Antusiasme besar terhadap peluang tim nasional Inggris untuk menjuarai Piala Dunia mendapat hambatan besar pada malam tadi, setelah The Three Lions harus puas bermain imbang 0-0 melawan Ghana yang tampil gigih dan terorganisir di bawah arahan mantan pelatih Manchester United, Carlos Queiroz. Permainan yang tersaji jauh dari kata menghibur, dan seperti yang bisa diduga, hasil ini memicu gelombang kritik dari para penggemar dan pengamat sepak bola.
Skuad asuhan Thomas Tuchel mendapat sorotan tajam karena gagal menembus pertahanan rendah Ghana yang sangat disiplin. Sementara itu, sebagian pihak menilai gaya bermain tim Queiroz membosankan karena kerap berusaha menghentikan ritme permainan lawan setiap kali ada kesempatan. Namun, legenda bek tengah Manchester United, Rio Ferdinand, tidak sependapat dengan penilaian tersebut dan segera membela mantan pelatihnya itu.
Queiroz pernah menjalani dua periode bekerja di Old Trafford bersama sosok legendaris Sir Alex Ferguson. Pelatih asal Portugal itu pertama kali bergabung dengan Manchester United pada tahun 2002 sebagai asisten manajer. Namun, ia hanya bertahan satu tahun sebelum meninggalkan klub untuk menjadi pelatih kepala Real Madrid.
Setelah dipecat oleh Real Madrid, Queiroz kembali ke Manchester United pada Juni 2004 dan bertahan hingga Juli 2008. Selama masa keduanya di klub, ia berperan penting dalam salah satu periode paling sukses dalam sejarah United, ketika klub tersebut meraih dua gelar Liga Premier Inggris dan satu trofi Liga Champions.
Meski demikian, masa Queiroz di United tidak selalu berjalan mulus. Sosoknya yang tegas sempat berselisih dengan Roy Keane, kapten tim saat itu. Dalam autobiografinya, Keane menulis bahwa perdebatan dengan Queiroz mengenai loyalitas menjadi salah satu alasan dirinya meninggalkan klub.
Dalam wawancara di ITV pada tahun 2018, Keane bahkan mengaku, “Salah satu penyesalan terbesar saya adalah mungkin saya seharusnya memukulnya.”
Tampaknya Keane pun belum benar-benar memaafkan Queiroz atas perselisihan mereka. Saat tampil sebagai komentator dalam liputan Piala Dunia di ITV, Keane menyindir mantan pelatihnya itu dengan mengatakan bahwa Queiroz memiliki “kepribadian seperti ikan mati ketika saya bekerja dengannya”.
Sementara itu, mantan pemain tim nasional Inggris, Rio Ferdinand, justru menunjukkan rasa hormat yang tinggi terhadap kemampuan manajerial Queiroz. Dalam podcast-nya, Rio Ferdinand Presents, ia mengatakan bahwa dirinya dan mantan rekan setimnya, Darren Fletcher, sama sekali tidak terkejut dengan performa Ghana.
“Darren Fletcher mengirim pesan di grup WhatsApp kami yang berisi para pemain United, dan ia menulis hal yang sama seperti yang saya pikirkan. Ini khas Carlos Queiroz: menyiapkan tim yang sulit dilawan, sulit dikalahkan, sangat terlatih, dan taktisnya luar biasa,” ujar Ferdinand.
Ferdinand juga membela performa Ghana dari para pengkritik, dengan mengatakan, “Mungkin mereka dianggap ‘membosankan’ oleh sebagian orang, tapi jika dilihat dari sudut pandang pelatih, ia berhasil mendapatkan hasil sesuai yang ia rancang. Jadi, kita harus menghormatinya.”
Terlepas dari berbagai pendapat tentang penampilan mereka, hasil imbang melawan Inggris hampir memastikan Ghana lolos ke babak gugur turnamen, yang akan menjadi pencapaian besar bagi Queiroz dan negara tersebut secara keseluruhan.