TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kasus dugaan pembunuhan terhadap pekerja migran Indonesia (PMI) asal Aceh Tamiang, Putri Hensy Aprilda (22), bersama bayinya di Selangor, Malaysia, kembali memunculkan sorotan terhadap sistem perlindungan PMI di luar negeri.
Pakar hukum sekaligus pengacara yang aktif mengadvokasi pekerja migran Indonesia dan tergabung dalam Migrant Watch, Triana Dewi Seroja, menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut.
Menurut Triana, kasus yang menimpa Putri Hensy menunjukkan bahwa pekerja migran Indonesia masih berada dalam posisi rentan di negara penempatan.
"Kita tentu menyerahkan proses hukum kepada otoritas Malaysia dan mengapresiasi penangkapan terduga pelaku. Namun pertanyaan yang lebih besar adalah, berapa lagi pekerja migran Indonesia yang harus menjadi korban sebelum perlindungan yang sesungguhnya diwujudkan?" kata Triana dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Triana menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai tindak kriminal biasa. Ia menilai terdapat persoalan yang lebih mendasar terkait kerentanan pekerja migran Indonesia yang terus berulang dari waktu ke waktu.
"Setiap kali ada PMI meninggal dunia, dianiaya, dieksploitasi, diperdagangkan, atau menjadi korban kejahatan, kita selalu terkejut. Padahal kasus-kasus semacam ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Yang berubah hanya nama korbannya," ucapnya.
Baca juga: Migrant Watch Desak Indonesia Bawa Kasus Kekerasan PMI di Johor ke Forum Internasional
Ia juga menyoroti masih tingginya jumlah pekerja migran Indonesia yang menghadapi berbagai persoalan di Malaysia.
Mulai dari eksploitasi tenaga kerja, kekerasan, perdagangan orang, persoalan keimigrasian, hingga kasus kematian yang terus terjadi setiap tahun.
Menurut Triana, rangkaian kasus tersebut harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk memperkuat sistem perlindungan PMI secara menyeluruh.
"Kasus demi kasus harus menjadi alarm keras bahwa perlindungan pekerja migran tidak boleh berhenti pada pidato, slogan, atau seremoni penandatanganan kerja sama. Negara harus hadir secara nyata," ucapnya.
Lebih lanjut, Triana menilai kompleksitas persoalan pekerja migran Indonesia memerlukan penanganan lintas sektor yang lebih terintegrasi.
Karena itu, ia mendorong pemerintah segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan PMI Bermasalah yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait.
"Masalah PMI tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu lembaga atau kementerian. Diperlukan kerja sama dan koordinasi lintas kementerian serta lembaga agar penanganannya lebih efektif dan menyeluruh," katanya.
Menurut Triana, kehadiran satgas tersebut diharapkan mampu memperkuat langkah pencegahan, penanganan kasus, hingga perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia yang menghadapi persoalan hukum maupun tindak kekerasan di negara penempatan.
Sebelumnya, Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, mendapatkan laporan tim di lapangan, rangkaian peristiwa memilukan tersebut bermula pada 25 Maret 2026 di kawasan Klang, Selangor.
Saat itu, Putri Hensy Aprilda yang sedang berbadan dua diduga mengalami penyiksaan berat hingga terpaksa melahirkan sebelum waktunya.
“Korban disiksa dengan sangat kejam. Perutnya dipijak dan dipukul berulang kali hingga akhirnya melahirkan sendiri sebelum waktunya. Dalam kondisi tersebut, bayi lahir berlumuran darah,” kata Haji Uma.
Tragedi tidak berhenti di situ. Setelah kelahiran prematur akibat kekerasan fisik tersebut, sang bayi malang juga ikut menjadi sasaran kekejaman pelaku hingga kondisinya kritis.
“Bayi itu tidak hanya sekali disakiti, tetapi diduga berulang kali diperlakukan secara kejam hingga akhirnya meninggal dunia,” ujarnya.
Setelah penyiksaan tersebut, sang bayi ditinggalkan begitu saja di lokasi kejadian, sementara Putri Hensy Aprilda dibawa paksa oleh pelaku ke kawasan Sepang, Selangor.
Warga setempat yang menemukan bayi tersebut sempat membawanya ke Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR) Klang untuk mendapatkan pertolongan medis.
Sayangnya, nyawa bayi tersebut tidak dapat diselamatkan.
Sementara sang bayi berjuang di rumah sakit, Putri Hensy Aprilda yang dibawa ke sebuah apartemen di kawasan Sepang diduga kembali mengalami penyiksaan beruntun hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. (*)

