Berkat Listrik Tenaga Mikrohidro, 50 KK di Kedungroh Samigaluh Kulon Progo Bebas Pemadaman
Joko Widiyarso June 23, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemadaman listrik bergilir yang kerap terjadi belakangan ini menjadi masalah bagi masyarakat.

Apalagi pemadaman itu berdampak pada aktivitas sehari-hari mereka, bahkan usaha yang dijalani menjadi merugi.

Namun masalah itu tidak dirasakan sama sekali oleh sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Padukuhan Kedungroh, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo. Semuanya berkat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh).

Ketua Pengurus Komunitas Mikrohidro Terpadu Indonesia PLTMh Kedungroh, Sumberini menyampaikan bahwa listrik dari PLTMh jadi sumber utama bagi sekitar 50 KK di sana. Sedangkan listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) hanya sebagai cadangan.

"Pemadaman listrik bergilir kemarin sama sekali tidak dirasakan efeknya, aktivitas warga tetap berjalan aman berkat PLTMh," ujarnya ditemui pada Selasa (23/06/2026).

Pendirian PLTMh berawal pada 2009 silam dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka melihat potensi dari aliran Saluran Irigasi Kalibawang yang deras, apalagi dengan adanya air terjun yang mengalir kuat.

PLTMh sederhana pun mulai dibangun menggunakan turbin, dan digunakan hanya untuk lampu penerangan jalan. Perkembangan pesat mulai dirasakan pada 2012 lalu dengan dukungan dari Pemda DIY dan perguruan tinggi, di mana PLTMh yang lebih besar mulai dibangun.

"Pembangunannya selesai pada November 2012 dan bisa digunakan untuk rumah warga," kata Sumberini.

PLTMh tersebut kini dikelola secara swadaya oleh warga. Tiap KK pun cukup membayar iuran senilai Rp 12 ribu untuk 35 hari agar bisa menggunakan PLTMh, yang dibayarkan lewat Ketua RT (Rukun Tetangga) masing-masing.

Iuran tersebut terbilang sangat murah, mengingat warga tak hanya memakai listrik dari PLTMh untuk aktivitas rumah tangga, tetapi juga usaha mereka. Tiap KK pun membayar iuran yang sama, terlepas dari besar-kecilnya kebutuhan listrik masing-masing.

"Kapasitas PLTMh saat ini mencapai 18 ribu watt, masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan listrik warga di sini," jelas Sumberini yang baru menjadi Ketua sejak 2025 sampai 2030 mendatang.

Manfaat besar yang dirasakan warga membuat mereka memberikan perhatian besar terhadap perawatan PLTMh. Mereka pun ikut serta melakukan pembenahan rutin melalui kerja bakti.

Meski begitu, Sumberini berharap ada dukungan dari banyak pihak guna memastikan keberlanjutan dari PLTMh. Termasuk dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo.

"Harapannya bisa berkembang lebih jauh dan layanannya bisa lebih luas," katanya.

Cukup bayar Rp 12 ribu

Umi Amini menjadi salah satu warga yang merasakan manfaat besar dari PLTMh. Hanya dengan membayar Rp 12 ribu per bulan, ia bisa menjalankan usaha salon dan tata rias yang dimilikinya saat ini.

Ia memanfaatkan PLTMh sejak 2012 lalu, awalnya hanya untuk lampu saja. Lambat laun, alat listrik yang bisa digunakan bertambah banyak meliputi televisi, penanak nasi, kulkas, bahkan pendingin udara hingga peralatan salon yang digunakan.

"Kalau pakai listrik PLN saja bebannya tidak kuat, sering jeglek karena kapasitasnya hanya 450 watt," jelas Umi.

Saat ini, pemakaian listrik dari PLTMh mendominasi hingga 70 persen. Sedangkan listrik dari PLN hanya sebagai cadangan sekitar 30 sampai 40 persen saja.

Umi pun merasakan listrik dari PLTMh lebih stabil, dan ia sama sekali tidak merasakan dampak dari pemadaman listrik bergilir yang sedang terjadi saat ini. Itu sebabnya, ia berharap PLTMh tetap beroperasi seterusnya.

"Sebab biayanya lebih murah dan lebih ramah lingkungan juga," ujarnya. (alx)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.