SURYA.co.id, Sidoarjo – Melangkah masuk ke pekarangan Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 5, Sidokumpul, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur suasana hangat langsung menyergap. Bangunan bergaya asri yang dulunya merupakan rumah dinas milik Bank Rakyat Indonesia (BRI) ini kini telah bersalin rupa menjadi episentrum harapan bagi ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sidoarjo.
Di sinilah berdiri Rumah BUMN Sidoarjo, sebuah wadah kolaboratif yang didirikan khusus untuk memeluk mimpi-mimpi para pengusaha lokal agar tidak layu sebelum berkembang.
Memulai sebuah bisnis dan menuntunnya hingga gerbang kesuksesan adalah impian setiap orang. Namun, realitas di lapangan sering kali berkata lain.
Banyak usaha rintisan yang jalan di tempat, bahkan berujung gulung tikar karena minimnya pembinaan. Menyadari celah tersebut, Kementerian BUMN menginisiasi kehadiran Rumah BUMN di berbagai daerah, dengan BRI sebagai motor penggeraknya di Kabupaten Sidoarjo.
"Kami mulai beroperasi di Sidoarjo sejak awal 2018. Kebetulan sampai 2019 lokasinya sempat menyewa di Desa Kludan, Tanggulangin. Baru setelah itu kami pindah ke Jalan Jaksa Agung ini menggunakan aset milik BRI," kisah koordinator Rumah BUMN Sidoarjo, Wahyu Andini (32), saat ditemui SURYA.co.id pada Kamis sore.
Perempuan yang akrab disapa Dini ini menjelaskan bahwa perubahan status tempat dari sewa menjadi milik sendiri memberikan kestabilan bagi mereka untuk menyusun program jangka panjang bagi para pelaku usaha.
Visi yang diusung oleh Rumah BUMN Sidoarjo sangat terukur: mendampingi UMKM naik kelas melalui empat pilar utama, yakni branding (merek), packaging (kemasan produk), perizinan, hingga perluasan pemasaran digital.
"Kebetulan setelah hantaman pandemi, hampir semua pedagang dipaksa beralih ke ekosistem daring. Karena itu, kami menjalin kerja sama dengan berbagai platform besar seperti TikTok, Shopee, hingga Lazada untuk membantu pemasaran mereka," ungkap Dini.
Syarat untuk bergabung pun dirancang sangat mudah agar tidak membebani pelaku usaha pemula. Cukup memiliki kemauan, memiliki rintisan usaha—atau bahkan baru berupa rencana bisnis—dan membuka rekening BRI.
Bagi UMKM yang aktif, rumah dinas yang disulap ini tidak hanya menjadi tempat singgah, melainkan ruang kelas tempat mereka berkonsultasi, mengadukan kendala bisnis, dan yang paling penting, membangun jaringan kemitraan sesama pengusaha lokal.
Ketulusan pendampingan di Rumah BUMN Sidoarjo telah dirasakan langsung oleh sejumlah pelaku usaha lokal yang kini namanya mulai dikenal luas di Sidoarjo.
Sebut saja pasangan suami istri Asnawi Nurali (51) dan Ari Susilowati (50), pemilik Kebab Big Buzz asal Prambon. Bergabung sebagai mitra binaan sejak 2021, mereka kerap dilibatkan dalam berbagai pameran strategis yang diselenggarakan oleh BRI guna meluaskan pasar produk kebab dan burger mereka.
"Hampir di setiap pameran BRI kami selalu diajak, atau ditawari ikut. Acara terakhir di Mojokerto," aku Ari kepada SURYA.co.id.
Cerita inspiratif lainnya datang dari Endang Purwanti (48), pemilik usaha kue tradisional Dapoer Vene asal Desa Kletek, Taman. Sebelum mengenal Rumah BUMN Sidoarjo, Endang sempat kebingungan merintis aspek legalitas dan kemasan produknya.
"Alhamdulillah, setelah dikurasi dan dibimbing di sini, kemasan kue kami naik kelas," ungkap Endang bangga
Puncak kebanggaan Rumah BUMN Sidoarjo tercermin pada kesuksesan Sambal Roenya milik Marysa Anggi yang berpusat di Kecamatan Taman.
Mengawali bisnis dari dapur rumah saat pandemi Covid-19 pada 2020 lalu, alumnus Akuntansi ini tekun mengikuti kurasi kemasan dan standarisasi kualitas di Rumah BUMN.
Ketekunan Anggi berbuah manis. Pada tahun 2024, Sambal Roenya berhasil lolos kurasi ekspor untuk mewakili Kabupaten Sidoarjo di kancah global.
Membawa produk lokal menembus pasar ekspor memang bukan perkara mudah. Setidaknya, produk harus melewati kurasi ketat yang dilakukan oleh pihak kementerian, dinas terkait, maupun tim kurator BRI Pusat di Jakarta.
"Kalau dari dinas, penilaian awal selalu dimulai dari tampilan kemasan produk. Setelah kemasan dinilai layak, baru kami bergeser ke kelengkapan perizinan. Beberapa negara tujuan ekspor ada yang sangat ketat mewajibkan sertifikasi BPOM dan Halal, namun ada juga yang hanya mensyaratkan sertifikasi Halal saja," papar Dini mendetail.
Hal serupa juga diterapkan oleh tim kurasi BRI Pusat di Jakarta. Alur penilaiannya dimulai dari daya tarik visual kemasan luar, baru kemudian dikurasi dari sisi higienitas dan legalitas perizinan produknya.
Komitmen Rumah BUMN Sidoarjo tidak berhenti saat pelatihan usai. Bagi pelaku usaha yang produknya dinilai belum berkembang, pendampingan akan terus dilakukan tanpa batas waktu.
"Kami tidak akan melepas begitu saja. Jika ada UMKM yang mandek, kami akan menggandeng pihak ketiga atau narasumber ahli untuk membimbing mereka secara privat. Permasalahan pemasaran juga kerap kami bedah melalui seminar-seminar interaktif bersama para praktisi," tegas Dini.
Menatap masa depan, Rumah BUMN Sidoarjo kini tengah mengarahkan pandangannya untuk merangkul para pelaku usaha muda dari kalangan Generasi Z.
Menurut Dini, regenerasi pelaku usaha adalah hal yang mutlak agar inovasi produk lokal Sidoarjo tidak berhenti dan terus relevan dengan perkembangan zaman.
Di balik dinding bekas rumah dinas ini, asa para pelaku usaha mikro Sidoarjo terus dirawat, dipoles, dan diterbangkan tinggi-tinggi menuju etalase dunia.