Asa Mawar Tak Padam, Ibu Nelayan Hilang di Natuna Ikut Pencarian Anaknya di Tengah Ombak
Dewi Haryati June 22, 2026 05:29 PM

 

NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Di balik operasi pencarian Arif (26), nelayan hilang asal Desa Terayak, Kecamatan Subi, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), tersimpan kisah pilu seorang ibu yang hingga kini masih menanti kepulangan anak bungsunya.

Memasuki hari keempat pencarian, Senin (22/6/2026), sang ibu bernama Mawar itu memilih turun langsung ke laut mengikuti proses pencarian. 

Di atas sebuah pompong kayu, Mawar duduk di bagian depan dengan tatapan lurus mengarah ke hamparan laut. 

Mengenakan baju merah berbekal sehelai kain batik di tangannya, perempuan paruh baya itu tak banyak bicara.

Sesekali ia memandang kejauhan, berharap sosok anaknya muncul dari balik ombak yang terus bergulung.

Pemandangan itu menjadi salah satu momen paling mengharukan selama operasi pencarian berlangsung.

Di tengah angin yang bertiup kencang dan kondisi cuaca Laut Natuna yang berubah-ubah, Mawar tetap bertahan di atas pompong.

Wajahnya terlihat tegar, namun matanya menyimpan kecemasan yang sulit disembunyikan.

Ia memilih ikut mencari karena penantian panjang di rumah sudah tak lagi sanggup ia jalani.

Sudah lima hari berlalu sejak Arif pergi mengantarkan ransum ke kapal cumi atau kapal lengkong di perairan Subi pada Kamis (18/6/2026) siang.

Namun hingga kini, nelayan muda yang juga ayah dari dua anak itu belum ditemukan.

Video yang memperlihatkan Mawar ikut dalam pencarian sang anak pun viral di media sosial dan grup WhatsApp warga. 

Apa yang dilakukan Mawar menyiratkan betapa besarnya kasih cinta dan perjuangan seorang ibu terhadap anaknya.

Kakak sulung korban, Sari mengatakan, sang ibu memang ingin ikut langsung dalam pencarian karena rasa cemas yang tak lagi terbendung.

"Iya, ibu saya ikut cari hari ini. Sudah lima hari adik saya Arif belum pulang, dan belum ketemu," ujarnya saat dihubungi Tribunbatam.id, Senin siang. 

Menurutnya, Mawar sangat berharap anak bungsunya segera ditemukan.

Arif merupakan anak ketiga atau anak terakhir dari tiga bersaudara.

Sejak Arif tak bisa dihubungi dan tak kunjung pulang, rumah keluarga mereka di Desa Terayak dipenuhi kecemasan dan kesedihan.

Sanak saudara dan kerabat pun datang memberi dukungan dan menunggu kabar terbaru dari tim pencarian.

"Ibu sangat cemas dan berharap anak bungsunya cepat ketemu. Makanya beliau ikut langsung hari ini," katanya.

Sari menceritakan, sebelum hilang, Arif sempat berpamitan kepada istri untuk mengantarkan makanan atau ransum ke kapal lengkong. 

Aktivitas itu sudah biasa dilakukan Arif selain mencari ikan sebagai mata pencahariannya sehari-hari.

Namun sore hari yang biasanya menjadi waktu Arif pulang ke rumah, justru berubah menjadi awal kecemasan panjang bagi keluarganya.

Kini, harapan terbesar keluarga agar Arif segera ditemukan.

Di rumah, istri dan dua anak Arif masih setia menunggu kabar.

Sari juga menyebut kondisi istri Arif menjadi yang paling terpukul sejak suaminya dinyatakan hilang.

Meski demikian, keluarga terus berusaha menguatkan satu sama lain sambil menunggu hasil pencarian.

"Istrinya sangat terpukul sekali, begitu juga anaknya. Kami dari keluarga berharap Arif cepat ketemu. Apa pun kondisinya, kami berharap dia bisa ditemukan," ujarnya dengan suara bergetar menahan sedih. 

Hingga kini, proses pencarian masih terus berlangsung di perairan Subi.

Sementara itu, di atas sebuah pompong seorang ibu masih sanggup memandang laut tanpa lelah, dengan harapan bisa menjemput anaknya pulang.

"Sampai sekarang ibu saya masih belum pulang, masih ikut pencarian. Cuaca di sini cerah tapi ombaknya kencang," ucap Sari. 

(Tribunbatam.id/birrifkrudin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.