Benda yang Membikin Empat Mahasiswi Tersesat di Gunung Birah Tanahlaut Kalsel, Dikenal Area Mistis
Edi Nugroho June 22, 2026 11:52 PM

PANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI – Benda yang membikin empat mahasiswi tersesat di Gunung Birah Tanahlaut Kalsel

Terungkap sudah penyebab empat orang wisatawan perempuan yang sempat tersesat di kawasan wisata Gunung Birah, Desa Kandanganlama, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan, malam tadi. 

Mereka ternyata salah mengikuti penanda berupa ikatan pita merah pada pohon yang dikira sebagai petunjuk jalur pendakian menuju puncak.

Akibat kesalahan tersebut, keempat pendaki muda itu keluar dari jalur resmi dan baru menyadari tersesat saat malam mulai larut.

Baca juga: Iput Penulis Kalsel Luncurkan Novel Patah Hati Tan Malaka: Urai Sisi Humanis sang Bapak Republik

Baca juga: Harper Banjarmasin Janji Tingkatkan Pelayanan, Kini Berusia 3 Tahun

Kapolres Tanahlaut AKBP Ricky Boy Siallagan melalui Kapolsek Panyipatan Iptu Wanda Satriadi menjelaskan, empat wisatawan itu yakni SR (19), NS (19), SNA (19), dan M (19) tiba di kawasan wisata Gunung Birah sekitar pukul 15.00 Wita. 

PERSONEL Polsek Panyipatan saat berada di vase camp pengelola wisata Gunung Birah, Senin (22/6) dinihari, memastikan keempat pelancong perempuan selamat dan aman setelah sempat tersesat saat menuju Gunung
PERSONEL Polsek Panyipatan saat berada di vase camp pengelola wisata Gunung Birah, Senin (22/6) dinihari, memastikan keempat pelancong perempuan selamat dan aman setelah sempat tersesat saat menuju Gunung (Istimewa/POLSEK PANYIPATAN)

Keempatnya adalah mahasiswa. Mereka berasal dari Kota Banjarmasin 

Mereka datang dengan tujuan melakukan pendakian tektok untuk menikmati pemandangan matahari terbenam dari puncak Gunung Birah.

"Sekitar pukul 16.00 Wita mereka mulai melakukan pendakian dari base camp," kata Wanda, Senin (22/6/2026).

Dalam perjalanan menuju puncak, rombongan menemukan sejumlah ikatan berwarna merah yang terpasang pada pohon. Mereka mengira tanda tersebut merupakan penunjuk arah menuju jalur pendakian.

Padahal, berdasarkan hasil pendataan di lapangan, pita merah itu bukan penanda jalur wisata, melainkan penanda kegiatan penanaman pohon yang sebelumnya dilakukan masyarakat.

Tanpa menyadari kesalahan tersebut, mereka terus mengikuti arah pita merah hingga keluar dari rute pendakian resmi.

Sekitar pukul 19.30 Wita, keempat mahasiswi itu mulai menyadari telah tersesat. Dalam kondisi hari yang sudah gelap, salah seorang di antaranya kemudian menghubungi pihak base camp untuk meminta bantuan.

Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti pengelola wisata bersama relawan yang bergerak melakukan pencarian di kawasan perbukitan.

Upaya pencarian akhirnya membuahkan hasil sekitar pukul 22.00 Wita. Keempat mahasiswi ditemukan dalam keadaan selamat di luar jalur pendakian resmi.

Meski demikian, proses evakuasi tidak bisa dilakukan secara instan mengingat kondisi medan yang gelap dan cukup menantang.

"Pada Senin dini hari sekitar pukul 02.30 Wita seluruh korban berhasil dievakuasi ke base camp," ujar Wanda, Senin (22/6/2026).

Beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka serius dalam kejadian tersebut. Keempatnya hanya mengalami kelelahan setelah berjam-jam berada di kawasan hutan dan berjalan di luar jalur pendakian.

Setelah mendapatkan bantuan dari relawan dan beristirahat di base camp, mereka kemudian dipulangkan ke kediaman masing-masing di Banjarmasin.

Kapolsek memastikan selama proses pencarian dan evakuasi berlangsung, situasi tetap aman dan kondusif. 

