Kades & Karang Taruna Bersatu! Rahasia Ngulahan Park Jadi Magnet Wisata Relaksasi di Rembang, Jateng
Tim TribunStyle June 25, 2026 06:05 PM

Kades & Karang Taruna bersatu! Rahasia Ngulahan Park Jadi Magnet Wisata Relaksasi di Rembang, Jateng

TRIBUNSTYLE.COM – Sosok N Arthur (38), seorang pria yang aktif sebagai kader konservasi di bawah naungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah (BKSDA Jateng), menginisiasi pembuatan sebuah taman pelestarian khusus untuk rupa-rupa satwa eksotis yang berasal dari berbagai penjuru wilayah Nusantara.

Taman konservasi mandiri besutan pria yang akrab disapa Paman N ini diberi nama Ngulahan Park, yang bertempat di wilayah Desa Ngulahan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.

Terlahir dengan kecintaan yang mendalam terhadap fauna, N Arthur sejak masa kanak-kanak sudah menjalin kedekatan dengan beraneka macam binatang. Berangkat dari garis takdir tersebut, Paman N kini mendedikasikan dirinya untuk mengelola kawasan Ngulahan Park.

Baca juga: Hanya 40 Menit dari Kota! Pesona Waduk Kubangkangkung di Kawunganten, Kabupaten Cilacap, Jateng

Ngulahan Park itu sendiri mengusung konsep taman terbuka yang dihuni oleh kumpulan satwa eksotis endemik asli Indonesia yang dilepasliarkan secara bebas tanpa kungkungan jeruji kandang.

Walaupun dilepas secara bebas, kelompok satwa tersebut dikategorikan memiliki sifat yang sangat jinak serta bersahabat saat berinteraksi dengan manusia.

"Mulanya, teman-teman Karang Taruna Desa Ngulahan ingin menyelamatkan atau merehabilitasi hewan-hewan di Rembang, khususnya jalak oren dan merak yang bisa dianggap di ambang punah," jelas Paman N, Sabtu (14/12/2024).

Selama kurun waktu dua tahun pada fase awal perintisan—yakni sekira tahun 2021—Paman N bersama rekan-rekannya sukses mengembangbiakkan spesies jalak oren hingga populasinya menyentuh angka 80 ekor, dari yang semula hanya bermodalkan sepasang indukan saja.

Burung-burung hasil penangkaran tersebut saat ini sudah terbang bebas di alam terbuka untuk mencari sumber makanan secara mandiri, tetapi mereka konsisten untuk tetap kembali bersarang di area Ngulahan Park.

Hingga kini, Paman N juga terpantau masih mengarantina serta merehabilitasi beberapa spesies burung lainnya sebelum nantinya siap dilepasliarkan ke alam bebas.

Baca juga: Ada Ribuan Monyet! Intip Serbuan Turis di Goa Kreo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah

Terhadap kelompok unggas yang tengah berada dalam masa rehabilitasi tersebut, pihaknya mencurahkan perhatian ekstra seperti memberikan pasokan pakan harian secara rutin serta memberikan tindakan medis apabila satwa terindikasi mengidap penyakit.

Berdasarkan hasil pengamatan jurnalis Tribunmuria.com di lapangan, beraneka macam jenis burung terlihat terbang bebas mengeksplorasi area seputar Ngulahan Park hingga memenuhi langit cakrawala Rembang.

Sebagai contoh, tampak sepasang burung merak bersama ketiga ekor anaknya yang berjalan-jalan dengan santai, serta keberadaan tiga ekor burung rangkong jawa yang gemar bertengger di sekitar kedai warung kopi setempat.

Tidak sebatas itu, spesies burung jalak bali pun terlihat terbang bebas berbaur dengan kawanan jalak oren, jalak putih, cendet, serta pelbagai varietas burung lainnya.

Jika diakumulasikan secara keseluruhan, koleksi di Ngulahan Park mencakup 38 jenis hewan, yang di dalamnya juga menampung fauna seperti iguana, ular piton, lebah tawon klanceng, dan satwa lainnya, meski populasi di Ngulahan Park secara umum didominasi oleh kelompok unggas.

Dalam perjalanannya, kawanan burung yang telah dilepasliarkan tersebut sesekali memang terbang mencari makan di area lahan pertanian milik penduduk sekitar, sehingga mengonsumsi sebagian hasil tanaman milik para petani.

Oleh karena itu, demi memastikan eksistensi burung-burung endemik tersebut tetap terjaga kelestariannya di alam, Paman N bersama jajaran pengurus karang taruna setempat secara swadaya patungan mengumpulkan dana guna meringankan beban kerugian para petani.

Baca juga: Serbuan Ribuan Peziarah! Rahasia Religi Menara Kudus di Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus,

"Dahulunya memang burung yang dilepas itu makan hasil pertanian warga, kami juga sempat memberikan santunan kepada warga sekitar yang merasa dirugikan dengan memberikan uang tambahan untuk beli pupuk."

"Namun, warga sekarang tidak mau menerima karena mereka bisa buka warung di sekitar sini dan cari rezeki tambahan di sini," papar Paman N mengenai dinamika sosial di sana.

Dalam menuntaskan misi konservasi berskala lingkungan ini, N Arthur tentu disadari tidak dapat bergerak sendirian. Dirinya mutlak memerlukan kolaborasi dengan pihak pemerintah desa guna menerbitkan regulasi berupa Peraturan Desa (Perdes) yang melarang keras aktivitas perburuan satwa endemik di zonasi tersebut.

Lebih jauh, N Arthur juga aktif membangun komunikasi dengan jajaran pemerintah desa tetangga di sekitar wilayah Ngulahan untuk mengimbau mereka merumuskan payung hukum serupa.

Di samping itu, pihaknya juga gencar menggalang agenda sosialisasi terpadu kepada segenap lapisan masyarakat—mulai dari usia anak-anak hingga kalangan dewasa—untuk menumbuhkan rasa sayang dan peduli dalam melindungi satwa, serta mengedukasi agar tidak ada lagi aksi penembakan maupun penangkapan satwa liar untuk tujuan diperjualbelikan.

"Memang harus kita lakukan untuk menyadarkan masyarakat, apa yang sudah rusak bisa kita perbaiki minimal dari lingkup yang terkecil," ungkapnya secara filosofis.

Pengembangan Ngulahan Park Sebagai Destinasi Wisata
Dalam koridor pengembangan program konservasi satwa endemik tersebut, diperlukan sebuah ruang sosialisasi langsung ke tengah publik sekaligus membiasakan masyarakat untuk bisa hidup harmonis berdampingan dengan satwa yang dilepasliarkan.

Atas dasar pertimbangan tersebut, destinasi Ngulahan Park kini resmi dibuka untuk khalayak umum tanpa dipungut biaya masuk sepeser pun. Hal ini dimaksudkan agar para pelancong yang bertandang dapat mengamati serta mempelajari secara langsung karakteristik satwa-satwa endemik yang menghuni Ngulahan Park.

Meskipun sempat mengalami masa vakum dalam beberapa waktu, pada momentum kali ini Ngulahan Park resmi beroperasi kembali terhitung sejak bulan Desember 2024.

Baca juga: Wisata Rasa di Pasar Johar Semarang, Cobain 5 Kuliner Legendaris dari Sate Kambing sampai Es Gempol

"Kami melakukan ini untuk konservasi, tanaman dan hewan yang kami rawat itu berasal dari dana pribadi jadi silakan kalau mau datang dan bersantai, di sini juga ada tempat untuk santai," cetus N Arthur.

Kendati demikian, diakui masih terdapat beberapa aspek sarana yang memerlukan sentuhan perbaikan di dalam area lokasi Ngulahan Park. Beberapa di antaranya meliputi pengadaan fasilitas kursi dan meja indoor (ruang tertutup) serta pemenuhan stok pakan bagi satwa-satwa yang kini masih berada di pos rehabilitasi.

N Arthur mengimbuhkan bahwa hingga detik ini, jalannya roda operasional taman konservasi di Ngulahan Park tersebut masih berjalan mandiri tanpa adanya kucuran bantuan modal dari pihak eksternal.

"Masih belum mendapatkan permodalan, kalau dapat akan kami gunakan untuk perbaikan kandang rehabilitasi satwa, makanan satwa yang direhab, penambahan tumbuhan dan untuk pembelian meja ataupun kursi untuk pengunjung serta lainnya," pungkas N Arthur mengharapkan dukungan.

(Tribunmuria.com/Rezanda Akbar D/Tribunstyle.com/Naja Taqiyyuddin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.