Laporan Kontributor Tribunjabar.id Karawang, Cikwan Suwandi
KARAWANG, TRIBUNJABAR.ID - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Karawang menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Badami, Selasa (23/6/2026).
Mereka membawa sejumlah tuntutan yang menyoroti kebijakan pemerintah pusat hingga persoalan lingkungan hidup di Kabupaten Karawang.
Dalam aksinya, mahasiswa menuntut evaluasi terhadap sejumlah program nasional, menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI dan RUU Polri, serta mendesak pemerintah daerah lebih serius menangani persoalan ekologis yang dinilai mengancam keberlangsungan hidup masyarakat.
Presiden Mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang, Beryl Geovani Xenoglosi, mengatakan kondisi ekonomi yang semakin berat menjadi salah satu alasan mahasiswa turun ke jalan.
Ia menilai program Kawasan Distribusi Makanan Pendamping (KDMP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) justru menambah beban keuangan negara dan berdampak pada kehidupan masyarakat.
"Program KDMP dan MBG di Karawang kami nilai merugikan masyarakat karena menguras APBN. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari meningkatnya biaya hidup hingga keresahan yang dirasakan mahasiswa, pelajar, dan buruh," kata Beryl.
Baca juga: Berkaca Kasus Penyekapan, Bupati Jeje Minta RT dan RW di Bandung Barat Tingkatkan Pengawasan Indekos
Selain itu, massa aksi juga menyuarakan penolakan terhadap RUU TNI dan RUU Polri yang saat ini tengah menjadi perhatian publik. Mahasiswa khawatir aturan tersebut dapat mempersempit ruang demokrasi dan mengurangi independensi dunia pendidikan.
Mereka menyoroti mulai masuknya aparat ke lingkungan kampus yang dinilai berpotensi mengganggu kebebasan akademik.
Tidak hanya membawa isu nasional, mahasiswa juga menyoroti proyek Laju Tenaga Gas dan Uap (LTGU) di Karawang yang dinilai berpotensi memperparah kerusakan lingkungan.
Aliansi Mahasiswa Karawang mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi ruang hidup masyarakat dari ancaman krisis iklim yang semakin nyata.
Di tengah jalannya aksi, massa sempat memindahkan titik demonstrasi setelah adanya koordinasi dengan aparat keamanan. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari gangguan terhadap aktivitas masyarakat dan menjaga situasi tetap kondusif.
"Tujuan kami bukan membuat kericuhan, tetapi mengajak masyarakat bersama-sama menyuarakan keresahan yang selama ini dirasakan," ujar Beryl.
Sementara itu, Kapolres Karawang AKBP Fiki Firmansyah mengatakan sebanyak 435 personel gabungan diterjunkan untuk mengawal jalannya aksi unjuk rasa.
Personel tersebut terdiri dari anggota Polri, TNI, Satpol PP, serta bantuan kendali operasi (BKO) dari Brimob.
Menurutnya, pengamanan diprioritaskan di sekitar Bundaran Badami guna mengantisipasi potensi penutupan akses menuju Gerbang Tol Karawang Barat.
Baca juga: BREAKING NEWS: Hatur Nuhun, Alfeandra Dewangga Resmi Pamit dari Persib
"Kami terus berkomunikasi dengan koordinator lapangan agar massa aksi menggunakan jalur lambat sehingga aktivitas masyarakat dan arus lalu lintas tidak terganggu," kata Fiki.
Ia memastikan mahasiswa tetap diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi selama aksi berlangsung tertib dan tidak mengganggu ketertiban umum.
"Alhamdulillah, situasi tetap aman, arus lalu lintas kembali normal, dan rekan-rekan mahasiswa tetap dapat menyampaikan aspirasinya dengan baik," kata dia. (*)