Kisah Kades Gantung Rayu Bu Mus Tokoh Legendaris Laskar Pelangi Agar Mau Diinfus
Fitriadi June 27, 2026 03:34 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kepergian tokoh pendidikan legendaris, Bu Muslimah Hafsari binti A. Kadir, menyisakan cerita tersendiri bagi Kepala Desa Gantung, Arief Kusmaryadi.

Di balik kepasrahan keluarga, ada momen emosional saat Bu Muslimah berjuang meyakinkan sang guru untuk mendapatkan perawatan medis.

Bu Mus, begitu ia kerap disapa, meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Muhammad Zein, Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Sabtu (27/6/2026) dini hari sekitar pukul 03.30 WIB.

Baca juga: Buku Biografi A Story of Bu Muslimah Jadi Penghormatan Terakhir Tokoh Legendaris Laskar Pelangi

Dalam pembicaraan, Arief mengingat kembali memori pertengahan Juni 2026 lalu, tepatnya ketika ia mendampingi rombongan Bupati Belitung Timur untuk membesuk Bu Mus yang tengah terbaring di rumahnya.

Kala itu, malam terasa sunyi di Desa Gantung. Informasi yang diterima pihak desa menyebutkan bahwa tokoh inspirasi "Laskar Pelangi" tersebut sebenarnya sudah sempat dilarikan ke rumah sakit dan menjalani perawatan selama tiga hari.

FOTO KENANGAN - Deretan foto kenangan almarhumah Muslimah Hafsari binti A. Kadir atau Bu Mus semasa hidup yang terpajang di kediamannya di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Sabtu (27/6/2026). Sosok guru yang menginspirasi lahirnya kisah Laskar Pelangi tersebut dinyatakan berpulang dalam usia 74 tahun di RSUD Muhammad Zein setelah sempat mendapatkan perawatan intensif selama tiga minggu akibat sakit tumor yang dideritanya.
FOTO KENANGAN - Deretan foto kenangan almarhumah Muslimah Hafsari binti A. Kadir atau Bu Mus semasa hidup yang terpajang di kediamannya di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Sabtu (27/6/2026). Sosok guru yang menginspirasi lahirnya kisah Laskar Pelangi tersebut dinyatakan berpulang dalam usia 74 tahun di RSUD Muhammad Zein setelah sempat mendapatkan perawatan intensif selama tiga minggu akibat sakit tumor yang dideritanya. (Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha)

Namun, karena rasa rindu akan rumah, Bu Mus justru meminta kepada keluarga untuk pulang dan memilih beristirahat di rumah saja. 

"Waktu kami ke rumah beliau malam itu, kondisinya sudah sangat lemah. Beliau tidak mau makan, jangankan makanan berat, untuk memasukkan sedikit asupan saja susahnya luar biasa," ujar Arief kepada Posbelitung.co, Sabtu (27/6/2026). 

Baca juga: Kadindik Beltim Ungkap 4 Pilar Nilai yang Wajib Ditiru Para Guru dari Bu Mus Tokoh Laskar Pelangi

Melihat kondisi Bu Mus yang kian mengkhawatirkan, kecemasan melanda Arief dan rombongan. Terlebih, saat itu almarhumah bersikeras menolak dipasangkan selang infus. 

Arief pun sebagai kepala desa sekaligus warga yang menghormati Bu Mus langsung bergerak. Di dekat ranjang Bu Mus, ia perlahan memberikan kalimat agarBu Mus luluh.

"Bagaimana mau cepat sehat kalau tidak mau diinfus, kan begitu? Akhirnya malam itu kami bujuk pelan-pelan agar beliau bersedia dibawa kembali ke rumah sakit dan diinfus," ucapnya. 

Arief bahkan melontarkan sebuah kalimat menyentuh hati menggunakan bahasa daerah Belitung, menegaskan bahwa sosoknya masih sangat dibutuhkan oleh orang banyak.

"Waktu itu saya semangati beliau, 'Bu, kami ini agik butuhkan Ikam (kami ini masih membutuhkan Anda). Ikam harus kuat, Ikam harus sehat karena banyak orang yang memerlukan Ikam.' Alhamdulillah, mendengar itu beliau akhirnya bersedia dirawat," katanya. 

Setelah itu, Bu Mus akhirnya dibawa ke RSUD Muhammad Zein Manggar. Perkembangan kesehariannya terus dipantau oleh Arief, termasuk saat dirinya kembali membesuk pada tanggal 15 Juni 2026.

Saat itu, harapan sempat muncul karena Bu Mus mulai menunjukkan tanda positif. Almarhumah mulai bisa membuka mata dan kondisi kesehatannya berangsur membaik dari hari-hari sebelumnya.

Bahkan, sehari sebelum dikabarkan wafat, Arief sempat menghubungi putra Bu Mus, Uun yang bekerja di Dinas Pariwisata untuk menanyakan kondisi sang bunda setelah operasi.

"Kata anaknya setelah operasi itu sudah agak mendingan kondisinya. Makanya subuh tadi sekitar jam empat lewat, waktu dapat kabar beliau meninggal dunia, kami semua sangat terkejut dan kaget," kata Arief. 

Meski Bu Mus telah tiada, Pemerintah Desa Gantung tidak ingin melupakan jasanya. Arief mengungkapkan, mereka kini tengah merencanakan untuk mengenang ketokohan Bu Mus.

Satu di antara yang akan diusulkan adalah mengubah nama jalan di sekitar kediaman almarhumah menjadi namanya sebagai bentuk penghormatan. 

"Kami berencana mengusulkan agar jalan ke rumah beliau diubah menjadi Jalan Muslimah. Ini bagian dari cara kami menghargai ketokohan beliau yang sifatnya monumental," ungkapnya. 

Namun, langkah tersebut tentu memerlukan koordinasi kepada pemerintahan yang lebih tinggi. 

"Beliau sangat berjasa mengangkat nama Desa Gantung dan Belitung Timur ke panggung dunia. Sudah sepatutnya nama beliau abadi melintasi generasi," tutup Arief. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.