TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA – Pengamat energi Feiral Rizky Batubara mengatakan, tantangan sektor energi ke depan akan semakin kompleks seiring meningkatnya kebutuhan energi domestik, dinamika geopolitik global, hingga percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih.
Dalam kondisi tersebut, Feiral meminta Pertamina perlu terus memperkuat kapasitas operasional dan investasinya agar mampu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan ketahanan energi nasional.
Pernyataan tersebut dia sampaikan menanggapi masuknya Pertamina dalam daftar Fortune Southeast Asia 500, baru-baru ini. Menurutnya capaian tersebut harus jadi pelecut semangat sekaligus pengingat atas besarnya tanggung jawab perusahaan dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Baca juga: Kinerja 2025 Positif, Pertamina Perkuat Ketahanan dan Akselerasi Transisi Energi
Selain itu, masuknya perusahaan dalam daftar Fortune Southeast 500 menunjukkan Pertamina tidak hanya mampu bersaing di tingkat global, tetapi juga semakin dituntut untuk memperkuat perannya sebagai tulang punggung penyediaan energi bagi masyarakat Indonesia.
“Hal terpenting yang perlu dilakukan Pertamina adalah untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas energi yang akan digunakan baik oleh masyarakat maupun pelaku industri. Ini adalah fokus utama untuk Pertamina," ujarnya dikutip Kamis (25/06/2026).
Feiral menjelaskan skala bisnis yang semakin besar harus diikuti dengan peningkatan efisiensi, penguatan tata kelola, serta keberanian melakukan transformasi di berbagai lini usaha.
“Pertamina dapat mempertahankan daya saingnya di tingkat global sekaligus memenuhi mandat strategis yang diberikan negara. Status sebagai perusahaan yang masuk dalam jajaran Fortune Global 500 harus dianggap sebagai posisi di garis start, sehingga harus terus terpacu untuk berinovasi, bertransformasi, meningkatkan kualitas layanan, memperkuat ketahanan energi nasional, dan mendukung target pembangunan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, posisi Pertamina sebagai perusahaan energi milik negara memiliki peran yang berbeda dibandingkan perusahaan migas global lainnya. Yakni, selain harus menghasilkan keuntungan dan menjaga kesehatan bisnis juga harus menjalankan mandat strategis untuk memastikan pasokan energi tetap tersedia, terjangkau, dan merata ke seluruh wilayah Indonesia.
Feiral menegaskan keberhasilan Pertamina menembus jajaran perusahaan terbesar dunia turut mencerminkan potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam sektor energi.
Karena itu, capaian tersebut perlu dijadikan modal untuk memperkuat kepercayaan investor, memperluas kerja sama strategis, serta mempercepat pengembangan berbagai proyek energi yang mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza di acara Penyerahan Awards Fortune Southest Asia 500 di kawasan SCBD Jakarta, Kamis (18/6/2026) lalu mengatakan, Pertamina mengemban amanah untuk menjadi pilar ketahanan energi nasional dan juga transisi energi.
Perusahaan menjalankan strategi pertumbuhan ganda yaitu memaksimalkan bisnis eksisiting dan membangun bisnis rendah karbon. "Ini untuk memastikan ketahanan dan transisi energi berjalan secara bersamaan," ujar Oki.
Fokus perusahaan saat ini adalah memastikan energi terutama BBM bersandar pada prinsip 4A dan 1S yaitu Availability (Ketersediaan), Accessibility (Kemudahan Akses), Affordability (Keterjangkauan Harga), dan Acceptability (Penerimaan/Kualitas) serta Sustainability (Keberlanjutan).