10 Muharram Penjualan Alat Rumah Tangga di Topoyo Mateng Lesu Pedagang Sebut karena Ekonomi Anjlok
Ilham Mulyawan June 25, 2026 02:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH — Momentum 20 muharram biasanya diramaikan aktivitas perburuan barang pelah belah, berupa alat kebutuhan rumah tangga.

Perburuan barang pecah belah, biasanya dipercaya membawa berkah dan kelancaran rezeki, tradisi ini dilakukan di pasar tradisional setiap hari Asyura (10 Muharram).

Sebab, membeli alat dapur baru seperti piring, ember, dan perabotan pecah belah dipercaya oleh suku Bugis-Makassar akan membawa keberkahan, memperlancar rezeki, dan membuat barang yang dibeli tidak cepat rusak atau awet digunakan.

Baca juga: RESMI Diundur, Catat Jadwal Baru Pengumuman Hasil Seleksi PPPK Sekolah Rakyat

Baca juga: Penjual Pecah Belah di Mamuju Panen Pembeli di Momen 10 Muharram 1448 Hijriah

Namun pedagang di kompleks pasar Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat mengeluh karena daya beli masyarakat momentum 10 Muharram sedikit.

Mizwar, pedagang pecah belah di lokasi tersebut, mengungkap penyebab utama turunnya minat pembeli adalah kondisi ekonomi masyarakat lesu.

"Kalau dibandingkan tahun kemarin, tahun ini agak sepi. Beda jauh. Kalau dipersentasekan, tahun lalu antusias masyarakat sekitar 75 persen, tahun ini hanya 25 persen," ungkap Mizwar dengan mimik wajah lesu, Rabu (25/6/2026).

Ia menambahkan, tahun 2025 lalu, pembeli sudah ramai membanjiri lapaknya sejak pukul 05.00 subuh hingga malam hari. 

Namun tahun ini, pembeli baru mulai terlihat sekitar pukul 07.00 WITA dan diprediksi hanya akan buka hingga sore.

Dampaknya, omzet diraih pun merosot tajam. 

"Tahun kemarin omzet bisa sampai puluhan juta rupiah, tetapi tahun ini di bawah Rp5 juta," keluhnya.

Beragam peralatan rumah tangga seperti gayung, ember, penapis, panci, dan berbagai pecah belah lainnya masih tersedia di tokonya dengan harga mulai dari Rp5 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung jenis dan ukuran barang.

Meski suasana pasar terbilang sepi, sejumlah warga masih terlihat setia membeli pecah belah. 

Tradisi Turun Temurun

Hj. Rahmatia, seorang warga setempat, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bagian dari ritual Mappasagena telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bugis-Makassar di Topoyo.

"Kata orang-orang tua dahulu, membeli pecah belah di bulan Muharram itu baik," ujarnya.

Ia tampak membeli penapis dari anyaman, sementara warga lain terlihat memilih gayung, panci, baskom, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.

Tradisi 10 Muharram memang kerap dimanfaatkan masyarakat membeli perabotan baru sebagai simbol harapan kebaikan di masa mendatang. 

Namun, tekanan ekonomi tahun ini tampaknya cukup berpengaruh terhadap daya beli masyarakat di Mamuju Tengah.(*)

Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.