Petugas kepolisian bersama pengelola wisata turut melakukan pendataan dan pengumpulan keterangan terkait peristiwa tersebut.

Dikenal Angker

Perjalanan empat mahasiswi asal Banjarmasin yang hendak menikmati panorama senja di Gunung Birah, Desa Kandanganlama, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut (Tala), berakhir dengan pengalaman menegangkan. 

Mereka ternyata tersesat hingga mencapai kawasan Gunung Pal, lokasi yang dikenal warga memiliki medan belantara dan kerap dikaitkan dengan cerita mistis.

SEJUMLAH pengunjung Gunung Birah menceritakan empat rekannya yang terpisah dari rombongan, Minggu (21/6) malam.
SEJUMLAH pengunjung Gunung Birah menceritakan empat rekannya yang terpisah dari rombongan, Minggu (21/6) malam. (Istimewa/Tangkap layar video beredar)

Keempat wisatawan perempuan berusia 19 tahun itu akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat setelah tim pengelola wisata melakukan pencarian hingga dini hari, Senin (22/6/2026.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunung Birah, H Rosmani atau Haji Eros, mengungkapkan para mahasiswi tersebut ditemukan sekitar satu kilometer dari jalur utama Gunung Birah.

"Mereka ternyata sudah sampai ke arah Gunung Pal. Jaraknya kurang lebih satu kilometer dari Gunung Birah," ujarnya.

Menurut Haji Eros, awalnya keempat mahasiswi itu memilih jalur landai (fun) saat melakukan pendakian pada Minggu sore menjelang petang. 

Namun saat tiba di sebuah percabangan, mereka tidak melanjutkan perjalanan lurus menuju puncak Gunung Birah sebagaimana mestinya.

Sebaliknya, mereka mengambil jalur ke kanan yang ternyata mengarah ke kawasan Gunung Pal.

"Mereka merasa jalur yang dilalui nyaman. Jadi terus saja berjalan meskipun sebenarnya sudah keluar dari jalur yang benar," katanya.

Yang membuat situasi makin membingungkan, para mahasiswi tersebut mengaku sempat merasa ragu terhadap jalur yang mereka lewati. 

Namun karena kondisi jalan terlihat cukup jelas dan mudah dilalui, keraguan itu diabaikan.

Padahal menurut H Eros, kawasan yang mereka masuki merupakan area hutan belantara yang jauh dari jalur resmi pendakian.

"Mereka merasa seperti berada di jalan yang benar dan nyaman dilewati. Padahal sebenarnya itu kawasan hutan. Karena malam dan hanya mengandalkan lampu handphone, mereka tidak menyadari sudah masuk terlalu jauh," jelasnya.

H Eros menyebut kawasan Gunung Pal selama ini cukup dikenal oleh warga sekitar. Selain memiliki hutan yang lebih lebat, lokasi tersebut juga sering dikaitkan dengan berbagai cerita yang berkembang di masyarakat.

"Kalau menurut cerita orang-orang tua di sini, Gunung Pal memang dikenal angker. Banyak cerita yang berkembang di masyarakat sejak dulu," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan tidak ada kejadian yang membahayakan dialami para wisatawan tersebut selain tersesat dan kelelahan akibat minimnya bekal serta penerangan.

Keempat mahasiswi itu ditemukan tim pencari sekitar pukul 01.00 Wita dalam kondisi kelelahan setelah berjam-jam berjalan di kawasan hutan. Mereka kemudian dievakuasi menuju basecamp Gunung Birah untuk beristirahat.

"Setelah ditemukan, mereka kami bawa turun, diberi makan dan minum dulu karena kondisinya kelelahan," kata Haji Eros.

Sekitar pukul 03.00 Wita, setelah kondisi fisik kembali pulih, keempatnya melanjutkan perjalanan pulang menuju Banjarmasin.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian pengelola wisata karena para korban sebenarnya bukan pendaki pemula. Mereka mengaku sudah pernah berkunjung ke Gunung Birah sebelumnya.

Karena itu, H Eros mengingatkan seluruh pengunjung agar tidak meremehkan persiapan pendakian, terutama ketika memulai perjalanan menjelang malam.

