Dari Tangan Mbah Sup, Kiprah Reog Ponorogo Terus Hidup hingga Dunia Internasional
Januar June 27, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJATIMCOM, PONOROGO - Dentuman gamelan terdengar pelan dari sebuah rumah di Desa Janggolan,
Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo. 

Di tempat sederhana itu, ratusan bulu merak tersusun rapi di atas meja kerja. 

Sebagian telah dirangkai menjadi dadak merak, sebagian lainnya masih menunggu sentuhan tangan yang sudah puluhan tahun mengabdi untuk kesenian Reog. 

Tangan itu milik Supriyono, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai
Mbah Sup.

Di usia 51 tahun, Mbah Sup bukan hanya seorang pengrajin Reog. 

Baca juga: Pertahankan Piala Suromenggolo, SMPN 1 Ponorogo Kembali Sabet Juara 1 Festival Reog Remaja 2026

Ia adalah saksi hidup perjalanan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Bagi Mbah Sup, Reog bukan sekadar kesenian. Reog adalah warisan leluhur yang harus terus hidup, bahkan ketika dirinya kelak sudah tidak lagi mampu bekerja.

"Karena kecintaan saya kepada Ponorogo dan Reog. Reog itu warisan nenek moyang yang harus dijaga," ujarnya saat ditemui dalam program Mlaku-Mlaku Jatim.

Mengenal Reog Sejak Remaja

Kecintaan Mbah Sup terhadap Reog sudah tumbuh sejak usia belia. Saat itu usianya baru menginjak 14 tahun dan mulai belajar menjadi pembarong, sosok penari yang memanggul kepala singa serta dadak merak dengan berat puluhan kilogram. 

Bukan pekerjaan yang mudah. 

Selain membutuhkan tenaga besar, seorang pembarong juga harus memiliki Teknik khusus untuk menjaga keseimbangan saat menari.

Namun bagi Mbah Sup, semua itu justru menjadi pengalaman berharga yang membentuk dirinya hingga hari ini. 

Hampir satu dekade ia aktif menjadi bagian dari pertunjukan Reog di berbagai kesempatan.

Hingga akhirnya setelah menikah pada tahun 1999, ia memutuskan berhenti menjadi pembarong dan mulai menempuh jalan baru.

Beralih Menjadi Pengrajin Reog

Keputusan itu bukan karena kecintaannya terhadap Reog berkurang. 

Sebaliknya, Mbah Sup justru ingin terus dekat dengan kesenian tersebut melalui cara yang berbeda. 

Sedikit demi sedikit ia menabung untuk membeli peralatan dan belajar membuat perlengkapan Reog.

Mulai dari kepala barongan, dadak merak, hingga berbagai properti pendukung lainnya.

Awalnya semua dilakukan secara otodidak. Ia belajar dari para senior, mengamati proses pengerjaan, lalu mencoba sendiri berulang kali hingga menemukan teknik yang tepat.

"Setelah menikah saya menabung untuk perakitan merak. Belajar terus sampai akhirnya menjadi pengrajin Reog," katanya.

Perjalanan itu tidak instan. Dibutuhkan bertahun-tahun hingga hasil karyanya dipercaya dan
digunakan kelompok-kelompok Reog dari berbagai daerah.


Di Balik Megahnya Dadak Merak

Banyak orang terpukau saat melihat Reog tampil di atas panggung. 

Namun tidak banyak
yang mengetahui proses panjang di balik pembuatan perlengkapan yang digunakan. 

Untuk membuat satu dadak merak standar nasional, diperlukan ukuran sekitar 2,25 meter dengan
berat mencapai 20 hingga 25 kilogram. 

Sementara kepala barongan memiliki berat sekitar 15 kilogram. 

Jika digabungkan, satu set perlengkapan Reog bisa mencapai bobot hampir 40 kilogram. 

Semua dibuat secara manual. 

Prosesnya dimulai dari pemilihan kayu dadap yang memiliki serat kuat dan tidak mudah pecah, kayu tersebut kemudian dibentuk, dilapisi kertas semen, dipasang kulit kambing, didempul, dicat, hingga akhirnya dihiasi bulu merak yang dirangkai satu per satu, pengerjaan membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi.

"Kalau bahan bakunya lengkap, sekitar seminggu bisa selesai. Tapi kalau ada bahan yang terlambat datang, bisa sampai satu bulan," ujar Andri Setiawan, salah satu anggota paguyuban yang telah tujuh tahun belajar bersama Mbah Sup.

Tantangan Terbesar: Bahan Baku dan Regenerasi

Meski permintaan Reog masih ada, tantangan yang dihadapi para pengrajin tidak sedikit.
Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku. 

Bulu merak yang digunakan bukan berasal dari merak hijau Indonesia yang dilindungi, melainkan merak biru yang diperbolehkan untuk kebutuhan kerajinan dan harus melalui aturan tertentu. 

