TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah tekanan perekonomian makro yang kian dirasakan berbagai lapisan masyarakat, arah pergerakan ekonomi digital di Indonesia kini mulai bergeser.
Sektor ini tidak lagi sekadar mengandalkan euforia semata, tapi juga dituntut untuk bertransformasi menjadi kekuatan penyeimbang sekaligus pendorong produktivitas yang berpihak pada kebutuhan riil masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan oleh CEO PT Bimasakti Multi Sinergi, Ibnu Sunanto, menanggapi dinamika terkini perkembangan ekonomi digital di tanah air.
Sebagai informasi, PT Bimasakti Multi Sinergi merupakan perusahaan Financial Technology (fintech) terkemuka untuk layanan pembayaran elektronik (e-payment) berbasis B2B dan B2C yang telah banyak digunakan di Indonesia.
Perusahaan tersebut didirikan pada tahun 2004 silam oleh Ibnu Sunanto, seorang entrepreneur asal Yogyakarta, dengan nama awal PT Bimasakti Multiwealth.
Selama 22 tahun berkiprah, perusahaan ini telah meluncurkan berbagai layanan produk, termasuk aplikasi JogjaKita yang dikenal sebagai satu-satunya aplikator ojek online lokal di Yogyakarta.
"Secara makro, ekonomi kita memang sedang dalam tekanan. OECD memproyeksikan pertumbuhan Indonesia 2026 sekitar 4,7 persen, dengan konsumsi dan investasi tertekan oleh biaya energi, borrowing cost, ketidakpastian kebijakan, dan pelemahan pasar tenaga kerja," tandasnya, Senin (22/6/26).
"Consumer confidence juga melemah, indeks keyakinan konsumen turun ke 120,9 pada Mei 2026, atau level terendah sejak September 2025, walaupun bisa dibilang masih berada di zona lumayan positif," imbuh Ibnu.
Menurutnya, jika pada masa lalu pertumbuhan ekonomi digital banyak dipicu oleh promo besar, subsidi, hingga ekspansi agresif, maka situasi sekarang sudah jauh berbeda, karena pasar mulai menuntut ekosistem yang jauh lebih sehat.
Sehingga, ia menyebut, pemain digital masa kini dituntut meningkatkan diri dari sekadar "mendigitalisasi transaksi" menjadi menciptakan produktivitas ekonomi.
"Perlu profitabilitas, efisiensi, trust, recurring transaction, dan solusi yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Jadi menurut saya, ekonomi digital Indonesia tidak seburuk ekonomi konvensional, tetapi tidak semudah periode boom digital sebelumnya dan sedang masuk fase yang lebih realistis," tegasnya.
Lebih lanjut, Ibnu menjelaskan, sedikitnya terdapat empat peran ganda ekonomi digital sebagai peredam guncangan sekaligus pendorong pertumbuhan.
Yakni, menekan biaya transaksi bagi masyarakat dan UMKM, memperluas akses pasar bagi pelaku usaha informal, memudahkan distribusi bantuan dan layanan publik, serta mengubah model bisnis dari "bakar uang" ke penciptaan transaksi yang produktif dan berulang.
Bagi Ibnu, situasi sulit ini sekaligus menjadi momen penyaringan alami untuk melihat sejauh mana sebuah bisnis digital mampu merekatkan diri dengan kebutuhan riil masyarakat.
"Ekonomi sedang menguji siapa yang bisnisnya benar-benar punya akar di masyarakat, dan siapa yang hanya besar karena promosi atau valuasi semata," ucapnya.
Di bawah bendera Bimasakti, pihaknya konsisten membangun ekosistem gotong royong melalui jaringan agen Fastpay, merchant, biller, payment gateway Winpay, hingga e-money Speedcash demi memperkuat ketahanan ekonomi akar rumput.
Lebih lanjut, ia pun mengibaratkan, digitalisasi harus mampu tampil sebagai penyelamat krusial, di tengah kondisi ekonomi makro yang sedang lesu.
"Bagi kami, teknologi tidak boleh hanya memperbesar platform. Teknologi harus memperkuat banyak simpul ekonomi kecil. Dalam kondisi daya beli menurun, pelaku kecil biasanya paling cepat merasakan tekanan, tetapi juga paling lentur kalau diberi alat yang tepat," katanya.
Untuk menghadapi tantangan ke depan, Ibnu membagikan langkah kunci bagi para pelaku industri, yakni disiplin mengelola arus kas, serta fokus pada solusi masalah nyata, memperkuat transaksi berulang.
Lalu, yang tak kalah penting, membangun ekosistem yang kuat, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi, serta berani memangkas operasional yang tidak produktif.
"Tapi, aplikasi hanyalah alat. Bisnis yang sebenarnya adalah masalah yang diselesaikan, transaksi yang diciptakan, jaringan yang dibangun, dan kepercayaan yang dijaga," ucapnya. (aka)