Akui Terima Rp 20 Juta Terkait Demonstrasi, Ketua BEM FH UBK: Saya Mengakui Salah
Vivi Febrianti June 23, 2026 05:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Ketua Badan Eksektutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdimaludin alias Abdi mengakui telah menerima uang suap Rp 20 juta dari pihak kepolisian terkait demonstrasi terhadap pemerintah.

Sebagai BEM Fakultas Hukum serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBK menggelar aksi unjuk rasa pada Senin (15/6/2026) di area Istana Negara, Jakarta Pusat.

Abdi merupakan koordinator lapangan aksi tersebut.

Pada Senin (22/6/2026) petang mahasiswa UBK, BEM dari FISIP, dan BEM Fakultas Teknik menggelar forum terbuka di lingkungan kampus karena muncul isu di media sosial bahwa ada dugaan suap.

Nailah, mahasiswa FH UBK angkatan 2022 yang mengikuti forum terbuka mengungkapkan awalnya Abdi tidak hadir dalam kegiatan musyawarah tersebut. 

Berdasarkan penuturan Nailah, kala forum ini berlangsung, Ketua BEM FISIP dan FT menjelaskan bahwa mereka tidak tahu-menahu terkait persoalan suap-menyuap ini.

"Setelah mereka memberikan penjelasan, ada satu orang yang akhirnya menyetel sebuah percakapan antara Abdimaludin ini, Ketua BEM FH, dengan salah seorang seniornya di Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI Cabang Jakpustara, bernama Raja Olowan Rambe, terkait tindakan suap-menyuap tersebut," tutur Nailah via telepon kepada Kompas.com, Selasa (23/6/2026). 

Ada rekaman suara Ketua BEM FH UI

Rekaman suara tersebut semakin memantik amarah para mahasiswa yang hadir.

"Karena memang di rekaman itu terdengar suara Abdi dan orang-orang itu saling bercakap-cakap," lanjut Nailah.

Forum terbuka ini juga direkam lewat video dan diunggah oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) UBK Marhaen @marhaenpress. 

Isu yang berkembang uang suap tersebut terkait dengan pemindahan titik aksi demonstrasi dari Istana Negara ke depan Gedung DPR RI.

Demonstrasi kemarin pada akhirnya memang tetap dilaksanakan di depan Istana Negara yang berujung dengan ajakan dari Wapres Gibran Rakabuming di mana 15 orang perwakilan mahasiswa boleh masuk dan diskusi bersamanya di dalam gedung istana.

"Betul tetap tapi beberapa mahasiswa curiga uang tersebut juga berhubungan dengan pertemuan Wapres tersebut," ungkap Nailah. 

Setelah beberapa waktu Abdi akhirnya hadir di muka forum terbuka.

Sejumlah dosen dan pihak rektorat juga muncul dan ikut mengawal jalannya forum, menurut Nailah.

Abdi menyatakan bahwa menjelang hari demonstrasi banyak pihak yang ingin menyuapnya dan ia menolak.

"Terkait uang itu memang saya terima, 20 persen," kata Abdi awalnya dalam video di akun @marhaenpress.

Pada pernyataan lebih lanjut Abdi mengungkapkan nominal uang yang ia terima.

"Saya mengakui kesalahan, saya menerima uang tersebut. Rp 20 juta dengan pembagian dengan kawan-kawan. Dari pihak Kepolisian. (Namanya) Aan, enggak tahu (nama lengkapnya). Cuma dia datang komunikasi, itu aja," ucap Abdi.

Uang tersebut kemudian dibagikan ke beberapa orang.

Termasuk Ketua BEM FEB, Pujiono dan Wakil Ketua BEM FEB Rafly Bastian yang masing-masing menerima Rp 2 juta. 

Keduanya mengaku secara langsung di forum itu. 

Kehadiran pihak HMI berujung baku hantam 

Nailah membeberkan kejadian rinci terkait pemukulan di sela-sela forum tersebut karena ada kehadiran pihak HMI.

"Saat Abdi ini datang ke kampus, dia itu juga bersama dengan kawan-kawan HMI Jakpustara-nya itu," kata Nailah. 

Mahasiswa UBK pun kesal atas kehadiran pihak HMI yang tidak berkepentingan dan justru dapat memperkeruh situasi.

Akhirnya terjadilah baku hantam antara mahasiswa dan orang HMI ini.

"Jadi orang ini tuh diduga kuat sih memang HMI Jakpustara, yang memang saat itu mencoba memprovokasi fokus forum hari itu," tutur Nailah.

Diduga senior Abdi di HMI Jakpustara mendapatkan dana tersebut dari aparat polisi.

"Katanya, senior HMI ini kemungkinan besar itu dapat duitnya sih dari polisi. Jadi senior HMI ini dapat distribusi dana dari sana," ucap Nailah.

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.