"Kalau naik sore dan kemungkinan bakal melewati malam, wajib membawa senter. Jangan hanya mengandalkan lampu handphone. Bekal air minum dan makanan juga harus cukup," tegasnya.

Ia juga mengimbau wisatawan agar tetap berada di jalur resmi dan segera berbalik arah apabila menemukan keraguan terhadap rute yang dilalui.

"Gunung Birah memang ramah untuk wisata, tetapi pengunjung harus tetap waspada. Jangan sampai pengalaman empat mahasiswi ini terulang lagi," pungkasnya.

Pakai Penanda Bulan
 
Nasib empat wisatawan yang tersesat di Gunung Birah Tanahlaut Kalsel, Kapolres Tanahlaut beri penjelasan ini.

 Kabar empat perempuan wisatawan yang dilaporkan tersesat di kawasan wisata Gunung Birah, Desa Kandanganlama, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Minggu (21/6/2026) malam, sempat menghebohkan ruang publik dan media sosial.

Informasi tersebut cepat menyebar setelah beredar video amatir berdurasi 32 detik yang merekam suasana pencarian di kawasan perbukitan tersebut. 

Pada video itu terdengar suara seorang perempuan muda yang berusaha menjelaskan posisi rombongannya.


“Posisi kami persis di bawah bulan. Kalau yang empat orang itu di bawah pohon besar,” ujar perempuan dalam rekaman yang kemudian ramai dibagikan melalui berbagai grup percakapan.

Berdasarkan informasi yang beredar, rombongan wisatawan tersebut berasal dari luar Tala dan sedang menikmati wisata alam Gunung Birah. 

Namun, empat perempuan dilaporkan terpisah dari rombongan utama saat berada di kawasan perbukitan yang dikenal memiliki jalur cukup menantang.

Kabar hilangnya empat wisatawan itu sontak memicu kekhawatiran masyarakat. Sejumlah warga bahkan turut memantau perkembangan informasi melalui media sosial dan grup pesan instan.

Kapolres Tanahlaut AKBP Ricky Boy Siallagan melalui Kapolsek Panyipatan Iptu Wanda Satriadi membenarkan adanya laporan terkait wisatawan yang sempat terpisah dari rombongan di Gunung Birah.

Meski demikian, Wanda memastikan seluruh wisatawan yang sebelumnya dilaporkan tersesat telah ditemukan dalam keadaan selamat.

“Sudah dapat (ketemu),” kata Wanda saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, informasi tersebut telah terkonfirmasi dari pihak pengelola wisata Gunung Birah yang terlibat dalam upaya pencarian.

Dengan ditemukannya keempat perempuan tersebut, situasi di lokasi wisata kembali kondusif. 

Sebagai informasi, Gunung Birah memang menjadi wisata yang kerap didatangi wisatawan saat sore dan bahkan malam.

Umumnya pengunjung objek wisata itu menginap atau camping di puncak Gunung Birah.

Gunung Birah menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan lokal karena menawarkan panorama alam dari ketinggian. Jalur menujunya cukup menantang adrenalin karena tanjakannya lumayan curam.

Ada juga jalur yang landai namun rutenya agak jauh. Karena itu banyak pengunjung yang memiliuh jalur ekstrem.

11 Tips Sebelum Naik Gunung, Pendaki Wajib Tahu!

Naik gunung kini menjadi pilihan banyak orang untuk menghabiskan waktu seperti liburan atau memenuhi hobi.

Namun sebelum mendaki, ada sejumlah tips yang harus dipersiapkan para pendaki gunung agar tetap aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan, apa saja persiapannya? Berikut rinciannya:

Tips sebelum naik gunung

Berikut 11 tips sebelum naik gunung yang harus diperhatikan pendaki dilansir dari Taman Sejarah Nasional Homestead Amerika Serikat NPS:

Pelajari karakteristik gunung

Setiap gunung memiliki karakteristik dan ciri masing-masing, seperti apakah berapi atau tidak, berapa suhunya, bagaimana cuaca saat hari pendakian, berada di ketinggian berapa, lereng, curam, hingga ketajamannya.

Pada beberapa gunung saat ini memiliki laman web atau akun sosial media resmi yang menginformasikan kondisi terbaru dari suatu gunung.

