Takut Dikira Pakai Ikan Sapu-sapu, Sule Pedagang Siomay Pasang Foto Bawa Tenggiri di Gerobak
Arie Noer Rachmawati June 27, 2026 11:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Seorang pedagang siomay di kawasan Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Eman Suleiman (34) punya cara unik untuk meyakinkan pelanggannya soal kualitas bahan baku yang digunakan.

Sule memasang dua foto berukuran besar di gerobak dagangannya yang memperlihatkan dirinya bersama ikan tenggiri.

Salah satu foto menampilkan Eman bersama kedua anaknya memegang seekor ikan tenggiri berukuran besar, sementara foto lainnya memperlihatkan dirinya berada di depan baskom berisi ikan tenggiri.

Inisiatif Tepis Isu Ikan Sapu-sapu

Inisiatif itu dilakukan setelah sempat beredar isu siomay dibuat menggunakan ikan sapu-sapu.

Meski kabar tersebut tidak berkaitan dengan usahanya, Eman mengaku banyak pelanggan yang mempertanyakan jenis ikan yang dipakai untuk membuat siomay.

Lewat foto-foto tersebut, ia ingin menunjukkan siomay yang dijualnya menggunakan ikan tenggiri sebagai bahan utama.

Menurutnya, cara sederhana itu menjadi bukti visual agar pembeli tidak lagi ragu dengan kualitas produknya.

"Ya awalnya pas viral kabar ada siomay ikan sapu-sapu itu, penjualan agak sepi. Akhirnya saya inisiatif pakai foto," ujar Sule, dikutip dari Kompas.com pada Sabtu (27/6/2026).

"Karena orang-orang pada nanya kan, ikannya pakai apa," tuturnya.

Baca juga: Pedagang Angkat Bicara usai Muncul Isu Siomay Pakai Ikan Sapu-sapu

Omzet sempat Turun Drastis

Sule mengaku, saat isu tersebut merebak, omzetnya sempat turun drastis selama dua pekan.

Biasanya, ia mampu menjual hingga 11 kilogram (kg) siomay per hari.

Namun, saat itu penjualannya hanya mencapai sekitar 3 kg per hari.

Padahal, dalam kondisi sepi sekalipun, ia biasanya masih bisa menjual sekitar 9 kg siomay per hari.

"Akhirnya aku inisiatif pasang foto. Ada video-video juga, setiap malam divideo, biar lebih jelas gitu kalau itu bukan bohong," tuturnya.

Bahkan, ia sempat mendapat tudingan bahwa foto ikan tenggiri tersebut hanya rekayasa.

Untuk membuktikan keasliannya, Sule pernah membawa ikan tenggiri utuh saat berjualan.

"Akhirnya aku bawa juga ikan tuh waktu itu ke pangkalan," katanya.

Pangkalan yang dimaksud adalah lokasi ia berjualan di depan sebuah bank swasta di Jalan Kebon Sirih.

Seiring berbagai upaya tersebut dan meredanya isu, omzet Sule perlahan kembali normal.

"Alhamdulillah mulai ada peningkatan. Sekarang nambah lah 2 kg dari pas viral itu. Dari biasanya 9 kg ke 11 kg rata-rata sehari," ungkapnya.

"Kalau Jumat ini saya bawa 16 kg karena ada banyak pesanan," lanjut Sule.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pihak yang telah memviralkan gerobaknya di media sosial.

Menurutnya, banyak pembeli baru yang datang setelah melihat unggahan tersebut.

"Alhamdulillah ada orang baik lah yang viralin gitu. Mudah-mudahan kehidupannya berkah. Saya juga kaget, awalnya ada yang beli nanya 'Bang, ini siomay yang viral?'," ungkap Sule.

"Aku malah enggak tahu. Enggak tahunya ditunjukin di HP ada video saya di IG, TikTok segala macam. Pantes banyak orang baru yang pada beli," katanya.

Baca juga: Daftar Bahaya Mengonsumsi Daging Ikan Sapu-sapu, Bisa Rusak Ginjal, Paru-paru hingga Saraf Otak

Berharap Isu Siomay Ikan Sapu-sapu Tak Terulang

Sule berharap isu penggunaan ikan sapu-sapu dalam siomay tidak kembali terulang karena sangat berdampak pada pedagang.

"Kalau bisa mah pedagang-pedagang siomay yang lain tolonglah jangan sampai ada kedua kalinya isu-isu yang enggak jelas," tutur Sule.

"Pembeli itu mikirnya apalagi kan sapu-sapu kan jorok hidup di kali ya. Banyak yang biasa pada jajan akhirnya pada takut. Takut kotor lah karena isu pakai ikan sapu-sapu, ikan kali gitu," jelasnya.

Ia mengakui penggunaan ikan sapu-sapu memang dapat menekan biaya produksi.

Namun, menurutnya, pedagang tetap bisa berjualan dengan bahan ikan tenggiri meski harganya lebih mahal.

"Sebenarnya sih pakai ikan tenggiri juga kalau emang orangnya jujur dan mau usaha, mau jual dengan harga Rp 1.000 per butir pun bisa," jelas Sule.

"Misalnya pakai ikan tenggiri sekilo, sagunya 8 kilo, kan itu bisa sedemikian rupa supaya bisa lebih ekonomis," lanjutnya.

Baca juga: Warga Waspada Konsumsi Siomay Ikan Sapu-sapu, Cermati Ciri-cirinya, Risiko Kesehatan Mengintai

Jualan Siomay 9 Tahun

Sule telah berjualan siomay di kawasan Kebon Sirih selama sembilan tahun.

Sebelumnya, ia bekerja sebagai sekuriti di sebuah perusahaan swasta di sekitar lokasi tersebut hingga kontraknya berakhir pada 2017.

"Dari situlah pas dapat pesangon, akhirnya jualan sampai sekarang," tutur Sule.

Sebelum mulai berjualan, ia dan istrinya belajar membuat siomay selama dua pekan dari seorang teman yang ahli memasak di Jawa Barat.

"Dulu belajar masak itu dapat lima menu. Kebetulan dia butuh modal, saya butuh ilmu. Akhirnya ya sudah, tukar guling lah itungannya," jelasnya.

Resep yang diperoleh kemudian dimodifikasi agar sesuai dengan harga jual kaki lima.

Saat ini, istrinya bertugas memasak siomay dan meracik bumbu kacang, sementara Sule berbelanja bahan ke pasar dan mengolah ikan secara manual.

"Saya juga bagian ngerok (mengerat) daging ikannya secara manual. Daging ikan dikerat manual supaya rasanya lebih sedap. Beda lho rasa dengan yang digiling," katanya.

Sule menjual satu porsi siomay seharga Rp 20.000, yang terdiri dari enam item, yakni telur, kol, pare, siomay, kentang, dan tahu.

Pembeli juga mendapatkan wadah plastik (thinwall) lengkap dengan garpu dan kantong plastik.

Ia menyebut omzetnya kini bisa mencapai hampir Rp 4 juta per hari.

Pendapatan tersebut digunakan untuk operasional, biaya kontrak tempat usaha, dan kebutuhan rumah tangga.

"Sisanya dipakai buat bayar kontrak tempat jualan, kontrak rumah. Saya harapannya enggak muluk-muluk, yang penting dagang jujur, lancar rezeki," tutur Sule.

"Kita sisihkan juga buat nabung, harapannya punya rumah sendiri. Enggak ngontrak terus," tuturnya.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.