TRIBUNMANADO.CO.ID - Kasat Reskrim Polresta Manado, AKP Elwin Kristanto, tampil sebagai narasumber Tribun Podcast di Studio Podcast Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kamis (18/6/2026). sore
Dalam perbincangan bersama Ferdi Guhuhuku, jurnalis Tribun Manado, AKP Elwin Kristanto membagikan cerita tentang perjalanan hidup dan kariernya.
Termasuk tentang keputusannya untuk menekuni profesi sebagai anggota kepolisian.
AKP Elwin Kristanto sempat memiliki cita-cita menjadi seorang pembalap.
Namun, impian itu berubah setelah sang ibu wafat.
Semasa hidup, sang ibu berharap agar anaknya menjadi seorang polisi.
Amanah itulah yang menguatkan langkah Elwin Kristanto untuk mengabdikan diri sebagai aparat penegak hukum.
Berikut ini isi podcast Tribun Manado bersama AKP Elwin Kristanto.
"Baik. Terima kasih untuk Bang Ferdi. Selamat sore saya ucapkan untuk rekan-rekan tribuners yang pada sore hari ini sedang menyaksikan podcast Tribun. Baik, sebelumnya saya akan memperkenalkan diri. Nama dan pangkat saya AKP Elwin Kristanto, SIK, MH. Saya lulusan Akademi Kepolisian tahun 2013, pengiriman asal Jawa Barat. Jabatan saya saat ini yaitu Kasat Reskrim Polresta Manado.
Asal "Timur-Timur". Bapak (alm), dari Kalimantan Timur, dan Ibu dari Jawa Timur. Jadi "Timur-Timur". Tapi besarnya saya di Bogor.
Iya. Kalau cita-cita itu, ya kalau namanya anak kecil kan beda-beda cita-citanya kan. Kalau waktu kecil itu sebenarnya cita-cita saya itu pengin jadi pembalap, Bang Ferdi.
Iya. Hobi balapan. Karena kalau enggak jatuh enggak laki kan?
Cuma karena SMP, saya kelas 1, ibu saya meninggal. Ibu saya menginginkan saya menjadi seorang polisi. Jadi, saya berawal dari amanah almarhumah ibu saya untuk jadi polisi.
Walaupun dari SMP hingga SMA banyak rintangan atau cobaan, ya alhamdulillah-nya karena restu orang tua, dukungan orang tua, saya berhasil menjadi seorang polisi. Abdi negara. Waktu itu, tahun 2010 saya lulus SMA dan masuk Akademi Kepolisian. Lulus tahun 2013.
Untuk penempatan pertama saya itu tahun 2014. Karena program saya kan 4 tahun itu langsung dengan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, sehingga jadi 4 tahun. Penempatan pertama itu, tahun 2014, saya di Polda Kepulauan Riau.
Saya di awal kariernya di SPKT Polresta Barelang. Habis itu mutasi pindah ke Kasubnit Satres Narkoba Polres Barelang. Dan kebetulan Kasat Narkoba Polres Barelang waktu itu yang saat ini menjabat sebagai Kapolresta Manado, Bang.
Kakak asuh.
Untuk semua kasus, atau pengalaman berkesan, semua di jabatan itu pasti berkesan sih, Bang Fer. Namun, dari semua pengalaman itu saya ambil hikmah dan pembelajaran, karena setiap jabatan itu pasti ada hikmah dan pembelajaran yang harus saya ambil di situ. Jadi, semua jabatan itu selalu berkesan untuk saya. Jad, tidak ada pilah-pilih 'oh jabatan ini enak', 'jabatan itu enggak enak'. Karena prinsip saya yang selalu ditanamkan oleh senior yaitu namanya mutiara mau di mana pun harus tetap menjadi mutiara.
Saya dari Kepri pindah ke Polda Sulut itu sekitar September atau November tahun 2023.
Tugas, di Polda Sulut, waktu itu di Subdit 1 Kamneg Ditreskrimum. Waktu itu masa Pilpres.
Sekitar Juli 2024 saya pindah ke Polsek Malalayang sebagai Kapolsek Malalayang, Polresta Manado.
Yang paling saya ingat di Polsek Malalayang itu terkait pengungkapan cap tikus. Yang waktu itu dapatnya itu kurang lebih berapa ribu liter, itu dapat di salah satu mobil pickup, di dalam kemasan air mineral.
Berapa lama menjabat Kapolsek Malalayang?
Juli 2024 menjabat, setelah itu Desember 2025 mutasi sebagai Kasat Reskrim. Sekitar 1,5 tahun lebih.
Kurang lebih 6 bulan.
Personel Satreskrim ada 86 orang. Untuk patroli tiap malam itu ada piket penyidik. Satreskrim ini memiliki 6 unit penyidikan. Kemudian untuk operasional itu ada 30 utk opsnal Resmob-nya, unit reaksi cepat (URC) Polresta Manado ada 30 personel. Setiap malam kita bekerja tidak sendirian karena berkolaborasi dengan Rayon dari Samapta Polresta Pantera, kemudian berkolborasi juga dengan unsur Polsek karena Polsek kan ada patrolinya juga. Kemudian tidak lupa juga dengan Satintel.
Satu leting, Jadi, duet mautlah kita.
Untuk patroli malam minggu dari Satreskrim itu dimulai dari jam 21.00 WITA saya apelkan, seluruh personel dari Satreskrim, baik dari unit penyidikan maupun operasional. Namun, saya tekankan, terkait mobilitas pergerakan itu ada empat tim di Resmob. URC Alpha, Bravo, Charlie, Delta. Mungkin untuk para Tribunners sudah banyak pahamnya itu ada Oto Itang, Papa Jarang Pulang.
Ketika ada suatu kejadian memang kita harus memastikan. Kehadiran seorang perwira atau pimpinan itu bisa memberikan kepastian ataupun kebijakan di lapangan, harus bertindak seperti apa. Karena untuk saat ini kan memang situasi tidak menduga. Kadang-kadang jam 3, jam 4, jam 5. Itu harus turun. Yang paling utama itu untuk memastikan keselamatan masyarakat.
Yang penting ada istirahat cukup.
Kalau untuk daerah-daerah rawan yang ada di Kota Manado tiap malam memang selalu dilakukan patroli. Patroli itu baik dilaksanakan oleh Satreskrim sendiri, atau dari Polresta, Rayon Pantera, maupun dari Polsek jajaran yang ada di Polresta Manado. Ketika ada suatu dugaan tindak pidana, atau gangguan keamanan yang dirasakan oleh masyarakat, mereka bisa menghubungi call center 110 atau 112. Itu tidak dikenakan biaya sama sekali.
Iya. Direspon cepat.
Jadi mengenai itu, dari hasil keterangan personel yang melaksanakan pengamanan, pelaku diduga mengalami gangguan kejiwaan. Awalnya dari lokasi Taman God Bless kemudian mau diamankan namun yang bersangkutan lari, hingga masuklah di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Kecamatan Sario, Kota Manado. Jadi, untuk pengamanannya, dilakukan oleh URC Polresta Manado, URC Resmob Polda Sulut, sama Rayon dari Ditsamapta Polda Sulut. Ketika sudah berhasil kita amankan, dibawalah terduga pelaku ini ke SPKT Polresta Manado. Di situ ada personel Satreskrim melakukan interogasi awal dulu. Setelah dilakukan interogasi, 'lho kok nggak nyambung?'. Bingung juga kita kan 'ini apakah mabuk ataukah ada hal-hal yang lain', makanya kita coba koordinasi dengan Dinas Sosial maupun Satpol PP untuk dilakukan teks kejiwaan. Akhirnya dijemputlah terduga pelaku ini oleh tim dari Dinsos dan Pol PP.
Alhamdulillah tidak ada korban.
Perkaranya sudah ditangani oleh Satreskrim Polresta Manado secara profesional dan transparan. Karena kita harus memberikan kepastian hukum juga.
Alhamdulillah sehat-sehat kok. Kita hanya memberikan tindakan tegas terukur saja.
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa kita akan memberikan tindakan tegas dan terukur terhadap para pelaku, terutama terkait penggunaan sajam terus yang sampai mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.
Jadi, seperti yang pernah saya sampaikan ke Bang Ferdi. Terkait masalah keamanan ini bukan hanya tanggung jawan dari pihak kepolisian sendiri. Tapi harus melibatkan seluruh elemen maupun beberapa pihak juga. Baik itu dari pemerintah, maupun itu dari yang paling dekat, pengawasan itu adalah dari keluarga.
Ya. Tanggung jawab bersama.
Selalu saya sampaikan kepada masyarakat yaitu, mari torang sama-sama jaga Manado ini untuk jadi lebih aman. Kemudian untuk generasi muda, berbuatlah prestasi. Kalau kata orang-orang Manado 'jangan tambah-tambah urusan'. Karena kasihan orang tua. Orang tua sudah susah susah mencari rezeki untuk anaknya sekolah, disekolahkan agar baik, berharap kehidupannya kelak menjadi layak namun malah dia berbuat hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jadi, imbauan saya, mari kita sama-sama menjaga diri, toleransi, untuk bisa menjaga Manado ini menjadi kota yang aman.
Untuk peks-peks, jangan sampe bakudapa di jalan.