Bahlil Pastikan RI Setop Impor Solar dengan Peluncuran B50
Vito June 25, 2026 11:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pemerintah memastikan Indonesia akan menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar mulai tahun ini seiring dengan peningkatan bauran energi hijau.  

Langkah strategis itu sejalan dengan kesiapan peluncuran program mandatori biodiesel 50 persen atau B50 yang dijadwalkan meluncur pada 1 Juli 2026. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, kebijakan itu menjadi penyelamat ketahanan energi nasional dari ketergantungan pasokan luar negeri.  

"Ternyata dengan B10 sampai B40 yang besok Juli akan kita resmikan B50, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor Solar kita. Dan mulai tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar," katanya, di acara Energy Forum, di Jakarta, Kamis (25/6). 

Menurut dia, total konsumsi Solar nasional saat ini mencapai 39 juta kiloliter (kl), di mana pada program B40 sebelumnya, porsi bahan bakar nabati sudah mencapai 40 persen.  

"Dari 39 juta kiloliter itu kemarin B40 itu 40 persen pakai FAME. FAME itu adalah dari CPO dengan metanol dicampur, jadilah FAME. Kemudian dicampur menjadi Solar yang namanya B40," jelasnya. 

Bahlil menuturkan, program hilirisasi kelapa sawit ini sejatinya telah dirintis sejak 2016 lalu mulai dari tingkat pencampuran terendah guna menjaga stabilitas harga di tingkat produsen.  

"Mandatori B10 sampai B40 dilakukan sejak 2016. Ini tujuannya apa? Harga petani sawit lagi turun, untuk menjamin market agar petani sawit kita harganya bagus, maka dilakukanlah hilirisasi terhadap konsumsi domestik, yang namanya B10, kemudian harga petani bagus, menjadi B40," bebernya. 

Melalui implementasi B50, ia menyebut, substitusi bahan bakar nabati diproyeksikan mampu menutup hingga setengah dari total kebutuhan konsumsi harian domestik yang setara ratusan ribu barel.  

"Jadi dengan B50 ini 50 persen, kan konsumsi kita 50 persen dari solar itu kurang lebih sekitar 300.000 barel per hari yang bisa kita cover. Jadi artinya impor crude kita yang 1 juta barel per hari itu tinggal sekitar 700.000 barel per hari, karena 300.000 barelnya itu dikonversi dengan B50, FAME itu," terangnya. 

Ke depan, Bahlil menyatakan, pemerintah membuka peluang untuk terus meningkatkan kadar campuran biodiesel ini ke tingkat yang lebih tinggi apabila ketersediaan lahan kelapa sawit domestik mencukupi.  

"Nah ini kan, kalau tidak dapat minyak di laut, tidak dapat minyak di darat, ya dapat minyak tumbuhan saja. Saya lagi pikir-pikir ya, kalau begini bisa, Pak Presiden perintahkan, bisa gak kita buat B70, B80, tinggal kita tambah lahan. Tapi begitu kita ditambah lahan, ada yang gak setuju lagi," tukasnya. (Kontan/Arif Ferdianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.