Lakukan persiapan fisik

Bukan hanya pengetahuan umum, namun juga persiapan fisik, seperti latihan daya tahan jatung dan paru-paru dengan mulai rutin jalan dan berlari.

Latihan angkat beban juga baik dilakukan untuk membiasakan diri mengangkat barang saat berada di jalur pendakian, salah satu latihan kekuatan otot kaki yaitu squat, lunges, atau deadlift.

Olahraga simpel seperti naik turun tangga ternyata juga dapat melatih paha, betis, dan glutes saat mendaki.

Penuhi syarat dan ketentuan yang berlaku

Setiap gunung memiliki syarat dan ketentuan umum yang berlaku, seperti dikutip dari laman Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Ditjen Konservasi, para pendaki wajib daftar online sebelum naik gunung, dilarang membawa drone, pendaki usia 14 - 16 tahun wajib melampirkan surat pernyataan orang tua bermaterai, hingga jalur pendaki naik turun wajib sama.

Cek kuota

Sejumlah gunung kini memiliki batas maksimal kuota pendakian per hari, salah satunya yaitu Gunung Ciremai yang terletak di Kabupaten Kuningan, Cirebon, Jawa Barat, maksimal sekitar 69 - 149 pendaki per hari.

Sedangkan untuk gunung lainnya bisa cek kuota melalui laman atau aplikasi resmi yang disediakan setiap taman nasional.

Persiapkan biaya

Bukan hanya fisik, namun mendaki gunung juga diperlukan biaya, mulai dari menyewa peralatan, keberangkatan, dan karcis masuk.

Setiap gunung memiliki biaya yang beragam, mulai dari puluhan ribu hingga puluhan juta, tergantung biaya izin dan transportasi khusus yang digunakan.
Ketahui larangan dan sanksi

Tips naik gunung selanjutnya yaitu ketahui apa saja larangan dan sanksi yang diberlakukan. Seperti saat mendaki gunung Merbabu dilarang membawa tisu basah, membawa biji atau bibit benih tumbuhan, membawa detergen, hingga membawa alat musik.

Persiapan pakaian yang sesuai

Siapkan pakaian hangat atau yang sesuai dengan kondisi cuaca di gunung, saat ini sudah terdapat banyak inovasi pakaian ringan namun tetap hangat dan nyaman digunakan oleh para pendaki.

Persiapan makanan dan minuman

Ingat, kebutuhan logistik penting dibawa untuk pendaki gunung, saat ini tersedia sejumlah lauk kemasan yang dapat dikonsumsi dengan cara yang lebih mudah.

Beberapa makanan ringan yang disarankan untuk dibawa para pendaki yaitu coklat, kurma, timun, dan buah lainnya untuk menambah energi, gula, serta cairan selama pendakian.

Penuhi cairan tubuh dan jangan tunggu sampai haus, karena saat dehidrasi menyerang maka pendakian tidak akan nyaman. Jadi, bawalah botol sendiri saat mendaki!
Persiapkan peralatan darurat

Peralatan daruat yang dibawa untuk mendaki gunung seperti senter, alat navigasi, obat pribadi, selimut darurat, peralatan untuk mendapatkan air, membuat api, serta pisau multifungsi.

Bawa barang yang dibutuhkan

Bawalah barang yang dibutuhkan saja. Semakin ringan bawaan kamu maka mendaki akan semakin nyaman.

Barang bawaan yang penting seperti ransel dan cover bag, kantong tidur, botol air minum, jas hujan, matras, sepatu gunung, kaos kaki, topi lapangan, senter, jaket, pakaian hangat, pakaian lapangan, obat pribadi, air mineral minimal lima liter per orang, perlengkapan makan, perlengkapan ibadah, dan pemantik gas.
Berikan kabar kepada keluarga terdekat

Beri tahu orang-orang terdekat saat kamu akan mendaki, seperti keluarga, saudara, atau teman dan kabarkan berapa lama waktunya hingga pulang ke rumah.

Ada baiknya, penuhi informasi lengkap sebelum mendaki. Saat ini sejumlah gunung terutama yang termasuk dalam taman nasional telah memiliki laman resmi yang bisa dicek dengan mudah.