Harga bahan baku yang terus naik juga menjadi tantangan tersendiri.

"Kalau sekarang bahan baku memang mahal. Pengiriman juga sering terlambat," ujar Mbah
Sup.

Dulu, dalam satu bulan dirinya bisa menyelesaikan tujuh hingga sepuluh pesanan. Kini, satu hingga dua pesanan saja sudah menjadi tantangan. 

Namun ada satu hal yang lebih ia khawatirkan dibanding soal bisnis, yakni regenerasi.

Mbah Sup takut suatu saat tidak ada lagi anak muda yang mau belajar membuat Reog.

"Takutnya kalau tidak ada regenerasi, nanti pengrajin Reog bisa hilang," katanya.

Karena itu, ia mulai mengajarkan berbagai keterampilan kepada generasi muda yang dating ke tempatnya, mulai dari memasang bulu merak, membuat kepala barongan, hingga memproduksi alat musik pengiring Reog. 

Baginya, ilmu tidak boleh berhenti pada satu generasi.

Reog yang Menembus Mancanegara

Meski dikerjakan dari sebuah desa di Ponorogo, karya Mbah Sup telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri. 

Pesanan datang dari berbagai kota, bahkan dari Hong Kong dan Australia. Harga satu kepala barongan ukuran standar berkisar mulai Rp2,5 juta. Sementara satu dadak merak dapat mencapai Rp14 juta hingga Rp15 juta.

Jika dihitung lengkap dengan perlengkapan lainnya, nilainya bisa mencapai belasan juta
rupiah. 

Namun bagi Mbah Sup, nilai terbesar bukanlah uang, melainkan ketika melihat Reog Ponorogo terus dikenal dan dicintai masyarakat.

"Reog itu pemersatu. Simbol guyub, rukun, dan gotong royong," katanya.

Daihatsu Gran Max Jadi Partner Usaha

Dalam menjalankan usahanya, Mbah Sup mengandalkan Daihatsu Gran Max Pick Up sebagai kendaraan operasional. 

Ukuran dadak merak yang besar membuat kendaraan dengan kapasitas angkut luas menjadi kebutuhan utama.

"Kalau untuk kepala barong dan dadak merak masih cukup. Baknya luas," ujarnya.

Kendaraan tersebut digunakan untuk mengirim pesanan ke berbagai daerah sekaligus mengangkut bahan baku yang dibutuhkan dalam proses produksi. 

Mbah Sup bahkan pernah menggunakan Gran Max generasi sebelumnya sebelum akhirnya mengganti dengan unit yang lebih baru.

Dalam menjalankan usahanya melestarikan Reog Ponorogo, Mbah Sup mengandalkan
Dalam menjalankan usahanya melestarikan Reog Ponorogo, Mbah Sup mengandalkan Daihatsu Gran Max Pick Up sebagai kendaraan operasional.

"Yang lama sudah saya jual, lalu beli lagi yang baru. Yang power steering," katanya sambil
tersenyum.

Menurutnya, kendaraan tersebut membantu aktivitas usaha karena kapasitas angkut yang sesuai kebutuhan, perawatan yang mudah, dan konsumsi bahan bakar yang relatif hemat.

Menjaga Warisan untuk Masa Depan

Bagi Mbah Sup, menjadi pengrajin Reog bukan sekadar pekerjaan. 

Ini adalah bentuk pengabdian kepada budaya yang telah membesarkan dirinya, Ia percaya Reog tidak akan pernah hilang selama masih ada orang-orang yang mau menjaga dan mewariskannya.

Karena itu, di tengah kesibukannya membuat dadak merak dan kepala barongan, ia terus membuka pintu bagi anak-anak muda yang ingin belajar.

"Kita harus menjaga dan melestarikan supaya Reog semakin jaya dan semakin dikenal
dunia," ujarnya.

Di rumahnya di Desa Janggolan itu, Mbah Sup tidak hanya membuat perlengkapan Reog, Ia sedang merawat harapan agar budaya kebanggaan Ponorogo tetap hidup, bahkan Ketika generasinya telah berganti.

Mlaku-Mlaku Jatim: Mengangkat Cerita UMKM Lokal

Kisah Mbah Sup menjadi bagian dari program Mlaku-Mlaku Jatim, kolaborasi Tribun Jatim bersama Daihatsu yang mengangkat cerita perjuangan pelaku UMKM dan penjaga warisan budaya di berbagai daerah Jawa Timur.

Melalui program ini, berbagai kisah inspiratif dihadirkan untuk menunjukkan bahwa budaya bukan hanya identitas daerah, tetapi juga sumber kehidupan yang terus bergerak Bersama masyarakat yang menjaganya.


Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.