TRIBUN-BALI.COM - Memasuki sisa bulan Juni 2026, umat Hindu masih akan menjalani sejumlah rerahinan penting yang menjadi bagian dari rangkaian hari suci setelah Galungan hingga menjelang penutupan bulan.
Hari ini, Senin 22 Juni 2026, diperingati Pemacekan Agung yang dimaknai sebagai momentum memperkuat dharma dan memusatkan diri secara spiritual.
Setelah itu, rangkaian rerahinan akan berlanjut dengan Buda Paing Kuningan, Penampahan Kuningan, puncak Hari Raya Kuningan yang bertepatan dengan Kajeng Keliwon Enyitan, hingga ditutup dengan Purnama sebagai waktu persembahyangan untuk memohon kerahayuan dan sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
• 22 Juni 2026 – Pemacekan Agung
• 24 Juni 2026 – Buda Paing Kuningan
Baca juga: 5 Hari Lagi Kuningan, Begini Makna Sembahyang Tak Lewat Dari Tengah Hari
• 26 Juni 2026 – Penampahan Kuningan
• 27 Juni 2026 – Hari Raya Kuningan dan Kajeng Keliwon Enyitan
• 29 Juni 2026 – Purnama
Diketahui, pada 20 Juni 2026 terdapat hari Pemaridan Guru yang berkaitan dengan penghormatan kepada guru spiritual.
Lalu 21 Juni 2026 berlangsung Ulihan, yang dimaknai sebagai kembalinya para leluhur setelah beberapa hari berada di rumah keturunannya.
Selanjutnya pada 22 Juni 2026 ada Pemacekan Agung, rerahinan yang dipercaya baik untuk berbagai kegiatan ritual tertentu.
Menjelang Kuningan, umat Hindu kembali disibukkan dengan persiapan upakara.
Pada 24 Juni 2026 jatuh Buda Paing Kuningan yang sering dijadikan momentum persembahyangan memohon keselamatan dan kesejahteraan.
Kemudian 26 Juni 2026 merupakan Penampahan Kuningan.
Berbeda dengan Penampahan Galungan yang berlangsung meriah, suasana Penampahan Kuningan biasanya lebih sederhana namun tetap sakral.
Puncaknya berlangsung pada 27 Juni 2026 dengan Hari Raya Kuningan.
Hari raya ini dipercaya sebagai momen kembalinya para leluhur ke alam niskala setelah sebelumnya turun saat Galungan.
Persembahyangan Kuningan memiliki kekhasan berupa penggunaan nasi kuning dan tamiang sebagai simbol perlindungan dan kemakmuran.
Pada hari yang sama juga bertepatan dengan Kajeng Keliwon Enyitan yang memperkuat nuansa spiritual di Bali.
Rangkaian rerahinan Juni 2026 kemudian ditutup dengan Purnama pada 29 Juni 2026.
Hari bulan penuh ini menjadi waktu suci bagi umat Hindu untuk melakukan persembahyangan dan memohon sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pada hari suci ini, umat juga menghaturkan banten dan persembahan khusus sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta simbol mengembalikan energi negatif agar tercipta keseimbangan dan keselamatan dalam kehidupan.
Pemacekan Agung diperingati setiap Soma (Senin) Kliwon wuku Kuningan yang pada saat ini dirayakan pada Senin 22 Juni 2026.
Saat Pemacekan Agung ini merupakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi dengan manifestasinya sebagai Sang Hyang Parameswara dengan jalan menghaturkan upakara untuk memohon keselamatan.
Dalam Lontar Sundarigama terkait Pemacekan Agung ini disebutkan:
Baca juga: 5 Hari Lagi Kuningan, Begini Makna Sembahyang Tak Lewat Dari Tengah Hari
Soma Kliwon, pemancekan agung ngaran, masegeh agung ring dengen, mesambleh ayam samalulung, pakenania. Ngunduraken sarwa buta kabeh.
Artinya yaitu:
Soma Kliwon (Kuningan) disebut dengan Pemacekan Agung. Pada sore harinya, umat Hindu patut mempersembahkan segehan agung di depan pintu keluar rumah yang dilengkapi sambleh ayam semalulung yang disuguhkan kepada Sang Bhuta Galungan beserta pengiringnya agar kembali ke tempatnya.
Selain itu di dalam teks lontar Dharma Kahuripan disebutkan:
Pamacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma.
Ini berarti Pemacekan Agung juga merupakan pemusatan diri dengan sarana tapa kepada Sang Hyang Dharma.
Selain itu, Pemacekan ini memiliki arti menancapkan sesuatu dan agung berarti mulia.
Sehingga Pemacekan Agung ini merupakan hari untuk menancapkan kemuliaan atau dharma yang telah diperoleh saat 'pertempuran' melawan adharma agar umat manusia senantiasa terbebas dari nafsu atau indria yang membelenggunya.
Sementara dalam keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu disebutkan saat Pemacekan Agung umat melaksanakan pesegehan agung ring dengen, dengan penyambleh ayam samalulung.
Adapun tujuan upacara ini yaitu mengembalikan Sang Bhuta Galungan beserta pengikutnya.
Pada saat ini juga merupakan tonggak batas antara permulaan dan berakhirnya kegiatan Galungan (30 hari kemuka dan 30 hari kebelakang), yang dimulai dari Tumpek Wariga dan berlaku sampai Budha Keliwon Pahang.
(*)