Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan atribut SMA Swadhipa Natar, Naufal Ghaly Oktora (16) berdiri tegap di tengah halaman sekolahnya.
Baca juga: Kisah Chika Azahra Salsabilla Siswi SMAN 1 Natar Lampung Selatan Lolos Paskibraka Nasional
Di sekelilingnya, Kepala Sekolah Kurniawan Bhakti Purwanto bersama jajaran guru dan para pelatih Paskibra berebut memeluk dan merangkulnya erat.
Momen kepulangan Naufal ke sekolah pada Rabu (24/6/2026) pasca-dinyatakan lolos sebagai Calon Paskibraka (Capas) Tingkat Nasional tahun 2026 itu seketika berubah menjadi ruang penuh tangis haru dan senyum kebanggaan.
Bagi anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Andi (47) dan Rini Nurbaiti (47) ini, tatapan mata bangga dari para gurunya adalah bayaran tunai atas peluh dan rasa sakit yang ia sembunyikan selama berbulan-bulan.
Warga Jalan Bima, Bumisari, Kecamatan Natar ini berhasil membuktikan bahwa anak daerah mampu menduduki peringkat pertama dalam seleksi super ketat di tingkat pusat untuk mewakili Provinsi Lampung di Istana Negara pada HUT RI ke-81 nanti.
"Sangat bangga sekali tentunya untuk diri saya sendiri, dan juga kedua orang tua, sekolah, maupun para pelatih," ujar remaja yang memiliki hobi berenang dan pencinta alam ini dengan suara yang sedikit bergetar menahan haru.
Langkah kaki Naufal menuju tangga Istana Negara tidak didapatkan lewat karpet merah. Sejak menggeluti dunia Paskibra dari bangku SMP, ia harus merayap dari seleksi tingkat sekolah, kecamatan, hingga merangkak ke peringkat empat di tingkat Kabupaten Lampung Selatan.
Perjuangannya berlanjut ke tingkat provinsi dengan menyabet peringkat kedua, hingga puncaknya, ia menyapu bersih peringkat pertama saat proses verifikasi akhir di tingkat pusat.
Di balik tubuh tegapnya yang tak goyah saat berbaris, Naufal menyimpan cerita tentang bagaimana ia harus berdamai dengan rasa lelah yang ekstrem.
Setiap hari, ketika remaja seusianya menghabiskan waktu untuk bermain, rutinitas Naufal justru berpindah dari lapangan panas ke meja belajar secara maraton tanpa putus.
"Tantangan terbesar tentunya kedisiplinan itu harus sangat ketat sekali. Banyak hal yang sudah dilewati, seperti latihan fisik dan juga sakit yang tidak bisa dirasakan, alias harus ditahan," kenangnya.
Bahkan, materi fisik yang menguras tenaga belum ada apa-apanya dibanding tekanan mental yang ia rasakan di ruang ujian. Naufal berseloroh, lima menit berhadapan dengan penguji dalam sesi wawancara kepribadian dan karakter adalah waktu paling menegangkan yang pernah ia lewati seumur hidupnya.
"Untuk tahapan seleksi yang cukup sulit itu mungkin di wawancara. Karena walaupun wawancara itu hanya 5 menit, cuman rasanya itu tegang sekali," selorohnya mengenang ketatnya ujian TWK, psikotes, hingga kesehatan tersebut.
Beruntung, di setiap tetes keringatnya, SMA Swadhipa Natar selalu berdiri pasang badan memberikan dukungan penuh, mulai dari dispensasi waktu hingga mendatangkan pelatih khusus demi mengasah kemampuannya.
Naufal pun merasa separuh dari separuh keberhasilannya ini adalah buah dari "jalur langit" dan ketekunan yang tak mengkhianati hasil.
"Tentunya kunci utama memohon kepada Tuhan. Dan juga kita tidak boleh memohon tapi tidak berusaha. Kita harus berusaha, berlatih, tekun, dan juga disiplin," tegasnya penuh kedewasaan.
Sembari mengucap rasa terima kasih yang mendalam kepada pihak yayasan sekolah, pelatih kecamatan, hingga jajaran Pemprov Lampung dan Pemkab Lampung Selatan, Naufal menatap masa depannya dengan binar mata yang optimistis.
Baginya, mandat mengibarkan Sang Merah Putih di hadapan Presiden nanti bukanlah akhir, melainkan sebuah batu loncatan besar demi meraih cita-cita masa kecilnya, memakai seragam taruna Akademi Militer (Akmil).
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )