TribunGayo.com, REDELONG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bener Meriah, Provinsi Aceh, menggelar Rapat Monitoring, Koordinasi, dan Konsolidasi Pelaksanaan Penanganan Pasca Bencana (Rehabilitasi dan Rekonstruksi) di Aula Pendopo Bupati Bener Meriah pada Kamis (25/6/2026).
Langkah ini diambil guna mempercepat pemulihan setelah daerah tersebut dilanda bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang sejak November 2025 hingga awal tahun 2026.
Saat ini, Kabupaten Bener Meriah masih berada dalam status Transisi Darurat Menuju Pemulihan untuk mengakselerasi seluruh agenda rehabilitasi dan rekonstruksi.
Rapat penting ini dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, serta sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Secara spesifik, pejabat yang hadir meliputi Sekretaris Daerah (Sekda) Bener Meriah Riswandika Putra, Plt Direktur Pemulihan dan Peningkatan Sosial Ekonomi dan Sumber Daya Alam BNPB Dr Asep Supriatna, Tim Satgas PRR Aceh Dr Drs Imran.
Hakim Pengadilan Negeri Bener Meriah Jantrio Parhusip SH, serta perwakilan dari Kejaksaan Negeri, Polres, dan Kodim 0119/Bener Meriah.
Baca juga: Kawal Pembangunan Daerah, Pemkab Bener Meriah Matangkan Revisi Tata Ruang Wilayah
Dalam pemaparan perkembangan penanganan, pemerintah melaporkan data terkini terkait sektor perumahan dan pemukiman:
Pemerintah Kabupaten Bener Meriah melalui Dinas Sosial juga telah merampungkan penyaluran sejumlah bantuan stimulan dan jaminan sosial dengan progres mencapai 100 persen, meliputi:
Di bidang infrastruktur fisik, pemerintah telah melakukan penanganan darurat terhadap 32 ruas jalan dan 15 unit jembatan yang terdampak bencana.
Namun, kebutuhan anggaran untuk rekonstruksi jalan dan jembatan ini diperkirakan mencapai triliunan rupiah karena mencakup jaringan jalan nasional, provinsi, maupun kabupaten.
Sementara pada sektor sumber daya air dan irigasi, langkah yang telah diambil adalah:
Kendati demikian, kebutuhan anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pada sektor ini dinilai masih cukup besar demi mendukung pemulihan aktivitas pertanian masyarakat.
Baca juga: Sering Dipertanyakan Warga, Ternyata Ini Alasan Pemkab Bener Meriah Belum Perbaiki Jalan Enang-enang
Pemerintah menegaskan bahwa sektor pendidikan, pertanian, perkebunan, perikanan, dan perdagangan turut menjadi perhatian serius karena skala kerusakannya yang berdampak langsung pada masyarakat:
Selain itu, Pasar Buntul dan Pasar Lampahan juga membutuhkan rehabilitasi mendesak guna mengembalikan aktivitas ekonomi masyarakat.
Merespons pemaparan tersebut, Plt Direktur Pemulihan dan Peningkatan Sosial, Ekonomi dan Sumber Daya Alam BNPB, Dr. Asep Supriatna, menekankan pentingnya sinergi dari seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.
"Seluruh pihak diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dan kolaborasi agar program rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan tepat waktu, tepat sasaran, serta akuntabel demi percepatan pemulihan masyarakat terdampak,” ujar Asep.
Melalui rapat konsolidasi ini, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah bersama BNPB, Pemerintah Aceh, dan seluruh pemangku kepentingan menyatakan komitmen bersama untuk terus mempercepat proses pemulihan pasca bencana.
Upaya terpadu ini ditargetkan agar masyarakat dapat segera kembali beraktivitas secara normal dan pembangunan daerah dapat berjalan sebagaimana mestinya. (***Bustami***)
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan dan Pemkab Bener Meriah Validasi Data Petani Sawit