TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33 dimulai dari Madrasah Aliyah Negeri(MAN) 1 Yogyakarta.
Di MAN 1 Yogyakarta, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia, Wihaji hadir untuk memantau program Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak di Sekolah (GEMAR) pada Kamis(25/6/2026).
Saat berada di MAN 1 Yogyakarta, Menteri Wihaji sempat bercakap-cakap dengan para siswa di tengah lapangan sekolah.
Baca juga: Saat Hasto Wardoyo Membungkukkan Badan di Depan Menteri Wihaji dan Bilang Saya Argentina
"Jadi saya datang ini untuk memantau program GEMAR, kenapa karena anak-anak kita ini 25 persen sekarang mengalami 'fatherless' kekurangan kehadiran sosok ayah," kata Wihaji.
Pada kesempatan tersebut acara dibuka dengan penampilan tarian saman dari kelompok ekstralurikuler MAN 1 Yogyakarta.
Setelah tarian saman selesai, Wihaji kemudian sempat mengobrol dengan tujuh orang siswa yang menari tersebut.
"Jadi inu kegiatan ekskul tari ya. Ini kelas berapa semua," tanya Wihaji.
"Ada kelas 11, ada kelas 10 pak," jawab siswa.
"Mau hadiah nggak," tanya Wihaji yang dijawab dengan anggukan kepala tujuh orang siswa penari saman tersebut.
Tidak lama kemudian ajudan datang menghampiri Wihaji dan diminta segera bagikan uang masing-masing Rp 1 juta.
"Berikan hadiah masing-masing Rp 1 juta ya," kata Wihaji yang disambut tepuk tangan meriah guru dan siswa.
"Saya juga dulu sekolah di MAN bapak-bapak ibu-ibu. Tapi di MAN 1 Surakarta," kata Wihaji.
Faras salah satu siswa Kelas 10 MAN 1 Yogyakarta yang menerima hadiah uang Rp 1 Juta dari Menteri Wihaji mengaku senang dan gembira. Rencananya uang tersebut bakal ia tabung.
"Senang sekali pak mau saya tabung," katanya.
Eks Bupati Batang tersebut tidak berhenti bagi-bagi hadiah uang. Salah seorang siswa bernama Nada Rania juga mendapatkan hadiah.
Hadiah yang didapat Nada adalah tas gendong sekolah serta uang sebesar Rp 500 ribu. Nada mendapatkan hadiah tersebut setelah berbincang dengan Menteri Wihaji soal program remaja di MAN 1 Yogyakarta. Nada merupakan penggerak remaja atau Generasi Berencana(Genre).
Nada merupakan pelajar perantau dari Medan, Sumatera Utara. Ia memiliki program agar remaja seusianya yang saat ini memiliki perilaku menyimpang agar diluruskan kembali.
Rana yang kakak-kakaknya berkuliah di UGM Yogyakarta ini juga memiliki program 'Morning Candies'. Yakni pembagian permen yang bungkusnya diberikan kata-kata motivasi dan dibagikan kepada para siswa.
"Jadi ada 50 pack biar jadi motivasi karena mereka ini kan masuknya pagi jam 06.15 WIB biar semangat terus," kata Nada.
Siswi kelas XI ini juga mengajar di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Kegiatan yang dilakukan Nada tersebut bertujuan agar pelajar tingkat SD dan SMP bisa mengelola emosi dengan baik.
"Jadi kita ajarkan bagaimana tipsnya agar semangat Goes To School, jadi mereka bisa kelola emosi dengan baik," kata Nada.
Berlanjut kemudian, Menteri Wihaji juga membagikan uang kepada salah seorang siswa MAN 1 Yogyakarta yang sudah ditinggal ayahnya pergi menghadap Ilahi.
Siswa tersebut bernama Rasitya Hafidz Kumara. Hafidz saat ini hanya memiliki ibu yang bekerja sebagai guru Sekolah Dasar Muhamamdiyah di Karangwaru, Kota Yogyakarta.
Awalnya Menteri Wihaji berdialog di dalam kelas dengan ayah atau orang tua murid siswa MAN 1 Yogyakarta saat momen pengambilan rapor.
Tak lama kemudian ada seorang guru menghampiri Politikus Partai Golkar tersebut dan berbisik.
"Yang mana anaknya," kata Wihaji
Tak lama Hafidz Kumara datang dan bersalaman dan mencium tangan Menteri Wihaji.
"Di sini sekolah bayar tidak bapak dan ibu guru," tanya Wihaji.
"Sukarela bapak tapi ada sumbangan gedung nilainya Rp 4,5 juta," kata salah seorang guru.
"Ya sudah saya bantu bayarkan anak ini," kata Wihaji.
Eni Sulastri Ningsih yang juga ibu daei Hafidz Kumara tak kuasa menahan tangis saat Menteri Wihaji memberikan bantuan tersebut.
"Terima kasih bapak," kata Eni saat bersalaman dengan Menteri Wihaji.
"Jangan kebanyakan main game sama handphone ya," kata Menteri Wihaji sembari mengelus kepala siswa Hafidz Kumara.
Ditemui usai diberikan bantuan dari Menteri Wihaji. Eni mengaku terharu dan sangat senang.
"Alhamdulillah senang. Bapaknya sudah ngga ada mas," kata Eni.