TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA – Kawasan Wisata Pantai Lovina di Desa Kalibukbuk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali segera hadir dengan wajah baru yang lebih menarik bagi wisatawan.
Penataan destinasi andalan Bali Utara itu kini hampir rampung dengan progres pembangunan mencapai 92 persen hingga pekan keempat Juni 2026.
Perubahan mulai terasa di kawasan pantai yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon pariwisata Buleleng.
Area pesisir kini tampak lebih tertata, nyaman untuk berjalan kaki, dan menghadirkan suasana berbeda terutama saat malam hari berkat tambahan sistem penerangan di sejumlah titik.
Tak hanya menjadi tempat menikmati panorama laut, Lovina ke depan juga diarahkan menjadi ruang wisata yang lebih ramah bagi pengunjung untuk berjalan santai, berolahraga, menikmati suasana senja, hingga mengeksplorasi kawasan pesisir dengan lebih nyaman.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, mengatakan proyek penataan mencakup pembangunan pedestrian atau jogging track sepanjang 651 meter serta pemasangan 34 titik lampu penerangan.
Menurutnya, fasilitas tersebut dirancang untuk meningkatkan pengalaman wisata sekaligus menghadirkan ruang publik yang lebih berkualitas bagi masyarakat dan wisatawan.
Baca juga: Kalender Bali: Hari Penampahan Kuningan 26 Juni 2026, Begini Maknanya Sesuai Lontar Sundarigama
"Penataan ini kami lakukan agar masyarakat dan wisatawan memiliki ruang wisata yang layak serta nyaman untuk beraktivitas," ujarnya saat meninjau proyek bersama Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna dan Forkopimda Buleleng, Rabu 24 Juni 2026.
Sutjidra menegaskan jalur pedestrian yang dibangun diperuntukkan khusus bagi pejalan kaki, pelari, dan pesepeda sehingga kendaraan bermotor tidak diperbolehkan melintas.
Dengan konsep tersebut, kawasan Lovina diharapkan menghadirkan pengalaman wisata yang lebih aman, tenang, dan menyatu dengan panorama pantai.
Menurutnya, penataan kawasan menjadi bagian dari strategi memperkuat daya tarik Pantai Lovina sebagai destinasi unggulan Bali Utara sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis potensi lokal.
Dengan wajah baru yang lebih tertata, Pemkab Buleleng berharap wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati aktivitas laut, tetapi juga menghabiskan lebih banyak waktu di kawasan pesisir dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, pelaku pariwisata Lovina, Nyoman Arya Astawa, menyambut positif proyek tersebut. Ia menilai perubahan yang terjadi akan memperkuat citra Lovina sebagai destinasi yang nyaman dan layak dikunjungi.
"Penataan Kawasan Lovina sudah dinantikan sekian lama dan kini telah terwujud. Antusiasme masyarakat setempat sangat tinggi. Semoga perubahan ini mampu mendongkrak kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Lovina," ujarnya.
Ia berharap fasilitas yang telah dibangun dapat dijaga bersama agar kawasan Pantai Lovina terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan pelaku usaha pariwisata.
Di tengah upaya mempercantik kawasan wisata pantai seperti Lovina, sejumlah daerah di Bali juga mulai mengembangkan destinasi berbasis alam dan konservasi, salah satunya Kebun Rakyat Gianyar yang dirancang menjadi ruang rekreasi sekaligus edukasi lingkungan.
Kebun Rakyat Gianyar juga tengah melakukan pengembangan dengan membuat jalur jalan setapak dan tracking untuk menikmati kawasan tanpa mengganggu ekosistem.
Melalui rencana pembangunan jalur jalan setapak dan tracking, pengunjung nantinya dapat mengenal beragam flora dan fauna dari dekat tanpa mengganggu ekosistem alami yang selama ini dijaga di kawasan tersebut.
Selama ini, salah satu keluhan pengunjung KRG yang berlokasi di Desa Adat Pilan, Kecamatan Payangan itu adalah sulitnya akses untuk melihat koleksi flora dan fauna yang berada di kawasan tersebut.
Namun, KRG sejak awal memang dirancang sebagai kawasan alami yang lebih banyak diperuntukkan bagi penelitian dan pelestarian.
Pengelola KRG Desa Pilan, Ida Bagus Putu Tirtayasa, Rabu 24 Juni 2026, mengatakan rencana pengembangan KRG mencuat setelah kunjungan Bupati Gianyar Made Mahayastra bersama Ketua DPP PDIP Prananda Prabowo beberapa waktu lalu.
Menurut Gus Tirtayasa, dalam kunjungan tersebut Bupati Mahayastra banyak menerima masukan dari masyarakat, termasuk terkait akses masuk bagi pengunjung.
“Bapak Bupati juga banyak mendapat masukan dari masyarakat, salah satunya akses masuk ke dalam KRG,” jelasnya.
Menindaklanjuti hal tersebut, Bupati Gianyar berencana membuat jalan melingkar di kawasan KRG sekaligus jalur tracking bagi pengunjung.
Nantinya, kata dia, masyarakat dapat menikmati suasana KRG melalui jalur khusus tanpa memasuki area inti konservasi.
“Dengan jalan lingkar setapak dan jalur tracking, pengunjung akan mendapat kesempatan masuk ke dalam KRG. Namun tetap tidak diperbolehkan masuk ke area utama, hanya bisa beraktivitas di sepanjang jalur yang disediakan. Ini untuk menjaga flora dan fauna agar tetap asli dan alami,” ujar Gus Tirtayasa.
Selain jalur tracking, sepanjang rute tersebut juga akan dilengkapi fasilitas tempat duduk bagi pengunjung. Konsepnya tetap mengedepankan nuansa alami, dengan tempat duduk berbahan beton yang dibuat menyerupai batu agar tidak menghilangkan karakter lingkungan KRG.
Tidak hanya penataan kawasan, Pemkab Gianyar juga memiliki rencana memperluas areal KRG. Saat ini luas KRG mencapai sekitar 9,7 hektare dan direncanakan bertambah sekitar 20 hektare dengan memanfaatkan kawasan hutan di sekitar lokasi.
“Untuk penataan KRG masih dalam tahap perencanaan dan tergantung kebijakan Bapak Bupati. Namun saya yakin ke depan apa yang digagas akan berkelanjutan, selain sebagai plasma nutfah juga menjadi wisata alternatif di Gianyar Utara,” katanya.
Gus Tirtayasa menambahkan, setiap hari KRG tetap menerima kunjungan masyarakat yang ingin melihat koleksi yang ada.
Namun, keluhan pengunjung masih relatif sama, yakni berharap tersedia fasilitas untuk berjalan kaki atau tracking di dalam kawasan.
Dengan perhatian terhadap pelestarian lingkungan dan plasma nutfah, KRG diharapkan ke depan dapat menjadi kebun raya dengan konsep berbeda, sekaligus menjadi tempat konservasi berbagai kekayaan hayati khas Kabupaten Gianyar.
(*)