Grid.ID- Kronologi Ketua BEM FH UBK akui terima dana Rp 20 juta usai demo di Istana Negara. Enam nama lain diketahui ikut terseret.
Ketua BEM Fakultas Hukum (FH) UBK Muhammad Abdimaludin baru-baru ini disidang oleh sejumlah mahasiswa. Aksi tersebut dilakukan karena ada dugaan dirinya menerima uang sebesar Rp 20 juta usai demo dan bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Negara, pada Senin (15/6/2026).
Para mahasiswa diketahui menggelar forum klarifikasi Abdimaludin ini di Kampus UBK, Jakarta Pusat, pada Senin (22/6/2026). Salah satu peserta forum yang juga mahasiswa FH UBK, Na'ilah Panrita Hartono mengungkapkan bahwa forum ini sengaja dibuat untuk menuntut transparansi total dari para pengurus BEM yang bertemu dengan Wapres Gibran.
"Pertemuan mereka dengan Wakil Presiden Gibran memicu banyak pertanyaan dari mahasiswa. Akhirnya disepakati untuk mengadakan forum agar semuanya bisa dijelaskan secara terbuka," kata Na’ilah, dilansir dari Serambinews.com.
Na'ilah mengatakan saat diskusi muncul adanya dua keterangan yang berbeda mengenai sumber uang yang didapat. Awalnya, disebut bahwa uang itu berasal dari seseorang yang meminta titik aksi dipindahkan, namun di akhir forum, Abdi menyebut dana yang diperolehnya berasal dari polisi yang bernama A'an.
"Karena ada perbedaan keterangan, kami mempertanyakan sebenarnya uang itu berasal dari siapa," ujarnya.
Adapun, forum disebut sempat berlangsung panas lantaran Abdi yang tidak kunjung hadir sejak awal kegiatan. Mahasiswa yang hadir kemudian meminta Ketua BEM FH itu datang dan memberi penjelasan terkait isu penerimaan uang yang telah beredar.
Setelah datang, Abdi lalu menjelaskan bahwa dana yang diterimanya diberikan dengan satu syarat khusus yaitu agar lokasi aksi demonstrasi mahasiswa dipindahkan. Tujuannya yaitu agar massa tidak menggangu kawasan Istana Negara dan memindahkan tempat demo ke depan gedung DPR RI.
"Dia menjelaskan kronologinya tentang dia dapat uang, sejumlah uang, yang menurut keterangannya ditujukan agar aksi tidak dilakukan di depan Istana Negara, tetapi dipindahkan ke DPR RI," ujar Na’ilah.
Namun, rencananya itu tidak terlaksana dan mahasiswa tetap berdemo di kawasan Istana Negara. Abdi kemudian mengakui bahwa dia menerima uang tersebut sehingga memicu kekecewaan mahasiswa yang mempertanyakan integritas pengurus organisasi kemahasiswaan.
Na'ilah membeberkan, Abdi dalam forumtersebut menjelaskan bahwa dana Rp 20 juta dia bagikan kepada tujuh orang. Adi menerima Rp 6 juta, sedangkan sisanya dibagikan kepada sejumlah pengurus BEM dan pihak lainnya.
Beberapa nama kemudian ikut disebut dalam forum itu antara lain Wakil Ketua BEM FH Rafli Maulana Akbar, Ketua BEM FE Pujiono, Wakil Ketua BEM FE Rafli Bastian, dan Mubarak Fosamu. Selanjutnya, dua nama lain yaitu ada senior organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yakni Amiruddin Emon dan Syafruddin Eno.
“Namun, hingga kini belum ada konfirmasi langsung dari pihak-pihak yang disebut menerima aliran dana tersebut,” katanya.
Dalam kronologi Ketua BEM FH UBK akui terima dana ini, mahasiswa lalu mengajukan delapan tuntutan kepada pihak kampus. Salah satunya yaitu meminta pihak universitas membentuk tim investigasi independen yang melibatkan unsur mahasiswa untuk mengusut dugaan penerimaan uang tersebut.
Selain itu, mereka juga meminta pihak-pihak yang diduga terlibat untuk membuat pernyataan terbuka dan mengakui perbuatannya. Mahasiswa juga meminta agar para pelaku yang menerima uang untuk mengundurkan diri dari jabatan organisasi kemahasiswaan.
Mahasiswa juga telah memberikan tenggat waktu kepada pihak kampus untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut. Forum ini juga turut disaksikan oleh sejumlah pejabat kampus, antara lain Wakil Rektor III, dosen, staf kemahasiswaan, Kaprodi Fakultas Hukum, serta Dekan Fakultas Hukum UBK.
Sementara itu, Abdi lewat video yang beredar di media sosial, mengaku telah menerima uang Rp 20 juta sebagai koordinator aksi demo. Melansir dari Kompas.com, uang tersebut dibagikan ke senior kampus UBK bernama Raffi dan Mubarak serta untuk kebutuhan lain.
"Terkait uang itu saya menerima 20 persen, saya memakai Rp 500 ribu, kebutuhan lain Rp 200 dan dibagi sama senior kampus Raffi dan mubarak," ucap dia dalam video yang diterima.

