JANGAN LEWATKAN MOMEN PIALA DUNIA
'Kita harus bermain lebih garang!' - Deniz Undav meminta Jerman tampil lebih keras sementara Julian Nagelsmann menolak alasan kekalahan dari Ekuador
Penyerang tim nasional Jerman, Deniz Undav, menyerukan semangat baru kepada rekan-rekannya dengan menegaskan bahwa mereka harus menjadi lebih "garang" agar bisa bertahan di babak gugur Piala Dunia. Penilaian penyerang VfB Stuttgart itu muncul setelah kekalahan mengecewakan 2-1 dari Ekuador, hasil yang memicu perbedaan pandangan antara para pemain dan pelatih kepala Julian Nagelsmann.
Undav menuntut lebih banyak agresivitas dari Jerman
Meskipun Jerman sudah memastikan tiket ke babak berikutnya, cara mereka kalah menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan tim menghadapi lawan yang bermain keras. Undav, yang masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-60, menilai bahwa tim asal Amerika Selatan itu menunjukkan semangat dan keinginan yang lebih besar di lapangan.
Menganalisis penampilan timnya, pemain berusia 29 tahun itu menyoroti perbedaan intensitas antara kedua kesebelasan. "Ekuador bermain lebih agresif dan tajam dibandingkan kami. Itu hal yang harus kami pelajari dan kami harus menarik kesimpulan yang tepat. Kami tidak cukup langsung dalam permainan kami dan tidak menciptakan banyak peluang," ujar sang penyerang. Ia juga menekankan perlunya perubahan dalam mentalitas bermain: "Kita harus bisa membela diri dengan lebih kuat. Jika situasinya menjadi keras, maka kita juga harus bermain keras."
Nagelsmann menanggapi kritik soal komitmen pemain
Sementara Undav merasa timnya kurang memiliki ketajaman yang dibutuhkan, Nagelsmann cepat membela para pemainnya dari tuduhan bahwa mereka bermain setengah hati. Dalam wawancara pasca pertandingan, pelatih berusia 36 tahun itu menanggapi dengan tegas ketika pembawa acara Magenta TV, Johannes Kerner, menanyakan apakah timnya kurang berkomitmen. "Tolong hentikan omong kosong itu, sungguh. Mengapa para pemain tidak ingin bermain dengan sepenuh hati?" ujar Nagelsmann. "Tidak, mereka tidak kalah karena kurang keinginan. Ekuador hanya mengambil lebih banyak risiko dalam sejumlah situasi."
Sang pelatih mengakui bahwa posisi Jerman yang sudah memastikan lolos dari fase grup memengaruhi keputusannya dalam melakukan pergantian pemain, namun ia menolak menyalahkan kurangnya upaya dari timnya. "Tentu saja kami melakukan pergantian yang berbeda dibandingkan jika kami benar-benar membutuhkan gol. Tapi saya tidak bisa mengatakan ada pemain yang tidak memberikan segalanya. Itu terlalu klise bagi saya," tambahnya.
Kekhawatiran di lini belakang dan performa Manuel Neuer
Kekalahan tersebut juga membuat perhatian kembali tertuju pada kiper veteran Manuel Neuer. Legenda Bayern Munich itu dikritik atas perannya dalam gol kemenangan Ekuador, ketika ia tampak ragu sebelum Gonzalo Plata mencetak gol dari situasi sepak pojok di menit-menit akhir.
Meskipun muncul perdebatan mengenai posisi penjaga gawang utama, Nagelsmann tetap memberikan dukungan penuh kepada kiper utamanya itu. Ia menyesalkan kurangnya "aksi penentu kemenangan" dari Neuer sejauh turnamen ini, sambil menggambarkan tembakan-tembakan yang dihadapinya sebagai situasi yang "sulit" untuk diantisipasi. Sang pelatih bertekad untuk menutup segala spekulasi mengenai pergantian penjaga gawang saat tim memasuki fase gugur.
Boston menanti di babak 32 besar
Jerman tetap berhasil menempati posisi teratas di Grup E dan kini akan bertolak ke Foxborough, dekat Boston, untuk pertandingan babak 32 besar pada hari Senin. Meskipun lawan mereka belum dipastikan, skuad tahu bahwa mereka tidak boleh mengulangi kesalahan teknis seperti yang terjadi di New Jersey. Gol telat dari Plata menjadi peringatan bagi tim yang sebelumnya tampil dominan di laga-laga awal.
Bagi Undav, fokusnya kini adalah menyamai intensitas fisik siapa pun lawan mereka berikutnya. Setelah gagal mencatat kontribusi gol untuk pertama kalinya di turnamen ini, sang penyerang bertekad membuktikan bahwa kekalahan dari Ekuador hanyalah jeda sesaat. Dengan babak gugur yang mulai terbentuk, pasukan Nagelsmann harus menemukan keseimbangan antara keyakinan pelatih pada kerja keras mereka dan tuntutan Undav agar tampil dengan pendekatan yang lebih "garang" di lapangan.