Jam-jam krusial yang seharusnya menjadi ladang mengais rezeki justru berubah gulita, memaksa para pengusaha menelan kerugian finansial yang masif akibat operasional yang lumpuh total.
Restoran Gulita, Event Musik Berujung 'Nombok'
Di Jalan Dokter Satrio, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, sebuah restoran harus menyaksikan ruangannya mendadak senyap dan gerah pada Kamis (18/6/2026) siang.
Tak berhenti di situ, petaka berlanjut pada Jumat (19/6/2026) malam—tepat di jam sibuk (prime time) operasional mereka.
Baca juga: Said Didu Curigai Bos PLN Jadi Pelayan Oligarki, Minta Prabowo Turun Tangan Beri Perhatian Serius
Indra Senjayani, pemilik restoran, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
Rencana menggelar acara hiburan musik yang digadang-gadang mampu meraup omzet Rp18 juta, seketika ambyar.
Listrik padam total sejak pukul 17.30 WIB hingga 21.30 WIB.
Puluhan pengunjung dan bintang tamu terpaksa telantar di area parkir yang gelap.
“Pengunjung ada yang pulang, ada yang menunggu. Harusnya event mulai jam delapan malam, tertunda jadi jam sepuluh malam. Saya terpaksa nombok untuk bayar penuh band bintang tamu, sementara pemasukan hanya dapat Rp5 juta,” keluh Indra pedih.
Dalam dua hari, ia mengaku rugi bandar hingga lebih dari Rp20 juta.
Mirisnya, saat mengadu ke layanan PLN 123 dengan nomor laporan G5326061921696, Indra justru mendapat jawaban mengejutkan: wilayahnya diklaim tidak masuk dalam area pemadaman.
UMKM Karawang Sekarat, Omzet Anjlok 40 Persen
Kondisi tak kalah kritis menjerat pelaku UMKM di Karawang.
Di kawasan Galuh Mas, Via, seorang pemilik kedai, meratapi omzetnya yang terjun bebas hingga 40 persen akibat pemadaman listrik yang terjadi hingga tiga kali dalam sepekan dengan durasi 3–4 jam per hari.
“Setiap hari di jam operasional pasti ada mati listrik. Entah siang atau sore. Seluruh layanan usaha tidak bisa berjalan normal,” tutur Via.
Jeritan serupa datang dari Akbar, pengelola jasa pencucian mobil (car wash) di wilayah Gempol, Karawang Kulon.
Bagi Akbar, mati listrik adalah vonis mati bagi bisnisnya hari itu.
Alat semprot air bertekanan tinggi hingga penyedot debu praktis lumpuh.
“Pelanggan tidak ada yang mau mobilnya dicuci manual. Kalau terus-menerus begini, dari mana saya harus membayar upah karyawan?” ucap Akbar dengan nada getir.
Baca juga: Sambut HUT ke-499 Jakarta, PLN UID Jakarta Raya Beri Diskon 50 Persen Tambah Daya hingga 7.700 VA
PLN Minta Maaf di Istana, Klaim Sistem Membaik
Menanggapi badai keluhan ini, Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, akhirnya angkat bicara di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Ia menyampaikan permohonan maaf terbuka atas pemadaman bergilir yang melanda sebagian Pulau Jawa.
"Kami ingin mohon maaf kepada masyarakat karena ketidaknyamanan dengan terjadinya pemadaman bergilir tersebut," ujar Darmawan.
Pihak PLN mengklaim bahwa saat ini sistem kelistrikan di Pulau Jawa telah berangsur membaik dan pemadaman susulan akan diminimalisir.
Namun bagi para pengusaha di Bekasi dan Karawang, maaf saja tidak cukup untuk mengganti modal dan reputasi bisnis mereka yang terlanjur padam.