SURYA.CO.ID, BANYUWANGI – Kemacetan horor kembali terjadi di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi.
Kemacetan yang menyebabkan antrean panjang di jalan raya masuk ke arah pusat Kabupaten Banyuwangi itu terus makin para hari ini, Kamis (25/6/2026).
Situasi yang terus berulang itu kini memicu sorotan tajam dari berbagai pihak yang merugi akibat mandeknya perputaran roda ekonomi.
Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) bahkan langsung turun tangan memetakan sengkarut masalah itu.
"Kami menyampaikan keprihatinan atas terjadinya antrean kendaraan di lintas penyeberangan Ketapang–Gilimanuk dalam beberapa hari terakhir, khususnya pada masa libur sekolah dan meningkatnya aktivitas logistik nasional," kata Khoiri Soetomo, Ketua Umum Gapasdap.
Baca juga: Kemacetan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Capai 10 Jam dan Rugikan Sopir Truk
Ia menyebut, kemacatan terjadi saat ini bukan disebabkan oleh kurangnya jumlah kapal yang beroperasi.
"Saat ini terdapat sekitar 56 kapal yang memiliki izin operasi dan siap melayani lintas Ketapang–Gilimanuk. Akan tetapi jumlah dan juga kapasitas dermaga yang tersedia saat ini hanya mampu mengakomodasi sekitar 28 kapal untuk beroperasi secara efektif per harinya," tutur dia.
Dengan demikian, lanjut dia, setiap hari terdapat sekitar 28 kapal lainnya yang harus menunggu giliran operasi sebagai kapal cadangan.
"Fakta itu menunjukkan bahwa permasalahan utama yang dihadapi saat ini bukan karena kekurangan armada kapal, melainkan keterbatasan jumlah dermaga dan kapasitas pelabuhan yang belum mampu mengoptimalkan operasional seluruh kapal yang memiliki izin operasi," sambungnya.
Baca juga: Antrean Kendaraan Menuju Pelabuhan Ketapang Mengular hingga Dua Kilometer
Gapasdap menyebut, kemacetan terjadi setidaknya akibat tujuh faktor.
Tujuh faktor Biang Kerok Macet :
1. Peningkatan signifikan kendaraan logistik, bus, dan kendaraan pribadi selama masa libur sekolah.
2. Keterbatasan jumlah dermaga yang tersedia untuk melayani pertumbuhan kendaraan.
3. Terbatasnya kapasitas dermaga, yang ditunjukkan dengan sebagian dermaga belum dapat melayani seluruh jenis kendaraan logistik bermuatan besar secara optimal.
4. Kondisi arus laut dan cuaca yang pada bulan Juni-Juli cukup kuat, sehingga mempengaruhi kecepatan proses sandar dan bongkar muat kapal.
5. Belum optimalnya pemanfaatan seluruh fasilitas pelabuhan akibat adanya keterbatasan infrastruktur pendukung yang memerlukan perbaikan dan pengembangan.
6. Keterbatasan area penyangga (buffer zone) dan akses jalan menuju pelabuhan yang semakin terbebani oleh pertumbuhan kendaraan.
7. Kurangnya infrastruktur jalan raya yang menuju ke pelabuhan, menyebabkan kendaraan yang antre juga bercampur dengan kendaraan logistik yang menuju pelabuhan lombok melalui Pelabuhan Tanjung Wangi. Pelabuhan Tanjung Wangi yang berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang saat ini hanya mengoperasikan 2 kapal dari semula 4 kapal.
Infrastruktur Penyeberangan Harus Jadi Prioritas
"Kondisi yang terjadi saat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur penyeberangan nasional harus menjadi prioritas bersama," tutur dia.