikan apabila anaknya nanti harus bersekolah di sekolah swasta.
"Kalau memang tidak bisa masuk negeri, mungkin kami akan mengupayakan masuk sekolah swasta. Mudah-mudahan ada bantuan Bosda swasta sehingga biaya sekolah tidak terlalu berat,"ujarnya.
Akmal juga menilai pelaksanaan SPMB tahun ini berlangsung lebih ketat. Menurutnya, tidak ada lagi peluang melalui jalur tidak resmi yang selama ini kerap menjadi pembicaraan masyarakat saat penerimaan siswa baru.
Keluhan serupa juga disampaikan wali murid lainnya, Sabrina. Ia mengaku mulai merasa risau setelah mengetahui anaknya juga tidak berhasil bertahan dalam perangkingan penerimaan siswa baru di sekolah yang dituju.
"Sekarang saya juga tidak tahu lagi harus bagaimana. Anak sudah tidak masuk perangkingan. Kami masih menunggu dan mencari informasi kemungkinan yang bisa ditempuh," ujar Sabrina.
(tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)