TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dua gempa besar yang mengguncang wilayah lepas pantai Venezuela dalam selang waktu kurang dari satu menit, memunculkan fenomena yang dikenal sebagai double earthquake atau gempa kembar.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Edi Wibowo, mengatakan gempa doublet terjadi ketika pelepasan tegangan pada satu segmen sumber gempa memicu patahan pada segmen lain, yang masih berada dalam satu sistem tektonik sama atau berdekatan.
"Fenomena double earthquake atau gempa kembar terjadi ketika pelepasan tegangan pada satu segmen sumber, yang memicu kegagalan segmen lain yang masih berada dalam satu sistem tektonik yang sama atau berdekatan. Transfer tegangan tersebut dapat berlangsung sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan detik hingga menit," ujar Edi, kepada Tribunjabar.id, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, setelah gempa pertama terjadi, segmen lain yang sudah berada dalam kondisi kritis ikut mengalami patahan sehingga memunculkan gempa besar kedua dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Dengan kata lain, kedua gempa tersebut merupakan bagian dari proses penyesuaian tegangan kerak bumi yang terjadi secara berantai," katanya.
Edi mengatakan Indonesia juga pernah mengalami fenomena serupa. Salah satunya terjadi saat gempa Lombok pada 19 Agustus 2018.
"Gempa magnitudo 6,3 diikuti gempa magnitudo 6,9 pada hari yang sama. Kemudian di Bengkulu pada 2020 juga terjadi dua gempa kuat dengan selang waktu sekitar enam menit. Itu merupakan kejadian gempa doublet yang pernah tercatat di Indonesia," ujarnya.
Terkait gempa di Venezuela, Edi memastikan peristiwa tersebut tidak menimbulkan tsunami yang berdampak ke Indonesia.
"BMKG sudah mengeluarkan informasi bahwa gempa dari Venezuela tidak menimbulkan tsunami yang berdampak di Indonesia," katanya.
Meski demikian, apabila fenomena serupa terjadi di Indonesia, potensi tsunami tetap harus dilihat berdasarkan lokasi pusat gempa, kekuatan, dan karakteristik sumber gempanya.
Edi menilai fenomena gempa doublet masih sangat mungkin terjadi di Indonesia mengingat kondisi tektonik wilayah Indonesia yang sangat kompleks.
"Dengan mengingat kompleksitas tektonik wilayah Indonesia yang sangat tinggi, meskipun fenomena doublet ini relatif jarang, kemungkinan itu masih bisa terjadi. Gempa bumi sendiri tidak bisa diprediksi kapan terjadinya maupun seberapa besar kekuatannya," ucapnya.
Ia juga menegaskan gempa di Venezuela tidak berpengaruh terhadap aktivitas kegempaan di Indonesia karena jaraknya yang sangat jauh.
"Secara teori seluruh lempeng di bumi saling berinteraksi dalam skala geologi. Tetapi pengaruh langsung untuk memicu gempa lain, apalagi jarak Venezuela dengan Indonesia sekitar 18 ribu kilometer, sehingga transfer tegangannya tidak memengaruhi kondisi kegempaan di Indonesia," jelasnya.
Mengenai sistem pemantauan gempa, Edi mengatakan BMKG telah memiliki ratusan sensor seismograf yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di Jawa Barat.
"Informasi sinyal gempa yang diterima sensor-sensor tersebut kemudian dianalisis menjadi informasi lokasi gempa, magnitudo, dan parameter lainnya. Teknologi yang digunakan BMKG juga merupakan teknologi terbaru yang digunakan secara luas di berbagai negara," katanya.
Saat ini BMKG juga tengah mengembangkan sistem Earthquake Early Warning System (EWS).
Menurut Edi, sistem tersebut bukan untuk memprediksi gempa, melainkan memberikan peringatan beberapa detik setelah gempa terjadi sebelum gelombang guncangan mencapai wilayah lain.
"Misalnya gempa terjadi di Sukabumi. Sebelum getarannya dirasakan di Bandung, informasi gempa sudah bisa disampaikan. Memang waktunya hanya hitungan detik, mungkin sekitar 10 detik, tetapi masih bisa dimanfaatkan untuk melakukan tindakan penyelamatan. Sistem ini masih dalam tahap pengembangan dan prototipe," ujarnya.
Edi mengimbau masyarakat agar tidak panik saat terjadi gempa dan segera mengutamakan keselamatan diri.
"Kalau berada di dalam ruangan, lindungi diri dengan memanfaatkan benda yang cukup kuat untuk melindungi dari reruntuhan. Jauhi kaca-kaca besar karena lebih mudah pecah. Jika masih memungkinkan keluar ruangan dengan aman, segera evakuasi. Namun yang paling utama adalah melindungi diri terlebih dahulu karena waktu yang tersedia saat gempa sangat singkat," kata Edi.