TRIBUNLOMBOK.COM — Penangkapan Roid Pajrian (22), pemuda pengangguran asal Lombok Tengah yang menyamar sebagai anggota TNI menyisakan banyak cerita mengejutkan dari orang-orang yang pernah bersinggungan langsung dengannya.
Pemilik kos tempat pelaku tinggal hingga aparat kepolisian satu per satu membuka tabir keseharian pria yang berkali-kali gagal lolos seleksi TNI itu.
Akmal Mustofa, pemilik kos di Kecamatan Selong tempat Roid menetap selama kurang lebih dua bulan terakhir, mengaku kecurigaannya terhadap sang penghuni sudah muncul jauh sebelum penangkapan berlangsung.
Kepada Akmal, Roid mengaku tengah menjalankan misi khusus dengan pangkat tinggi di lingkungan TNI.
Namun alih-alih percaya, Akmal justru berusaha membuktikan kebenaran klaim tersebut dengan mencari Kartu Tanda Anggota (KTA) milik pelaku dan tidak menemukan apa pun.
Baca juga: Sosok Tentara Gadungan di Lombok Timur: Tiga Kali Gagal Tes, Punya Seragam hingga Helm
"Saya hampir seratus persen curiga dengan anak ini. Saya sempat mencari KTA-nya waktu itu, tapi tidak ketemu," ujar Akmal saat dihubungi, Kamis (25/6/2026).
Kecurigaan Akmal kian memuncak ketika ia mengamati pola perilaku Roid dalam membawa perempuan ke kamar kosnya.
Pelaku kerap bergonta-ganti pasangan, namun ada satu perbedaan mencolok yang tidak luput dari pengamatan Akmal yakni korban yang kerap ia aniaya tidak pernah mengenakan masker saat bersama pelaku, berbeda dengan perempuan lain yang selalu berwajah tertutup termasuk ketika pelaku sendiri ikut memakai masker saat keluar bersama mereka.
"Kalau yang dipukul ini, dia tidak pernah pakai masker. Sementara perempuan lain yang dia bawa ke kos selalu memakai masker. Bahkan ketika keluar kos, pelaku juga memakai masker jika bersama perempuan lain, tetapi tidak dengan korban," ungkap Akmal.
Menurut Akmal, modus Roid sudah terbaca jelas dengan memanfaatkan atribut seragam militer untuk mengintimidasi para perempuan di sekitarnya.
Pelaku kerap keluar-masuk kos dengan kelengkapan layaknya prajurit asli, bahkan berolahraga sore hari mengenakan celana pendek khas TNI.
Namun bagi Akmal, justru itulah yang mempertebal keyakinannya bahwa Roid bukan tentara sungguhan.
"Modusnya jelas memanfaatkan baju TNI untuk menakuti perempuan, mungkin juga untuk meminta atau memaksa sesuatu," terangnya.
Suara keributan dari dalam kamar pun bukan hal asing bagi Akmal maupun tetangga di sekitarnya.
Dari keterangan yang ia dengar langsung, Roid diketahui kerap melakukan kekerasan terhadap perempuan yang bersamanya.
"Sering saya dengar sorak-sorak atau keributan dari dalam kamar," tambahnya.
Ketika Akmal mulai mengintensifkan pertanyaan soal identitas asli pelaku, Roid memilih kabur.
Pada awal Juli lalu, ia pamit pindah ke Mataram namun tidak lupa membawa perempuan lain bersamanya sebelum pergi.
"Itu semakin meyakinkan saya bahwa dia bukan TNI asli. Saat ini saya berharap pihak berwenang dapat melakukan pendalaman terhadap oknum ini dan mempertanggungjawabkan perbuatannya," pungkas Akmal.
Kasi Humas Polres Lombok Timur Iptu Lalu Rusmaladi memaparkan kronologi kekerasan yang menjadi awal terungkapnya kasus ini.
Insiden berawal ketika Roid mendapati unggahan story WhatsApp sang kekasih seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Lombok Timur yang memperlihatkan korban sedang bersama seseorang di kawasan Pantai Jerowaru.
Terbakar cemburu, pelaku langsung menyusul ke lokasi acara korban di Pantai Kohana.
Di sana, Roid memaksa kekasihnya untuk segera pulang dan mengancam akan membuat keributan bersama rekan-rekannya jika permintaan itu tidak dituruti.
Korban yang merasa tertekan akhirnya mengalah dan pulang bersama pelaku.
Namun di tengah perjalanan, tangan korban menjadi sasaran kekerasan fisik hingga memar dan lebam.
Setibanya di kos, korban diantar pulang. Namun pihak keluarga tidak menerima perlakuan yang dialami anak mereka.
Setelah melapor ke pihak kampus, keluarga korban resmi membawa kasus ini ke ranah hukum.
"Iya benar, kami sudah menerima laporan dari korban terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh pacarnya sendiri," jelas Rusmaladi.
Polres Lombok Timur masih terus mengumpulkan keterangan saksi dan bukti untuk membawa perkara ini ke tahap berikutnya.
"Kami masih terus melakukan pengumpulan bukti dan keterangan untuk memproses kasus ini ke tahap selanjutnya," tutup Rusmaladi.
(*)