Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli
TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Pengurus Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Trenggalek, Jawa Timur menegaskan seluruh peserta yang mengikuti Ijazah Kubro dan Haul Pendiri serta Guru Besar wajib mematuhi aturan yang telah ditetapkan panitia.
Penegasan ini dilakukan untuk memastikan kegiatan tahunan yang digelar pada Bulan Suro berlangsung khidmat, aman, dan tidak mengganggu ketertiban masyarakat.
Kegiatan yang dipusatkan di Padepokan Pagar Nusa Trenggalek, Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur pada Sabtu (27/6/2026) malam itu diperkirakan dihadiri ribuan anggota dan santri Pagar Nusa.
Meski peserta resmi yang terdaftar sekitar 800 orang, jumlah kehadiran diprediksi jauh lebih besar.
Mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), panitia telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian. Salah satu penekanan utama ialah larangan konvoi, arak-arakan, maupun perilaku yang dapat meresahkan masyarakat selama menuju maupun mengikuti kegiatan.
Ketua PC PSNU Pagar Nusa Trenggalek, Imam Syafi'i, mengatakan seluruh peserta harus menjaga marwah organisasi dengan mengikuti kegiatan secara tertib sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri dan guru besar.
"Saya mengimbau ke santri-santri acara ini adalah acara yang sakral, yaitu yang menjadi rutin setiap tahun di Bulan Suro. Yang tidak kalah pentingnya kita ini kan memperingati haul guru besar, haul para pendiri," ujar pria yang akrab disapa Kang Imam saat dikonfirmasi, Sabtu (27/6/2026).
Ia berharap seluruh rangkaian haul diisi dengan kegiatan yang bermanfaat tanpa tindakan yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat.
"Jangan sampai haul ini, yang merupakan peringatan hormat kita kepada para guru, diisi dengan yang kurang bermanfaat atau merugikan masyarakat. Misalnya, konvoi atau arak-arakan yang mengganggu kamtibmas," tuturnya.
Baca juga: Amankan Ijazah Kubro Pagar Nusa Trenggalek, Polisi Kerahkan Ratusan Personel dan Satu Pleton Brimob
Sebagai langkah antisipasi, seluruh personel pengamanan internal dan peserta undangan dijadwalkan sudah berada di lokasi sebelum waktu magrib dengan mengenakan pakaian sakral lengkap Pagar Nusa.
Panitia menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap rombongan yang datang secara tidak tertib. Bersama aparat kepolisian, panitia akan langsung memulangkan peserta yang melanggar kesepakatan.
"Nanti kalau yang datangnya sudah tidak tertib, ya terpaksa kita pulangkan di tengah jalan. Pukul mundur. Itu termasuk juga kesepakatan yang kita buat dengan kepolisian," tegasnya.
Kang Imam menilai perilaku tidak tertib di jalan raya akan mencoreng nama baik organisasi sehingga harus dicegah sejak awal.
"Pasti kita sepakati bersama untuk tidak boleh sampai di lokasi. Kita pukul mundur untuk kembali ke rumahnya masing-masing," tegas Kang Imam.
Demi menjaga kondusivitas wilayah selama kegiatan berlangsung, Pagar Nusa Trenggalek menerbitkan tujuh poin maklumat yang wajib dipatuhi seluruh peserta.
Poin pertama mewajibkan peserta mengenakan pakaian sakral atau pakem Pagar Nusa sebagai bentuk penghormatan kepada guru, sesepuh, dan padepokan.
Poin kedua mewajibkan seluruh peserta menaati aturan lalu lintas, menggunakan helm, mengendarai kendaraan sesuai standar, serta dilarang memakai knalpot brong.
"Ketiga menghormati pengguna jalan lain. Keempat, wajib menjaga kondusifitas di wilayah Kabupaten Trenggalek," ulasnya.
Selain itu, peserta dilarang membawa minuman keras (miras), senjata tajam (sajam), petasan, flare, maupun benda lain yang membahayakan keselamatan orang lain.
Poin berikutnya melarang penggunaan atribut yang mengandung unsur rasis atau tidak berkaitan dengan Pagar Nusa. Seluruh peserta juga diwajibkan selalu berkoordinasi dengan tim keamanan selama kegiatan berlangsung.
"Ketujuh, selalu berkoordinasi dengan tim keamanan di lapangan," bebernya.
Kang Imam menegaskan pelanggaran terhadap aturan tersebut akan dikenai sanksi internal.
"Termasuk melarang membawa barang berbahaya, sajam atau miras, serta penggunaan atribut rasis," imbuhnya.
Untuk mendukung kelancaran acara, panitia menyiagakan sekitar 300 hingga 400 personel gabungan yang ditempatkan di sejumlah titik strategis.
Pengamanan melibatkan 60 pasukan inti yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan Pagar Nusa Jawa Timur, 102 personel, sekitar 180 personel tambahan dari masing-masing kecamatan, serta dukungan personel Banser NU.
Sementara itu, terkait materi ijazah spiritual yang akan diberikan dalam prosesi Ijazah Kubro, Kang Imam menyatakan keputusan sepenuhnya berada di tangan para kiai dan mujiz yang hadir pada hari pelaksanaan.
"Jadi sampai hari ini dari panitia belum bisa memastikan jenis ijazahnya. Cuma ada beberapa bocoran ijazah terkait seperti loloh pelor dan seperti itulah kurang lebihnya," pungkasnya.