Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Jakarta
TribunGayo.com, JAKARTA - Pendidikan seni sastra memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang kreatif, berempati, dan berkarakter.
Kesimpulan tersebut mengemuka dalam diskusi "Pendidikan Seni Sastra bagi Anak" yang berlangsung di Balai Sastra HB Jassin, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Sanggar Matahari bersama Sekolah Alam Tunas Cendekia ini mendapat dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta serta PDS HB Jassin.
Acara dihadiri para pegiat literasi, guru, orang tua, mahasiswa, dan pemerhati pendidikan anak.
Baca juga: Ceh M Din Bangun Museum Pribadi Pelestarian Seni Tradisi Didong Gayo di Pegasing
Kegiatan dibuka pukul 09.20 WIB dengan sambutan Kepala Yayasan Sekolah Alam Tunas Cendekia.
Dalam sambutannya, disampaikan bahwa pendidikan seni sastra perlu mendapat perhatian lebih karena menjadi salah satu sarana efektif untuk mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter, dan kemampuan literasi anak sejak usia dini.
Dalam sesi diskusi, penyair dan pegiat budaya Devie Matahari menegaskan bahwa sastra merupakan media yang sangat efektif untuk menumbuhkan imajinasi dan empati anak.
Menurutnya, anak-anak perlu diberi ruang yang luas untuk membaca, menulis, mendongeng, serta mengekspresikan gagasan mereka melalui berbagai bentuk karya sastra.
"Sastra tidak hanya melatih kemampuan berbahasa, tetapi juga membentuk kepekaan sosial dan karakter anak," ujarnya.
Sementara itu, pegiat literasi dari Rumah Dunia Banten, Tias Tatanka membagikan pengalamannya mengembangkan gerakan literasi anak melalui Rumah Dunia.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan buku-buku dan aktivitas kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.
Menurutnya, literasi harus menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban akademik.
Karena itu, diperlukan keterlibatan berbagai pihak untuk membangun ekosistem literasi yang sehat dan berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, pendongeng Iin Zakaria menjelaskan bahwa dongeng merupakan media pendidikan karakter yang sangat efektif.
Melalui cerita, anak-anak belajar memahami berbagai nilai kemanusiaan, mengembangkan imajinasi, serta meningkatkan kemampuan menyimak dan berbicara.
"Dongeng membantu anak memahami kehidupan melalui bahasa yang dekat dengan dunia mereka," katanya.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai cara menumbuhkan minat baca anak, metode mengajarkan menulis kreatif sejak usia dini, pemanfaatan dongeng untuk pendidikan karakter, serta peran sekolah dan keluarga dalam membangun budaya literasi.
Baca juga: Komite Seni Rupa DKJ Salurkan 2 Ton Beras untuk Seniman Terdampak Banjir Bandang di Gayo
Selain diskusi, peserta juga disuguhkan pentas seni berupa drama musikal "Hutan Tunas Cendekia" yang dibawakan oleh siswa-siswi Sekolah Alam Tunas Cendekia.
Penampilan tersebut memperlihatkan kemampuan anak-anak dalam berekspresi melalui perpaduan sastra, gerak, musik, dan seni pertunjukan yang kreatif.
Panitia menyampaikan apresiasi kepada PDS HB Jassin, Dispusip DKI Jakarta, dan Perpustakaan Jakarta atas dukungan fasilitas, ruang kegiatan, serta kolaborasi yang memungkinkan terselenggaranya acara tersebut.
Melalui kegiatan ini, para peserta sepakat bahwa literasi perlu dibangun melalui pengalaman yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan anak.
Membaca, menulis, mendongeng, serta seni pertunjukan terbukti menjadi media efektif untuk menanamkan nilai-nilai karakter sekaligus mengembangkan kreativitas.
Karena itu, sinergi antara keluarga, sekolah, komunitas, dan lembaga kebudayaan dinilai sangat penting agar gerakan literasi dan pendidikan seni sastra bagi anak dapat terus tumbuh dan berkelanjutan di tengah masyarakat. (*)
Baca juga: 30 Relawan Lingkungan Bergerak Mandiri, Buka Posko di Jalan KKA Km 42 Buntul Sara Ine Seni Antara