6 Tips Cegah Tersesat Saat Mendaki Gunung dan Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan

Perjalanan mendaki gunung bagi sebagai orang merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan. 

Bisa menjelajahi alam, menuju ke tempat-tempat yang indah atau mengabadikan foto keren saat berada di area tertentu, mislanya saja puncak gunung. 

Namun, mendaki gunung itu tak hanya soal keseruan. Ada banyak hal yang perlu disiapkan, demi keamanan dan agar tak tersesat. 

Banyak pendaki yang sering kali membuat kesalahan dalam melakukan pendakian, sehingga bisa mudah tersesat. 

4 kesalahan pendaki gunung yang sering dilakukan

Menurut peneliti di SomkyMountains.com yang telah menganalisis lebih dari 100 laporan, disebutkan bahwa ada empat kesalahan besar yang sering dilakukan pendaki gunung, dikutip dari Travel and Leisure, Kamis (24/3/2022):

Belum lagi masalah tidak membawa perlengkapan pendakian yang bagus dan lengkap juga bisa membawa bencana. 

Tips agar tidak tersesat saat mendaki gunung

Tadi adalah kesalahan fatal yang kerap dilakukan pendaki, berikut ini Kompas.com akan membagikan sejumlah tips mencegah pendaki tersesat di gunung. 

1. Mendaftar di basecamp pendakian

Pastikan untuk selalu mendaftarkan diri ke basecamp pendakian jika ingin mendaki gunung demi keamanan, seperti dikutip dari Kompas.com (9/7/2019).

Selain itu, jika waktu turun yang direncanakan sudah lewat, pihak basecamp bisa langsung memberikan pertolongan jika dirasa ada kejanggalan seperti adanya pendaki yang tersesat.

2. Sewa pemandu

Jika memang dirasa tidak tahu rute dan medan sama sekali, atau baru pertama kali mendaki di gunung tersebut, disarankan untuk menyewa pemandu. 

Adanya pemandu yang sudah berpengalaman, membuat perjalanan lebih aman, apalagi saat ada jalan bercabang pendaki tak perlu kebingungan.  

3. Selalu bersama rombongan 

Biasanya hilangnya seorang pendaki kebanyakan disebabkan karena terpisah dari rombongannya. 

Itu dilakukan jika pendaki ada yang terjatuh, ada saksi mata yang bisa memberikan bantuan ataupun meminta bantuan ke tim penyelamat. 

Sejumlah petugas sedang memikul sampah yang berhasil dikumpulkan di jalur pendakian Gunung Gede Pangrango.

4. Mendaki lewar jalur resmi

Selalu lewati jalur resmi yang sudah ditunjukkan pihak basecamp untuk menghindari hal-hal buruk selama pendakian. 

Jalur resmi biasanya juga lebih mudah dilalui dan jalannya juga sudah dibersihkan dari semak atau ilalang yang mengganggu. Sedangkan jika memilih jalur ilegal, pendaki akan menemui lebih banyak tantangan yang malah bisa mencelakakan diri sendiri.

5. Belajar ilmu navigasi darat

Sebagai seorang pendaki tidak ada salahnya untuk terus belajar, terutama mengembangkan kemampuan terkait navigasi darat. 

Navigasi darat dan ilmu membaca peta adalah sebuah kebutuhan wajib yang minimal harus dikuasai oleh pendaki untuk keamanan perjalanan di alam liar.

Dengan menguasai ilmu tersebut, risiko tersesat di gunung bisa dikurangi, karena jika terjadi sesuatu pendaki masih bisa mengetahui arah mana yang benar. 

6. Mendaki di kala cuaca cerah

Alam memang tidak bisa dilawan, apalagi jika cuaca sedang tak bersahabat seperti adanya badai hingga kabut tebal di gunung. Kabut bisa menghalangi pandangan pendaki dan sangat berbahaya, jika ternyata jalan yang dipilih adalah arah menuju ke jurang. 

Badai dan hujan angin juga bisa menghambat pendakian, jadi lebih baik memilih melakukan pendakian saat cuaca cerah agar perjalanan jadi lebih lancar dan aman. 


(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara/kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.