Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Miftahul Munir
WARTAKOTALIVE.COM, CIRACAS – LRT Jabodebek menjadi salah satu pilihan transportasi bagi pekerja yang tinggal di wilayah penyangga Jakarta karena telah terintegrasi dengan berbagai moda angkutan umum.
Namun, menurut Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, integrasi antarmoda saja belum cukup mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Ia menilai, salah satu penyebab utama masih banyaknya masyarakat menggunakan kendaraan pribadi adalah biaya transportasi umum yang dinilai lebih mahal.
"Selama ini orang enggak mau naik transportasi umum karena teorinya keliru. Dikiranya lebih hemat, ternyata justru lebih mahal dibanding kendaraan pribadi," ujar Trubus kepada Warta Kota, Sabtu.
Baca juga: Ini 5 Stasiun LRT Jabodebek dengan Penumpang Terbanyak Hingga Mei 2026
Ia mencontohkan, tarif perjalanan LRT Jabodebek dari Stasiun Harjamukti menuju Dukuh Atas maupun dari Dukuh Atas ke Jatimulya berkisar Rp20.000 untuk sekali perjalanan.
Artinya, penumpang harus mengeluarkan sekitar Rp40.000 untuk perjalanan pulang-pergi. Biaya tersebut belum termasuk ongkos transportasi lanjutan menuju lokasi tujuan.
"Kalau ditambah naik ojek online atau angkutan lain setelah turun dari stasiun, total pengeluaran bisa mencapai sekitar Rp50.000 per hari," katanya.
Menurut Trubus, nominal tersebut jauh lebih besar dibanding menggunakan sepeda motor pribadi.
"Kalau naik motor, uang Rp50.000 untuk beli bensin bisa dipakai dua sampai tiga hari," ungkapnya.
Karena itu, Trubus menilai sistem transportasi di Jakarta masih perlu ditata agar masyarakat tidak terbebani biaya perjalanan yang tinggi saat menggunakan angkutan umum.
Ia juga mendorong pemerintah memperbanyak armada JakLingko agar masyarakat dapat menjangkau lokasi tujuan tanpa harus berganti moda transportasi berkali-kali.
"Kalau LRT dan MRT sudah ada, harus terkoneksi dengan angkutan feeder yang gratis sehingga masyarakat lebih tertarik menggunakan transportasi umum," pungkasnya. (m26)