Harga Tepung Tapioka dan Garam di Pasar Way Kandis Bandar Lampung Naik 100 Persen
Robertus Didik Budiawan Cahyono June 24, 2026 02:19 PM

Tribunlampung.co.id Bandar Lampung – Sejumlah pedagang Pasar Perumnas Way Kandis, Bandar Lampung mengeluhkan kelangkaan stok sejumlah bahan pokok selain mahalnya harga.

Baca juga: Harga Sayur di Pasar Tamin Bandar Lampung Naik sejak Ada Program MBG

Hal ini sebagaimana yang diungkap Andi, pemilik Toko Asri Pasar Perumnas Way Kandis. Menurut dia, banyak komoditas yang mengalami lonjakan harga.

Bahkan beberapa di antara komoditas tersebut sulit didapat karena stok dari distributor dan gudang kosong.

"Parahnya bukan sekadar harga naik, tapi barangnya juga tidak ada. Kami pesan ke gudang, jawabannya selalu kosong. Jadi selain harga naik, stok juga susah dicari," ujar Andi saat ditemui di tokonya Rabu (23/6/2026).

Di antara barang yang susah stoknya adalah minyak goreng program pemerintah. Dikatakan Andi, yang dapat menjual minyak goreng pemerintah hanya agen resmi. 

Agen resmi wajib memasang banner dan memenuhi berbagai persyaratan administrasi, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB) dan dokumen legalitas lainnya.

Sementara di Toko Asri, minyak goreng itu dijual seharga Rp15.700 per liter. Namun, stok sudah habis sejak minggu lalu karena distribusi yang terbatas.

"Kalau yang resmi pasti ada bannernya. Kami juga harus memenuhi fakta integritas dan syarat administrasi. Harga resmi Rp15.700 per liter, tapi stok sudah habis sejak minggu kemarin," katanya.

Sementara itu, harga minyak goreng di sejumlah tempat lainnya mencapai Rp20.000 hingga Rp22.000 per liter.

Andi menambahkan, bahwa tepung tapioka dan garam kini harganya meroket. Tepung tapioka yang sebelumnya Rp7.000 per kilogram naik menjadi Rp14.000 per kilogram. Atau meningkat 100 persen.

"Sebenarnya permintaan pasar sudah di angka Rp15.000 sampai Rp16.000 per kilogram, tapi kami tidak tega menjual setinggi itu. Banyak pelanggan kami pedagang makanan seperti penjual cireng, tempe, dan jajanan lainnya," jelasnya.

Sementara itu, harga garam kemasan setengah kilogram yang sebelumnya dijual sekitar Rp1.500 kini mencapai Rp3.000 per bungkus.

"Kalau garam kenaikannya sekitar 100 persen. Dulu Rp1.500, sekarang Rp3.000," ungkap Andi.

Di tengah kenaikan berbagai komoditas, harga gula justru menunjukkan tren penurunan tipis. 

Menurut Andi, harga gula dari distributor turun dari Rp835.000 per sak menjadi Rp825.000 per sak dalam sepekan terakhir.

"Kalau gula masih bisa dibilang stabil, malah sedikit turun dibanding minggu lalu," katanya.

Faktor Distribusi dan Biaya Produksi

Andi menilai kenaikan harga tidak hanya dipengaruhi oleh biaya transportasi dan bahan bakar, tetapi juga karena pasokan yang terbatas di tingkat distributor.

Beberapa perusahaan besar pemasok kebutuhan pokok disebut mengalami kekosongan stok di gudang sehingga pasokan ke pedagang terhambat.

"Permintaan tetap ada, tapi barang tidak ada. Akhirnya harga jadi melambung. Ditambah biaya pengiriman, bahan baku, dan faktor nilai tukar yang ikut memengaruhi harga," ujarnya.

Meski omzet penjualan belum mengalami penurunan drastis, Andi mengaku keuntungan yang diperoleh kini jauh lebih kecil dibanding sebelumnya.

"Kalau omzet masih ada, penurunannya sedikit. Tapi kalau bicara keuntungan, marginnya hampir tidak ada. Bahkan kadang harus nombok," katanya.

Para pedagang berharap pasokan barang kembali normal agar harga dapat lebih stabil dan daya beli masyarakat tetap terjaga. 

Saat ini, kelangkaan stok dan kenaikan harga menjadi tantangan utama yang dihadapi pedagang maupun konsumen di pasar tradisional.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.