Sejarah Kota Jakarta yang 2026 Ini Merayakan Ulang Tahunnya ke-499
Alfa Pratomo June 24, 2026 04:34 PM

Sejarah Kota Jakarta yang baru saja merayakan hari jadinya yang ke-499. Sebelum jadi Jakarta, kota ini dikenal sebagai Sunda Kelapa lalu Jayakarta.

Intisari-Online.com - Sejarah Indonesia mencatat, Jakarta, yang dulu dikenal sebagai Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia, tengah merayakan hari jadinya yang ke-499, tepatnya pada 22 Juni 2026 lalu.

Dulu, sebelum dikenal sebagai metropolitan besar, Jakarta adalah sebuah bandar penting yang dikuasai oleh Kerajaan Sunda yang bercorak Hindu-Buddha. Di tempat ini perdagangan rempah-rempah jadi pusatnya.

Di bandara ini juga para pedagang dan saudagar dari berbagai belahan dunia, dari Tiongkok, India, Arab, dan Eropa bertemu, bertransaksi, bertukar budaya, lalu mewarnai corak kehidupan masyarakat sekitarnya. Ketika itu, muara Sungai Ciliwung dipenuhi kapal-kapal kayu bertiang tinggi di mana saudagar-saudagar dari negeri-negeri Atas Angin itu datang silih berganti.

Yang mereka pertukarkan adalah porselen, sutra, kain tenun, dan komoditas perdagangan berharga lainnya. Di antara komoditas berharga saat itu adalah lada hitam.

Benar, Sunda Kelapa, pada masanya, adalah episentrum perdagangan internasional, di mana berbagai bahasa dan budaya saling menyatu untuk pertama kalinya di tanah Betawi.

Melihat kemesraan antara Sunda dan Portugis, Kesultanan Demak tidak tinggal diam. Mereka mengirim panglima perang ulung bernama Fatahillah (Falatehan) untuk merebut pelabuhan tersebut sebelum benteng Portugis sempat berdiri kokoh.

Pada 22 Juni 1527, pasukan Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Sebagai bentuk syukur atas kemenangan mutlak tersebut, Fatahillah mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti "Kota Kemenangan" atau "Kejayaan yang Sempurna".

Tanggal inilah yang hingga kini diperingati sebagai Hari Lahir Kota Jakarta.

Kejayaan Jayakarta runtuh ketika kongsi dagang Belanda (VOC) di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen datang. Pada 1619, VOC membumihanguskan Jayakarta dan membangun kota baru di atas puing-puingnya.

Kota baru inidinamakan Batavia (diambil dari nama suku Batavi, nenek moyang bangsa Belanda). Jan Pieterszoon Coen merancang Batavia menyerupai kota-kota di Belanda, lengkap dengan jaringan kanal/parit untuk transportasi dan pencegahan banjir, serta benteng besar (Kastel Batavia).

Batavia pun menjadi Pusat VOC di Asia Batavia menjadi pusat seluruh operasi dagang VOC di Asia (bahkan dijuluki Konigin van oosten atau Ratu dari Timur). Karena wilayah bawah (Benedenstad/Kota Tua) mulai tidak sehat dan sarat penyakit (malaria/disentri), pada abad ke-19 pusat kota digeser ke arah selatan, ke Bovenstad atau daerah Weltevreden yang sekarang mencakup Lapangan Banteng dan Monas.

Jakarta di era Toko Betsu Shi atau pendudukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945 juga megalami kisah sejarah yang tak terlupakan. Ketika Perang Dunia II berkecamuk dan Jepang berhasil menendang Belanda dari Nusantara pada 1942, nama Batavia dihapus karena dianggap terlalu berbau kolonial.

Jepang mengubah nama kota ini menjadi Djakarta Toko Betsu Shi (Kota Khusus Djakarta). Penggunaan nama "Djakarta" ini merupakan bentuk diplomasi Jepang untuk menarik simpati hati rakyat Indonesia. Sedangkan Jakarta di era pascakemerdekaan juga tak kalah menariknya melihat catatan sejarahnya.

Setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 pada 17 Agustus 1945, Jakarta resmi menjadi ibu kota de facto Republik Indonesia. Ambisi Presiden Soekarno kala itu ingin menjadikan Jakarta sebagai "Mercusuar Bangsa" di mata dunia.

Bung karno pun memprakarsai proyek-proyek raksasa (Proyek Monumen) seperti Monumen Nasional (Monas), Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal, Jembatan Semanggi, dan Hotel Indonesia.

Di era kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin atau sekitar tahun 1966-1977, Jakarta ditetapkan sebagai Daerah Khusus Ibukota (DKI). Kota ini melakukan modernisasi secara besar-besaran, mulai dari pembenahan kampung (KIP), pembangunan jalan tol, hingga lokalisasi budaya Betawi (Pekan Raya Jakarta/PRJ dan Taman Ismail Marzuki).

Jika membandingkan Jakarta satu dekade lalu dengan Jakarta hari ini, perbedaannya sangat terasa.

Salah satu aspek paling menarik dari perkembangan Jakarta saat ini adalah revolusi transportasi publik dan penataan ruang publik. Dahulu, Jakarta identik dengan kemacetan parah dan angkutan umum yang kurang nyaman. Kini, Jakarta memiliki sistem transportasi terintegrasi yang tidak kalah dengan kota-kota maju di Asia Tenggara.

Beberapa sistem transportasi di Jakarta di antaranya adalah Kereta MRT,LRT, commuter line. Selain itu ada Transjakarta yang merupakan Jaringan Bus Rapid Transit (BRT) terpanjang di dunia yang kini merambah ke rute-rute mikro (Mikrotrans, jacklingko).

Jakarta tidak lagi hanya ramah bagi kendaraan bermotor, tetapi mulai bergeser menjadi kota yang ramah pejalan kaki di pusat kota.

Selain itu juga hadir Taman Kota di beberapa tempat seperti Tebet Eco Park dan Taman Martha Tiahahu membuktikan bahwa ruang terbuka hijau bisa menjadi tempat pelepas penat yang estetis dan gratis bagi semua kalangan. Jika ingin melihat Jakarta atau Batavia jaman dulu bisa mendatangi kawasan kota tua yang sudah direvitalisasi.

Kawasan Batavia Lama kini sepenuhnya menjadi zona emisi rendah (low emission zone) yang khusus untuk pejalan kaki, menghidupkan kembali romantisme sejarah tanpa polusi.

Jakarta juga dibentuk oleh arus migrasi, akulturasi budaya Betawi, Tionghoa, Arab, dan Eropa, serta ketangguhan warganya yang datang dari seluruh pelosok nusantara demi mengadu nasib.
Kota Jakarta telah berganti nama berkali-kali, mengalami banjir besar, kebakaran, hingga pergolakan politik. Namun, seperti namanya yang abadi, Jakarta selalu menemukan cara untuk bangkit kembali—tetap kokoh berdiri sebagai kota kemenangan.

Selamat Ulang tahun kota Jakarta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.