Sosok I Made Dwi Sathya Kurniawan, Siswa SMAN 1 Kuta Utara Bali yang Lolos Paskibraka Nasional 2026
Putu Kartika Viktriani June 24, 2026 09:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Di balik seragam putih yang kelak dikenakan di Istana Negara, ada cerita panjang tentang mimpi masa kecil, rasa minder yang berhasil dikalahkan, hingga tekad besar membawa nama Bali ke tingkat nasional.

Sosok itu adalah I Made Dwi Sathya Kurniawan, siswa SMAN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung, yang resmi terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2026.

Pelajar kelahiran Badung, 8 Januari 2010 tersebut akan mengemban tugas pada Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, 17 Agustus 2026 mendatang.

Bagi Made Dwi, pencapaian ini bukan sekadar lolos seleksi nasional.

Ini adalah mimpi yang sudah tumbuh sejak masa kecil.

 

Dari Anak yang Menonton Paskibraka di Televisi, Kini Bersiap Berdiri di Istana Negara

Jauh sebelum mengenakan atribut Paskibraka, Made Dwi hanyalah seorang anak yang setiap tahun terpaku menonton prosesi pengibaran bendera di televisi.

Baca juga: Profil Ni Komang Gayatri, Siswi SMAN 1 Kubu Karangasem Bali yang Lolos Paskibraka Nasional 2026

Saat masih duduk di bangku SMP, ia selalu memperhatikan ketegapan para anggota Paskibraka yang bertugas saat Hari Kemerdekaan.

Dari sanalah cita-cita itu tumbuh.

Ia membayangkan suatu hari bisa berdiri di tempat yang sama, membawa kehormatan sebagai pengibar Sang Merah Putih.

Impian yang dulu hanya hadir di layar televisi, kini berubah menjadi kenyataan.

"Semuanya ini hasil perjuangan yang saya impikan dari dulu," ujar Made Dwi saat dikonfirmasi, Rabu 24 Juni 2026.

Perjalanan Seleksi dari Badung hingga Lolos ke Tingkat Pusat

Perjalanan Made Dwi menuju Istana Negara dimulai dari sekolah.

Ia mendapat kesempatan mengikuti seleksi berjenjang mulai dari tingkat Kabupaten Badung, seleksi Provinsi Bali, hingga akhirnya lolos ke tahap nasional di Jakarta.

Momen pengumuman dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjadi salah satu yang paling berkesan.

Saat namanya diumumkan sebagai wakil Bali, hal pertama yang ia lakukan adalah membagikan kabar itu kepada kedua orang tuanya.

"Saat pengumuman saya langsung sampaikan ke orang tua. Itu rasa bangga yang saya rasakan. Kami sama-sama mendengarkan hasil pengumuman," katanya.

Pernah Minder dan Insecure, Kini Percaya Diri Membawa Nama Bali

Di balik keberhasilannya, Made Dwi mengaku sempat berjuang melawan rasa tidak percaya diri.

Ia pernah merasa minder dan mempertanyakan kemampuannya sendiri saat berada di tengah persaingan ketat.

Namun perlahan ia mencoba mengubah pola pikirnya.

Ia mengingat bahwa dirinya telah berhasil terpilih dari begitu banyak peserta terbaik di Bali.

"Saya awalnya minder, insecure. Tapi saya ingat lagi, saya di Bali terpilih dari banyaknya pendaftar. Saya harus yakin bahwa saya berhak dan layak berdiri di Istana Negara," jelasnya.

Dukungan dari kedua orang tuanya, I Putu Suryawan dan Ni Wayan Risnawati, menjadi salah satu sumber kekuatan terbesar selama proses tersebut.

Menurutnya, keluarga selalu hadir memberikan semangat, perhatian, dan dukungan tanpa henti.

Hobi Lari dan Voli, Pernah Jenuh Selama Karantina Semi-Militer

Di luar aktivitas sekolah dan latihan, Made Dwi dikenal menyukai olahraga.

Ia memiliki hobi lari dan bermain voli, yang turut membantu menjaga kondisi fisik selama mengikuti tahapan seleksi.

Namun perjalanan menuju nasional juga tidak selalu mudah.

Selama menjalani karantina dengan sistem semi-militer di Jakarta, ia sempat merasakan jenuh dan rindu rumah.

"Saya pernah jenuh, rindu rumah saat karantina. Tapi saya ingat lagi orang tua saya selalu mendoakan dan teman-teman juga menyemangati," tuturnya.

Ia juga menyebut perhatian keluarga terhadap pola makan dan kebutuhan nutrisi menjadi bagian penting yang membantunya bertahan.

Bidik Posisi Pasukan 8 atau Komandan Kelompok 17 di Istana Negara

Meski telah memastikan tempat di Paskibraka Nasional, Made Dwi ternyata sudah memiliki target berikutnya.

Ia berharap dapat dipercaya menempati posisi yang menurutnya sangat prestisius saat upacara kemerdekaan nanti.

"Jika saya boleh memilih untuk diposisikan di formasi mana, maka posisi yang saya pilih adalah Pasukan 8 sebagai pembentang bendera atau sebagai Komandan Kelompok 17. Itu posisi membanggakan," ujarnya.

Target tersebut menunjukkan bahwa bagi Made Dwi, lolos ke tingkat nasional bukan garis akhir, melainkan awal untuk memberikan penampilan terbaik di momen bersejarah bangsa.

Ingin Jadi Praja IPDN Setelah Lulus Sekolah

Di balik disiplin dan semangatnya sebagai anggota Paskibraka, Made Dwi ternyata sudah menyiapkan mimpi berikutnya.

Ia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi kedinasan dan menjadi praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Menurutnya, pengalaman sebagai Paskibraka menjadi langkah awal membentuk karakter kepemimpinan dan pengabdian kepada negara.

Kini, dari seorang anak yang dahulu hanya menyaksikan pengibaran bendera lewat televisi, Made Dwi bersiap menuliskan sejarah baru dengan berdiri langsung di halaman Istana Negara membawa nama Bali dan Indonesia.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.