TRIBUNNEWS.COM - Dua gempa besar melanda dua lokasi di Venezuela dalam kurun waktu kurang dari satu menit pada Rabu (24/6/2026) malam waktu setempat atau Kamis pagi WIB.
Menurut situs United States Geological Survey (USGS), yang menyediakan data gempa bumi global secara real time, gempa pertama terjadi sekitar pukul 18.04 waktu setempat (Kamis pukul 05.04 WIB).
Pusat gempa berada sekitar 23 km Tenggara Yumare, Venezuela.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 tersebut memiliki kedalaman sekitar 12,8 kilometer.
Kurang dari satu menit kemudian, tepatnya 39 detik setelah gempa pertama, USGS melaporkan gempa kedua berkekuatan magnitudo 7,5.
Gempa tersebut terjadi sekitar 28 kilometer Tenggara Yumare, Venezuela.
"Gempa bumi ini adalah peristiwa pertama dari dua gempa. Gempa pendahulu berkekuatan magnitudo 7,2 diikuti hanya 39 detik kemudian oleh gempa utama yang lebih besar, berkekuatan magnitudo 7,5," kata USGS dalam pernyataannya.
USGS memperingatkan kemungkinan terjadinya banyak korban jiwa dan kerusakan, serta bencana ini berpotensi meluas.
Lembaga tersebut juga menyatakan bahwa gempa susulan, termasuk beberapa yang berpotensi menimbulkan guncangan kuat, kemungkinan akan terjadi setelah kedua gempa tersebut.
Menurut Guardian, selain ibu kotanya, Caracas, wilayah yang terkena dampak paling parah adalah negara bagian Miranda, La Guaira, Aragua, Carabobo, dan Falcon.
Baca juga: Kata Pakar Soal 2 Gempa Besar yang Guncang Venezuela, Terkuat dalam 100 Tahun
Mengutip The Guardian, Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, mengumumkan keadaan darurat.
"Kami meminta penduduk untuk tetap tenang dan bersatu," katanya di televisi pemerintah.
Rodriguez mengatakan bandara utama negara itu ditutup setelah mengalami kerusakan parah.
Ia juga mengumumkan bahwa layanan metro dan kereta api dihentikan.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada mereka yang telah kehilangan anggota keluarga," tambah Rodriguez.
Pemerintah belum menyebutkan jumlah korban jiwa maupun korban luka.
Rodriguez juga mendesak warga segera mengevakuasi bangunan yang mengalami kerusakan.
Banyak warga Venezuela berada di rumah ketika gempa terjadi karena hari itu merupakan hari libur nasional.
Sejumlah warga menceritakan pengalaman mereka saat gempa mengguncang.
"Begitu gempa dimulai, kami mulai mendengar orang-orang berteriak," kata Astrid Ramirez, 41 tahun, warga Caracas.
"Semua orang berlari menuruni tangga."
Warga di seluruh ibu kota berhamburan keluar saat bangunan berguncang.
"Terdengar suara benturan yang sangat keras. Barang-barang berjatuhan di rumah, bahkan kendi di dalam kulkas. Saya belum pernah mengalami hal seperti ini," kata Coro Martinez, 56 tahun, dari Caracas bagian timur.
Maria Romero, seorang pensiunan berusia 80 tahun di Caracas selatan, mengatakan polisi membantunya keluar dari rumah.
"Gempa ini mengerikan, bahkan lebih buruk daripada gempa tahun 1967," katanya.
Caracas pernah dilanda gempa bumi dahsyat berkekuatan 6,3 skala Richter pada 1967.
Warga lainnya mengatakan ia menerima peringatan gempa di ponselnya sesaat sebelum guncangan semakin kuat.
"Saat itu sore hari yang normal, lalu tiba-tiba ponsel saya mengeluarkan peringatan gempa bumi," katanya.
"Saat saya mulai mendengarkan peringatannya, awalnya saya hanya merasakan guncangan ringan. Namun, dalam waktu kurang dari dua detik, semuanya mulai bergerak."
Mengutip union-bulletin.com, gempa bumi besar jarang terjadi di Venezuela.
Meskipun negara itu berada di dekat beberapa garis patahan, posisinya di antara Lempeng Amerika Selatan dan Lempeng Karibia membuat gempa bumi jauh lebih jarang terjadi dibandingkan wilayah lain di Amerika Latin.
Sebaliknya, di sepanjang pantai Pasifik, seperti Meksiko dan Chili, gempa bumi jauh lebih sering terjadi.
Kedua negara tersebut berada di sepanjang sabuk tektonik aktif yang dikenal sebagai "Cincin Api Pasifik", yang menurut USGS bertanggung jawab atas sekitar 90 persen gempa bumi di dunia.
Amerika Serikat sedang memobilisasi bantuan untuk Venezuela, demikian disampaikan seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS kepada Reuters.
Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Bantuan Luar Negeri, Jeremy Lewin, kemudian mengumumkan melalui X.
"Bekerja sama dengan mitra kami di pemerintahan sementara Venezuela, AS akan mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan, pasokan medis dan kemanusiaan, serta sumber daya lainnya pada hari-hari pertama yang krusial setelah bencana alam tragis ini," katanya.
Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Caracas menyatakan seluruh personel AS telah terdata dalam keadaan aman.
Presiden AS Donald Trump mengatakan laporan awal yang diterimanya dari Venezuela tidak baik.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut gempa tersebut menyebabkan jumlah korban jiwa yang sangat besar.
"Dua gempa bumi besar yang baru saja mengguncang rakyat Venezuela sama-sama dahsyat dan telah menyebabkan banyak korban jiwa. Amerika Serikat siap, bersedia, dan mampu membantu! Saya telah menginstruksikan semua lembaga pemerintah kami untuk bersiap bergerak cepat. Kami akan berada di sana untuk teman-teman baru dan hebat kami. Laporan awal tidak baik!!! Presiden DJT."
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa di Venezuela, dan Trump juga tidak menyebutkan angka korban dalam unggahannya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)