TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di SMKN 1 Tarakan Kalimantan Utara masih berlangsung. Para orangtua calon siswa terus memantau perkembangan hasil pendaftaran melalui jurnal harian yang disediakan sistem.
Salah seorang orangtua calon siswa, Muhammad Haeruddin, mengaku memilih mendaftarkan putrinya ke SMKN 1 Tarakan karena sesuai dengan minat anaknya. Selain itu, dirinya juga memiliki kedekatan emosional dengan sekolah tersebut karena merupakan alumni SMKN 1 Tarakan.
"Saya sih ngajukan juga ya. Karena saya juga alumni dari sini," ujarnya saat ditemui di SMKN 1 Tarakan.
Muhammad Haeruddin mengatakan putrinya, Indri Citra, yang merupakan lulusan SMP Negeri 5 Tarakan, mendaftar melalui jalur reguler dengan memilih tiga program keahlian sekaligus.
Baca juga: SPMB di SMKN 1 Tarakan Jalur Reguler Masih Berlangsung hingga 25 Juni 2026, Terima 396 Siswa Baru
"Kami ngambil tiga jurusan untuk SMK-nya. Jurusan kuliner, pemasaran, dan perhotelan," katanya.
Menurutnya, pilihan jurusan tersebut memang berdasarkan keinginan sang anak yang sejak awal ingin melanjutkan pendidikan di SMKN 1 Tarakan.
"Karena anaknya memang mau di sini. Kalau dia lepas dari sini, mungkin lemparnya ke SMK yang lain," ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum mengikuti tahapan pendaftaran reguler, putrinya juga telah menjalani tes bakat minat yang menjadi salah satu syarat dalam proses seleksi SPMB jenjang SMK.
Tes tersebut telah diikuti beberapa hari sebelumnya dan saat ini pihak keluarga tinggal menunggu perkembangan hasil seleksi.
"Sudah. Ini tinggal perbaikan data diri saja karena ada kesalahan," ujarnya.
Baca juga: SMPN 1 Nunukan Pastikan Seleksi SPMB Transparan, Nilai TKA Jadi Penentu Baru di Jalur Prestasi
Hingga saat ini, keluarga belum mengetahui posisi peringkat maupun peluang kelulusan karena hasil seleksi masih terus diperbarui melalui jurnal harian. Begitu pula terkait kepastian diterima atau tidaknya di SMKN 1 Tarakan.
Menurut Haeruddin, saat ini dirinya dan anaknya masih rutin memantau jurnal harian yang disediakan sistem SPMB untuk melihat perkembangan posisi pendaftaran.
"Kita masih melihat di jurnal, belum ada muncul," katanya.
Ia menduga proses pembaruan data dan hasil seleksi masih terus berlangsung di pihak sekolah maupun sistem penerimaan.
"Mungkin dari pihak sekolahnya agak lambat sedikit," ujarnya.
Haeruddin mengungkapkan dirinya datang langsung ke SMKN 1 Tarakan bukan untuk melakukan pendaftaran baru, melainkan memperbaiki data yang sebelumnya salah saat diinput secara daring.
"Pendaftaran dimulai hari Minggu kemarin. Tapi kan online. Jadi kita ke sini karena ada kesalahan data yang di-input. Perbaikan data," katanya.
Menurutnya, proses perbaikan data sudah dilakukan dan akan kembali dicek dari rumah.
"Sudah kita coba perbaiki. Nanti di rumah kita perbaiki lagi. Jadi tinggal menunggu pengumuman," ujarnya.
Karena belum ada hasil akhir, dirinya bersama anaknya kini hanya bisa memantau perkembangan seleksi setiap hari.
"Jadi kita cek di jurnal setiap hari," katanya.
Muhammad Haeruddin juga menjelaskan alasan putrinya tidak mengikuti jalur domisili pada SPMB tahun ini.
Ia mengatakan lokasi tempat tinggal keluarga berada di kawasan Lingkas Ujung sehingga tidak memenuhi ketentuan untuk jalur tersebut.
"Rumah kita jauh. Kita posisi di Lingkas Ujung," katanya.
Meski sebenarnya terdapat sekolah lain yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal mereka, putrinya tetap memilih SMKN 1 Tarakan karena sesuai dengan minat dan cita-citanya.
"Kalau dekatnya sih ke SMKN 4. Cuma anaknya tidak mau," ujarnya.
Menurut Haeruddin, program keahlian yang tersedia di sekolah lain kurang sesuai dengan minat sang anak.
"Di sana lebih ke komputer ya. Dia maunya ke sini. Lebih bakat minatnya," katanya.
Karena itu, keluarga memutuskan fokus mengikuti seleksi melalui jalur reguler yang dinilai memiliki peluang lebih besar dibanding beberapa jalur lainnya.
Menurutnya, kuota yang tersedia pada jalur reguler juga lebih banyak sehingga peluang bersaing dinilai lebih terbuka.
"Kalau reguler saya lihat peluangnya besar," katanya.
Ia menyebut jumlah kuota yang tersedia pada jalur reguler mencapai puluhan peserta.
"Kalau di reguler, 54 orang," ujarnya.
Sementara kuota pada jalur lainnya relatif lebih sedikit.
"Yang lainnya sedikit. Ada yang tujuh, ada yang sebelas. Sedikit-sedikit dia," katanya.
Atas pertimbangan itu, dirinya dan keluarga memutuskan memilih jalur reguler sebagai jalur utama pendaftaran.
"Jadi kita lempar ke reguler saja. Karena besar kemungkinan kan," ujarnya.
Selama proses pendaftaran berlangsung, Haeruddin mengaku tidak mengalami kendala berarti.
Satu-satunya persoalan yang dihadapi hanyalah kesalahan data yang berkaitan dengan titik lokasi atau GPS saat proses pengisian data.
"Cuma ini saja perbaikan data tadi. Karena dia minta GPS-nya," ujarnya.
Ia juga menceritakan bahwa putrinya mengikuti tes bakat minat pada Jumat lalu setelah sebelumnya datang ke sekolah untuk mendapatkan informasi tahapan pelaksanaan.
"Kalau anaknya waktu ikut tes bakat minat, di hari Jumat kemarin," katanya.
"Hari Kamis saya ke sini. Suruh pulang dulu, besok paginya kembali ke sini. Biar cepat kan. Masalahnya kita ngejar di sini memang," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah