SURYA.co.id, SURABAYA — Hujan deras di Surabaya, Senin pagi (22/6/2026) menyebabkan genangan di beberapa titik.
Sebagai solusi cepat, Pemkot Surabaya mengerahkan sejumlah unit mobil pemadam kebakaran hingga rumah pompa untuk membantu proses penyedotan air.
Berlangsung sejak sekitar pukul 05.00 WIB, beberapa titik masih tergenang hingga pukul 09.00 WIB. Ketinggian bervariasi, mulai 10 cm hingga 50 cm.
Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Adi Gunita menerangkan pihaknya telah mengerahkan rumah pompa sejak hujan datang kali pertama.
Baca juga: BREAKING NEWS Hujan Deras Guyur Surabaya, 17 Titik Tergenang dan Pohon Tumbang
Namun menurutnya, kinerja pompa tidak bisa optimal karena aliran air menuju muara terhalang pasang air laut.
"Jadi kita optimalkan (rumah pompa), kalau memang (air laut) sudah surut, otomatis nanti kinerja pompanya kita optimalkan kembali," ujar Adi dikonfirmasi SURYA.co.id di Surabaya, Senin (22/6/2026).
Adi menjelaskan, kondisi pasang air laut diperkirakan masih berlangsung hingga menjelang sore hari.
Karena itu, seluruh rumah pompa tetap dioperasikan meski efektivitasnya terbatas akibat fenomena aliran balik (backwater).
Harapannya, pasang air laut dapat lebih surut lebih cepat. "Tetap jalan, cuma kan posisinya kalau kita pompa otomatis kan backwater kembali ya," imbuhnya.
Menjelang siang, beberapa titik terpantau surut secara bertahap.
"Beberapa titik seperti di Tanjungsari, Tambak Mayor, memang pelan surutnya. Karena memang arahnya ke Kali Greges. Kali Greges (elevasi) lagi naik, pengaruh dari pasang air laut," kata Adi Gunita.
Selain mengoptimalkan rumah pompa, satgas DSDABM juga melakukan pengecekan saluran drainase untuk memastikan tidak ada penyumbatan yang dapat memperlambat aliran air.
Berdasarkan pantauan sementara, sumbatan akibat sampah dapat diminimalisir.
"Seperti tadi kondisi-kondisi saluran, barangkali ada penyumbatan, terus ini juga kan kondisinya juga sudah mulai kerja juga proyek-proyek, takutnya ada penyumbatan," ujarnya.
Selain itu, DSDABM bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya mengerahkan armada penyedot air ke sejumlah lokasi terdampak.
Beberapa wilayah yang menjadi fokus penanganan antara lain Tanjungsari, Tambak Mayor, Kyai Tambak Deres, Ngagel, dan Bratang.
Mobil Damkar yang dikerahkan berhasil mengurangi genangan lebih cepat.
"Tadi ada (mobil penyedot) di beberapa titik, terpantau di daerah Tanjungsari, Tambak Mayor, lalu daerah Kyai Tambak Deres, sama Ngagel, Bratang," katanya mn
Selain dipengaruhi oleh pasang air laut, hujan berintensitas tinggi yang turun di tengah periode musim kemarau juga berdampak pada kesiapan saluran yang saat ini masih dalam pengerjaan.
"Biasanya kalau sudah masuk di bulan Juni-Juli, sudah mau masuk di musim kemarau. Tapi ini memang terjadi anomali cuaca, kami pun tidak bisa menyalahkan masalah cuaca juga," tuturnya.
Ia menyebut, kenaikan muka air laut yang terjadi bersamaan dengan hujan deras menjadi kendala utama dalam proses pengendalian genangan.
"Tapi memang kendala juga tadi. Mulai dini hari ada mengalami kenaikan pasang air laut, sehingga kita juga tidak bisa melakukan pemompaan secara optimal," jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan DSDABM hingga pukul 09.00 WIB, sejumlah kawasan mulai menunjukkan penurunan genangan, di antaranya Jalan Imam Bonjol, Jalan Kartini, hingga kawasan Ngagel.
"Jadi daerah seputaran Imam Bonjol, Jalan Kartini ini juga mulai surut. Daerah Ngagel juga memang ada (genangan), tapi relatif ada penurunan juga," kata Adi.
Selain itu, elevasi muka air di kawasan Greges dan Petekan yang sebelumnya mendekati 200 sentimeter juga mulai mengalami penurunan.
"Jadi memang pada waktu kita lihat elevasinya yang ada di Greges, Petekan, masih tinggi hampir 200-an ya. Tapi ini sudah mulai berangsur-angsur menurun jadi 180 sampai 170," ujarnya.
Hujan dengan intensitas sedang hingga deras mengguyur Kota Surabaya, Senin pagi (22/6/2026).
Merata di sejumlah kawasan, hujan yang melanda sejak sekitar pukul 05.00 WIB tersebut juga menimbulkan genangan hingga menggangu arus kendaraan.
Mengutip data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya hingga pukul 09.25 WIB, tercatat terdapat 17 lokasi genangan dan satu kejadian pohon tumbang.
Dari 17 titik genangan tersebut, dua lokasi telah surut, sedangkan 15 lokasi lainnya masih tergenang dengan ketinggian bervariasi antara 5 hingga 50 sentimeter.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Surabaya Linda Novanti mengatakan seluruh lokasi terdampak terus dipantau petugas gabungan.
BPBD bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelematan (DPKP) melakukan proses percepatan penyedotan genangan.
"Petugas BPBD Kota Surabaya bersama DPKP telah melakukan monitoring dan penyedotan di lokasi-lokasi genangan untuk mempercepat surutnya air," kata Linda.
Berdasarkan laporan BPBD, genangan terdalam terjadi di kawasan Stikosa AWS, Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo, dengan ketinggian mencapai 50 sentimeter dan hingga pukul 09.25 WIB masih belum surut.
Selain itu, genangan setinggi 30 sentimeter juga masih terjadi di Jalan Raya Bratang Binangun, Kecamatan Gubeng, Jalan Medokan Semampir Indah, Kecamatan Sukolilo, serta Jalan Simo Hilir Raya yang berada sekitar 15 sentimeter dari ketinggian maksimal 30 sentimeter.
Berdasarkan informasi BMKG yang berlaku mulai 22 Juni 2026 pukul 07.00 WIB hingga 25 Juni 2026 pukul 07.00 WIB, tinggi gelombang laut antara 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di sejumlah wilayah perairan Jawa Timur.
Wilayah yang berpotensi mengalami gelombang setinggi 1,25–2,5 meter meliputi Perairan Masalembo, Jember, Pacitan, Banyuwangi, Trenggalek, Blitar, Tulungagung, Malang, dan Lumajang.
Selain itu, gelombang dengan ketinggian serupa juga berpeluang terjadi di Perairan Bawean bagian utara dan selatan, Perairan Selatan Pamekasan, Perairan Utara Sampang, Perairan Sumenep bagian utara, Perairan Kepulauan Sapudi bagian utara, serta Perairan Kepulauan Kangean bagian utara dan timur.
BMKG menjelaskan, kondisi cuaca secara umum di wilayah Jawa Timur diprakirakan berawan. Sementara itu, angin permukaan bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan berkisar 5–20 knot.
Masyarakat diminta mewaspadai pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat memicu peningkatan kecepatan angin secara mendadak dan berdampak pada kondisi perairan.
BMKG mengingatkan kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran, khususnya bagi perahu nelayan apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter.
Selain itu, juga mengimbau nelayan, operator kapal, dan masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan agar terus memantau perkembangan cuaca dan memperhatikan aspek keselamatan selama berlayar.