Kisah Warga Labuan Bajo Manggarai Barat Bertahan Hidup dari Rongsokan, Sebulan Dapat 1 Juta
Hilarius Ninu June 21, 2026 09:47 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES. COM, Tari Rahmaniar

TRIBUNFLORES.COM-LABUAN BAJO-Di tengah geliat pariwisata Labuan Bajo yang terus berkembang, ada cerita lain yang jarang terlihat.

Saat sebagian orang terlelap, sejumlah warga justru memulai aktivitasnya memburu sampah di kawasan Pelabuhan Tilong, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 

Salah satunya Muhamad Dahlan seorang warga Kelurahan Labuan Bajo yang merupakan pengumpul rongsokan yang telah menggantungkan hidupnya dari limbah plastik. Setiap hari, ia memulai pencarian sejak pukul 02.00 dini hari hingga menjelang subuh.

“Jam 2 malam saya sudah mulai cari di pelabuhan. Sampah plastik paling banyak, seperti botol aqua, kaleng, sama besi-besi kecil,” ujarnya saat diwawancarai TRIBUNFLORES. COM, Minggu (21/06/2026). 

Baca juga: 2 Anak Tewas Terseret Irigasi Wae Laku, Camat Borong Imbau Pengawasan Orang Tua

 

 

Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mencari barang bekas, tetapi menjadi satu-satunya sumber penghasilan untuk bertahan hidup. Dalam sehari, ia rata-rata hanya mampu mengumpulkan satu karung rongsokan. Namun jumlah itu tidak selalu pasti.

Berdasarkan pantauan TRIBUNFLORES.COM, kediaman Muhamad Dahlan di penuhi karung rongsokan sampah plastik yang ia kumpul. 

Belasan karung berukuran 50 Kg terisi botol- botol plastik yang siap dijual berjejer rapi di belakang pekarangan rumah Muhamad Dahlan. 

“Kadang dapat, kadang tidak. Kalau banyak orang yang cari, hasilnya lebih sedikit,” ungkapnya.

Setelah dikumpulkan, sampah-sampah itu dipilah kembali pada pagi hari sebelum dijual kepada pengepul dengan harga Rp5 ribu per kilogram. Satu karung besar biasanya bisa mencapai 15 kilogram.

Dalam sebulan, penghasilannya berkisar Rp1 juta lebih. Meski terbilang kecil, uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meski masih harus dipotong biaya membeli karung dan tali.

Di balik kerasnya pekerjaan itu, ada suka dan duka yang ia rasakan. Suka karena bisa bertemu sesama pencari rongsokan dan berbagi cerita. Namun dukanya jauh lebih berat persaingan semakin ketat hingga banyak orang rela bermalam di sekitar tempat pembuangan sampah demi mendapat lebih banyak barang.

Fenomena ini sekaligus membuka sisi lain wajah kota wisata premium. Banyaknya sampah yang menumpuk di kawasan pelabuhan, terutama yang diduga berasal dari kapal wisata usai trip harian, menjadi tanda bahwa persoalan kebersihan masih menjadi pekerjaan rumah.

“Kalau soal sampah di pelabuhan, sebaiknya pemerintah atur ulang. Banyak orang tinggal di situ, tidur di situ, jadi kesannya kumuh. Ini kan kota pariwisata, harusnya lebih tertata,” ungkapnya.

Baginya, sampah memang menjadi sumber penghidupan. Namun di sisi lain, kondisi itu juga menunjukkan bahwa tata kelola sampah di kota wisata seperti Labuan Bajo masih membutuhkan perhatian serius agar tetap bersih, tertib, dan nyaman bagi semua. (Iar) 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.